-->

PENYESATAN OPINI BOP DEMI KEPENTINGAN PALESTINA


Oleh : A. Salsabila Sauma

Telah dua tahun berlalu sejak Badai Al Aqsa dilakukan untuk membebaskan rakyat Gaza dan Palestina. Tindakan genosida yang dinilai sebagai “balasan” itu telah membunuh lebih dari 72.000 ribu jiwa rakyat Palestina dan jutaan orang terpaksa harus mengungsi ke berbagai tempat.

Hingga kini, sikap Amerika Serikat yang disebut sebagai polisi dunia pun tetap diam dan malah condong membantu. Dukungan terbaru diikuti dengan deklarasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat _Board of Peace_ atau Dewan Perdamain Dunia. Komite yang dinyatakan sebagai organisasi pendamai antara Israel – Palestina ini justru terlihat sebagai batu loncatan untuk kembali menjajah wilayah Palestina secara legal.. Rencana ini semakin difokuskan setelah BoP kembali membuat keputusan sepihak dengan membuat Komite Administrasi Gaza.

DIBALIK KOMITE NASIONAL ADMINISTRASI GAZA

Pemebentukan National Committee for The Administration of Gaza (NCAG) atau Komite Nasional Administrasi Gaza ini disebut sebagai implementasi Fase Dua Rencana Komprehensif untuk mengakhiri konflik Gaza. Badan ini beroperasi di bagian bawah struktur BoP yang juga dibentuk dan dipimpin Trump. (cnnindonesia)

Ketua NCAG, Ali Shaath menyatakan bahwa NCAG telah memiliki prioritas kebijakan yang akan diterapkan di Gaza. Pertama, Saath menuturkan NCAG akan fokus mengembalikan keamanan di Jalur Gaza setelah hancur dilanda perang imbas agresi brutal Israel sejak Oktober 2023 lalu. Kedua, NCAG akan mulai memulihkan aktivitas ekonomi dan kehidupan warga Gaza dengan membuka lapangan pekerjaan terutama bagi generasi muda. Ketiga, NCAG akan menjamin pemulihan bantuan darurat berkelanjutan (ensure sustainable emergency relief) dan terakhir, memulihkan pelayanan publik dasar termasuk listrik, air, kesehatan, dan pendidikan. (cnnindonesia)

Pembentukan NCAG juga disebut-sebut bertujuan untuk menggantikan pemerintahan Hamas dengan pemerintahan teknokratis. NCAG juga dilaporkan akan mengawasi proses pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum dan satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata setelah melalui proses verifikasi yang ketat. (cnnindonesia)

TUJUAN AMBIGU

Dilihat dari narasinya pun, tujuan NCAG jelas ambigu dan menyesatkan. Sejak awal ini bukan konflik gaza melainkan kolonialisasi dan pembersihan etnis yang dilakukan Israel terhadap rakyat Gaza dan Palestina. Segala hal kebijakan perdamaian untuk masalah ini harusnya mengarah pada masalah tersebut bukan malah langsung kea rah rekontruksi. Kalau seperti itu, jelas terlihat pembentukan komite ini justru menahan hak merdeka rakyat Gaza dan malah jadi pembelaan legal terhadap penjajahan yang dilakukan Israel.

Prioritas yang dijabarkan Donald Trump atau pun Ali Shaath tidak benar-benar menyentuh akar masalahnya. Solusi yang disebutkan hanya bersifat pragmatis dan wacana manis belaka. Dunia sudah melihat masalah utama ada pada Israel. Seharusnya mereka yang dituntut dan dibenahi, bukan malah terus merecoki Gaza dan Palestina.

Apabila melihat dari sisi rakyat Palestina pun mereka skeptis terhadap rencana ini. Krisis yang terjadi di Gaza dan Palestina sampai saat ini merupakan akibat ulah tentara maupun penduduk Israel yang terus melanggar perjanjian damai. Penduduk Palestina masih diperlakukan semena-mena dan tidak memiliki tempat untuk berlindung dari kekejaman yang melanggar hak asasi manusia. Kemudian keberpihakan Pemerintahan Amerika Serikat akan selalu pada Israel, terutama pada kebijakan politik dan militer, jelas-jelas akan menguntungkan sisi Israel saja.(lapan6online)

WUJUD ASLI PENGKHIANAT DAN PERSATUAN UMAT

Amerika Serikat dan Israel merupakan negara kafir yang bersekutu untuk menguasai dunia dengan penjajahan politik, ekonomi maupun militer. Trump kerap kali melakukan tekanan ekonomi, memerintahkan serangan tkepada negara lain dengan alasan “adanya senjata pemusnah massal”, dan merecoki urusan negara lain dengan upaya perubahan rezim. Hal ini bisa dilihat buktinya melalui sejarah perang Amerika – Irak dan yang terkini perang Amerika/Israel – Iran. Donal Trump, sebagai presiden Amerika Serikat, merasa berhak terlibat dalam pergantian kepemimpinan di Iran. Dari sana terlihat jelas bahwa segala kebijakan yang ditawarkan akan mengarah pada kerusakan dan kehancuran, bukan kedamaian apalagi kesejahteraan.

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya mengkritisi semua solusi yang datang dari manusia. Umat muslim dilarang mendukung apalagi turut langusng menyetujui kebijakan dari negara kafir. Islam seharusnya datang untuk melawan, dan untuk bisa melawan kekuatan penjajah, umat harus bersatu. Masalah utama kenapa umat sulit bersatu adalah kurangnya pemahaman terhadap Islam itu sendiri. Islam bukan sekadar akidah. Ia adalah kepemimpinan berpikir yang harus dimiliki setiap umat muslim. Jadi kita harus berdiri di atas ideology Islam sendiri, bukan mengikuti ideologi dan permainan negeri Barat.

Dengan begitu, umat Islam jadi memiliki prinsip dalam membela rakyat Gaza dan Palestina dan melawan penjajahan yang dilakukan negeri Barat, terkhusus Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, persatuan umat ini juga akan berujung pada inti masalah dunia ini, yakni pembebasan Baitul Maqdis. Oleh karena itu, penting untuk disadari oleh seluruh umat Islam bahwa kejadian ini bukan konflik antar negara, melainkan perang yang lebih besar. Perang antara Ideologi Islam dan selain Islam. Apabila kita sudah memahami akar permasalahan ini, kecil kemungkinan umat muslim akan temakan dengan narasi bohong Barat.
09
Wallahu’alam bi showab