-->

Panic Buying BBM dan Urgensi Kedaulatan Energi


Oleh : Arianne

Panic buying BBM terjadi di banyak negara karena konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas. Konflik ini membuat orang khawatir pasokan energi terganggu, sehingga harga minyak dunia naik tajam. Akibatnya, banyak masyarakat membeli BBM dalam jumlah besar karena takut terjadi kelangkaan atau harga makin mahal. Hal yang sama juga mulai terlihat di Indonesia, seperti di Medan, di mana sebagian warga membeli BBM berlebihan karena khawatir dampak konflik akan terasa di dalam negeri. Padahal, stok BBM Indonesia dilaporkan masih aman, meskipun cadangannya tidak terlalu lama dibanding negara lain di ASEAN. Pemerintah pun menegaskan masyarakat tidak perlu panik dan diminta membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi tetap stabil, terutama menjelang Lebaran.

Hegemoni Kapitalisme

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasokan energi dunia menjadi tidak pasti, sehingga memicu kenaikan harga dan kekhawatiran global. Kondisi ini menunjukkan bahwa BBM adalah komoditas strategis yang sangat berpengaruh pada ekonomi, sosial, dan politik. Ketika pasokan terganggu atau dianggap akan langka, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor, seperti transportasi dan harga barang. Meskipun stok sebenarnya masih aman, persepsi krisis di masyarakat dapat memicu kepanikan dan tekanan ekonomi. Selain itu, ketergantungan pada impor energi membuat suatu negara menjadi rentan terhadap gejolak global dan memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi dunia saat ini dapat menciptakan ketergantungan yang merugikan negara berkembang.

Solusi Islam

Kondisi ini menunjukkan pentingnya kedaulatan energi agar negara tidak mudah terdampak krisis global. Dalam pandangan Islam, energi termasuk kebutuhan dasar yang harus dijamin negara untuk rakyat. Sumber daya alam seperti minyak dan gas dipandang sebagai milik umum yang harus dikelola negara dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan pengelolaan yang adil, kelangkaan dan kepanikan dapat dicegah. Di sisi lain, banyak negara Muslim memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun belum sepenuhnya dinikmati rakyat karena pengaruh sistem global yang eksploitatif. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang berpihak pada rakyat agar kekayaan tersebut benar-benar membawa kesejahteraan dan mengurangi ketergantungan pada pihak luar.