Pergaulan Pemuda Berujung Maut, Islam Hadir sebagai Solusi
Oleh : Alimatul Mufida (Mahasiswa)
Dikutip dari detik.com 28/2/2026 Terjadi kasus pembacokan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau oleh seorang mahasiswa kepada mahasiswi yang sedang menunggu sidang proposal. Pelaku sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan dirawat. Motif diduga terkait persoalan pribadi setelah penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN, yang berujung pada aksi penyerangan di kampus. Ini hanya satu kasus yang terkuak dari banyaknya kasus serupa. Banyak sekali kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang terjadi antar pemuda hanya karena masalah kecemburuan, ditolak cintanya, dan hal remeh lainnya.
Perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan hingga berujung pada pembunuhan memang seringkali berawal dari pergaulan bebas, ini menunjukkan kegagalan di setiap lapisan bukan hanya pada lingkup individu yang kurang adanya kesadaran akan tujuan penciptaan, tetapi ini berawal dari pondasi keluarga yang tidak utuh, anak-anak yang merasakan ketidakhadiran keluarga cenderung mencari kenyamanan di luar, saat mereka mencari kenyamanan di luar mereka hanya akan diperparah oleh lingkungan yang tidak saling mengingatkan dalam kebenaran. Alih-alih mendapatkan kenyamanan berupa nasehat keimanan mereka hanya mendapatkan lingkungan yang merasakan hal yang serupa satu sama lalin. Mereka tidak mendapatkan kebenaran melainkan kemudahan dalam berbuat keburukan. Anak-anak yang beranjak remaja akan merasakan kenyamanan semu saat berinteraksi dengan lawan jenis yang mengarah pada zina. Ditambah kegagalan pada sistem pendidikan sekuler dalam membentuk generasi berkepribadian mulia, sistem pendidikan yang sama sekali tidak berorientasi pada manusia yang memiliki karakter dan kepribadian islam, melainkan kesuksesan yang berorientasi pada materi.
Sekularisme membentuk standar kebebasan pada manusia, secara harfiah sekularisme berarti agama tidak boleh ikut campur dalam kehidupan. Agama hanya boleh mengatur pada aktivitas antara manusia dengan Tuhan bukan mengatur aktivitas antar manusia apalagi hingga sampai tatanan negara. Jika agama dilarang ikut campur maka artinya manusia dibiarkan bertindak semaunya, padahal manusia itu sangat lemah, tergesa-gesa, rakus, mudah tergelincir, dan seringkali melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Maka sudah seharusnya manusia hidup berdampingan dengan aturan yang Allah berikan bukan mengadopsi aturan yang dibuat oleh manusia itu sendiri, bukannya selamat malah sengsara.
Saat aturan Allah tidak ditegakkan maka akan terjadi normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan, dll) di tengah keluarga dan masyarakat. Ini akan berdampak besar dalam mengubah perilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan. Negara dengan sistem kapitalisme-sekuler dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Maka tidak heran jika pemuda sekarang mungkin bagus secara intelektual tetapi sangat minim adan dan akhlak.
Lain dengan sisem pendidikan Islam yang dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai nilai syariat). Generasi dididik agar memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan. Selain itu masyarakat juga terkondisikan saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Negara Khilafah menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat. Untuk menghasilkan generasi yang cemerlang tidak cukup hanya peran orang tua, tetapi juga masyarakat yang terkondisikan, ini akan hanya tercapai jika aturan Islam diterapkan secara sempurna di seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a'lam bis shawwab

Posting Komentar