Perjuangan Kaum Muslim dalam Mengembalikan Kehidupan Islam
Oleh : Asha Tridayana
Bukan hal baru jika Amerika Serikat (AS) dapat dengan mudah menyingkirkan pihak yang tidak sejalan dengan kepentingannya. Seperti Iran yang dianggap tidak lagi menguntungkan bahkan menjadi ancaman bagi AS lewat program senjata nuklirnya. Sebagai negara adidaya, AS semakin memperlihatkan kewenangannya menguasai dunia hingga negara-negara pengikutnya bertekuk lutut mengikuti perintahnya. Termasuk negara-negara Islam yang sampai sekarang tidak memberikan perlawanan atas genosida Palestina oleh Israel. Mereka memilih diam seolah tidak berdaya melihat saudara seakidahnya dibombardir tanpa henti.
Tidak hanya itu, saat Iran melakukan serangan balasan dengan menyerang Tel Aviv di Israel dan negara Teluk seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) karena menampung pasukan militer AS justru AS bersama sekutu Arabnya mengutuk Iran. Dengan alasan serangan Iran tersebut telah membahayakan penduduk sipil, merusak infrastruktur dan wilayah kedaulatan bahkan mengancam stabilitas regional. Sementara tiga sekutu dekat AS yakni Jerman, Inggris dan Prancis juga menyatakan kesiapannya untuk bergabung dan bekerja sama dengan AS demi mengamankan kepentingan mereka di Timur Tengah (www.cnbcindonesia.com 02/03/26).
Kebrutalan AS dan Israel semakin menambah derita kaum muslimin. Rakyat Palestina belum juga terbebas dari serangan Israel ditambah negara-negara Arab justru menjadi sekutu AS dan menolak membela Palestina. Apalagi disaat bulan Ramadan yang semestinya kaum muslimin bersama-sama menjalankan ibadah malah masih terpecah belah. Tersekat-sekat oleh status negara bangsa yang menjadikannya tidak peduli dengan kondisi negara muslim lain seperti Palestina.
Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi momen latihan menahan diri dari rasa lapar dan haus serta mengendalikan hawa nafsu saja. Namun juga menjadi bulan perjuangan bagi umat Islam. Di bulan penuh keberkahan ini, kaum muslim mesti berupaya semaksimal mungkin dalam mewujudkan persatuan dan mengembalikan kehidupan Islam yang sampai sekarang belum tercapai. Tidak lain kemenangan hakiki yang membawa umat Islam dalam kegemilangan dan terbebas dari segala bentuk penjajahan.
Hal ini membutuhkan kesadaran seluruh kaum muslimin hingga memahami bahwa perjuangan yang dilakukan berdasarkan ideologi Islam. Tidak hanya perjuangan yang bersifat praktis dan pragmatis yang hanya menyentuh permukaan, akhirnya tidak bertahan lama. Bahkan tidak mampu membawa pada perubahan malah sering kali kaum muslim menjadi lelah dan jenuh karena bermunculan masalah baru. Semestinya perjuangan didasarkan pada akar persoalan sehingga beragam upaya yang dilakukan tidak sia-sia.
Apalagi posisi politik umat Islam saat ini masih dalam kemerosotan dan selemah-lemahnya keadaan. Terlihat dari mayoritas kaum muslim sendiri tidak menyadari keterpurukannya. Mereka terbiasa jauh dan merasa asing dengan syariat Islam. Padahal Allah swt telah memberikan predikat bahwa kaum muslim sebagai umat terbaik. Namun, penjajahan oleh Barat telah merenggut kemuliaan umat Islam dan meracuni pemikirannya hingga Islamfobia merebak di kalangan umat Islam.
Selain itu, sejatinya jumlah sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alama (SDA) umat Islam sangat besar. Bahkan menjadi mayoritas di setiap negara. Kemudian posisi geopolitik dan geostrategis wilayah juga memiliki potensi terbentuknya penerapan Islam sebagai ideologi. Namun, kesadaran menyeluruh kaum muslim belum terbentuk secara utuh sehingga potensi yang dimiliki belum dapat direalisasikan. Malah dimanfaatkan oleh Barat untuk semakin mengkotak-kotakannya dalam rangka mencegah persatuan umat Islam.
Oleh karena itu, upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kehidupan Islam tidak cukup jika per individu saja ataupun berjamaah tanpa dasar ideologi Islam. Umat membutuhkan kelompok partai politik Islam ideologis yang sahih. Partai politik yang konsisten dan berkomitmen untuk mengemban Islam tanpa tercampur pemikiran asing. Partai politik yang terus berjuang di tengah kemerosotan berpikir umat, sekalipun banyaknya tantangan yang mengancam dan beragam hambatan yang menuntut pengorbanan baik tenaga, waktu, materi hingga keselamatan dipertaruhkan.
Keberadaan partai politik senantiasa membangun kesadaran politik ideologis umat dengan Islam kaffah. Hal ini menjadi prioritas dakwah yang akan terus dilakukan. Tanpa adanya kesadaran politik maka perjuangan rakyat tidak akan pernah sampai pada tujuan yakni penerapan Islam kaffah secara menyeluruh. Dengan Islam kaffah, persoalan demi persoalan akan terselesaikan bahkan akan mengembalikan posisi kaum muslim sebagai umat terbaik.
Sehingga dapat dikatakan bahwa menjadi urgensitas bersama untuk terus membangun kesadaran umat akan kebutuhan tegaknya persatuan hakiki. Yakni persatuan dibawah satu kepemimpinan institusi khilafah. Inilah yang harus terus diperjuangkan umat Islam bersama partai politik ideologis yang tulus demi izzul Islam wal muslimin. Bukan partai politik semu yang justru menjauhkan umat Islam dari kebangkitan hakiki bahkan semakin menjatuhkan umat Islam dalam jurang kesengsaraan.
Terlebih Ramadan dan Idul fitri yang baru saja menjadi momen istimewa umat Islam dapat menjadi titik awal untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan dan kesatuan umat Islam. Karena di bulan Ramadan dan Idul fitri, umat Islam dapat merasakan keutuhan dan kenikmatan menjalankan syariat Islam. Dengan begitu akan terus berupaya mewujudkan harapan agar tahun ini menjadi tahun terakhir, umat Islam menjalankan ibadah tanpa naungan khilafah sebagai satu-satunya institusi yang menerapkan Islam kaffah.
Wallahu'alam bishowab.

Posting Komentar