-->

Ramadhan datang, rakyat Sumatera masih dipengungsian


Oleh : Heni Satika (Praktisi Pendidikan)    
Kepala Satgas Pemulihan bencana, Tito karnavian menyatakan korban jiwa akibat bencana di Sumatera mencapai 1205 orang sedangkan pengungsi yang masih tinggal di tenda sebanyak 12.994 orang. 3 bulan berjalan pasca bencana masih banyak yang tinggal di tenda pengungsian. Bahkan di beberapa daerah mencapai 23 desa belum teraliri listrik. Beberapa tempat umum seperti pom bensin belum beroperasi. Kondisi ini menyebabkan warga belum bisa bekerja mencari kehidupan sehingga kehidupannya bergantung pada bantuan masyarakat.
Bantuan dari pemerintah dinilai lambat dan membutuhkan persyaratan bertele seperti KTP atau identitas. Padahal identitas penduduk sebagian besar hanyut bersama gelombang banjir. Tugas negara sebagai penjaga, pelindung dan pengatur rakyat dinilai kurang relevan. Model kepemimpinan yang kapitalistik mengedepankan pencitraan bukanlah solusi. Masing-masing pemimpin dan pejabat negara bergerak bukan karena dorongan kemanusiaan atau wujud tanggung jawab mereka sebagai pemimpin rakyat. Melainkan pencitraan politik untuk mencari nama sendiri-sendiri sehingga berpengaruh pada elektabilitasnya nanti di masa pemilu.

Bulan Ramadhan menjadi momentum naiknya keimanan sekaligus harga-harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat. Jika kondisi ini tidak segera ditangani maka ketahanan pangan akan menjadi rapuh. Efek lainnya bisa meningkat jumlah kriminalitas dan kejahatan. Fakta hari ini hubungan pemerintah dengan rakyatnya tidak lebih dari penjual kepada konsumennya. Ada uang ada pelayanan, tidak ada uang rakyat ditendang.
Ini berbanding terbalik dengan masa dimana khilafah yang menerapkan Sistem Islam menjadi pelindung bagi masyarakatnya tanpa memandang ras, agama dan warna kulit. Nafas system pemerintahan Islam adalah takwa kepada Allah SWT. Sehingga tujuan pemerintah adalah ibadah dan pelaksanaan hokum Allah. Maka segala kebijakan akan mengarah pada tujuan tersebut. System ini menyatu dengan segala aspeknya. Mulai ekonomi, pendidikan, politik semua bergerak dalam satu visi yaitu memenuhi panggilan Allah dan dalam rangka beribadah.

Suasana keimanan, mengharap ridho dan takut pada kemurkaan Allah menjadi jurus ampuh untuk saling menolong, memudahkan bahkan ini juga terjadi dalam system pelayanan negara kepada rakyatnya. Tidak ada kata anggaran terbatas atau habis untuk pemulihan bencana. Kebijakan anggaran dan SDM akan dikerahkan untuk pemilihan bencana secara cepat.
 
Berbeda sekali dengan system Demokrasi hari ini, karena paradigma berpikirnya adalah keuntungan. Maka penguasanya adalah oligarkhi, rakyat menjadi sapi peras. Bahkan dalam suasana bencana mereka masih berpikir untuk menjadikan kesempatan meningkatkan popularitasnya.