-->

Bertahan di BOP, Kedaulatan Tergadai


Oleh : Ida Nurchayati

Desakan untuk keluar dari Board of Peace (BoP) menguat pasca serangan AS- Israel ke Iran. Tindakan brutal AS dinilai tidak sejalan dengan jargon perdamaian yang digaungkan AS. Seruan datang dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh masyarakat, hingga anggota DPR. Berbagai pihak sepakat bahwa posisi Indonesia dalam Dewan Perdamaian kini dipertanyakan, terutama setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dianggap melanggar hukum internasional dan merusak perdamaian dunia (www.kompas.id, 4/3/2026).
Meski mendapat tekanan dari publik, Prabowo menyatakan tidak mau gegabah keluar dari BoP untuk menjaga jalur diplomasi perdamaian. Pemerintah masih memanfaatkan forum tersebut sebagai wadah diplomasi merundingkan perdamaian dan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah sebelum mengambil tindakan lebih lanjut (sindonews, 6/3/2026).

Kedaulatan Tergadai

Perdamaian yang selalu didengungkan AS sebagai negara adidaya hanyalah ilusi. AS sebagai inisiator pembentukan BoP, faktanya justru menjadi agresor negara lain yang berdaulat. Bukan menciptakan perdamaian dunia justru mengobarkan perang.

BoP dibawah kendali Trump mustahil berhasil mewujudkan perdamaian karena dia sendiri aktor peperangan. Ketua BoP adalah AS itu sendiri, sementara Indonesia sebagai negara pengikut tidak memiliki kekuatan untuk menentukan arah BoP, melainkan hanya sekedar ikut rencana AS. Maka bisa dipastikan keberadaan Indonesia dalam BoP hanya sekedar boneka sekaligus pelayan setia bagi negara adidaya tersebut.
BoP adalah proyek kolonial AS untuk menguasai tanah Palestina, serta melucuti persenjataan Hamas. Sementara Hamas adalah benteng terakhir yang selama ini gigih mempertahankan Gaza. Keberadaan BoP akan menghentikan secara permanen perlawanan rakyat Gaza. Bahkan AS telah merancang untuk mengusir penduduk Gaza untuk ditampung dinegara- negara yang mau menerima seperti Indonesia. 

Bila dikaji secara mendalam, BoP adalah instrumen geo poltik dibawah kendali AS. BoP adalah instrumen untuk merekonstruksi Gaza. AS berupaya menggeser dominasi PBB dan sebagai sarana memusatkan kekuasaan global ditangan Trump. AS meninggalkan PBB karena selama ini ada hambatan, yakni hak veto Rusia dan China dalam Dewan Keamanan PBB. Maka bisa dipastika BoP adalah alat Trump untuk melanggengkan penjajahan Israel atas wilayah Palestina.
Sikap Penerintah yang masih bertahan di BoP pertanda Indonesia berada dalam hegemoni AS, artinya Indonesia terjajah secara politik. Keikutsertaan Indonesia dalam BoP tidak akan berpengaruh secara substansial terhadap kemerdekaan Palestina. Karena struktur BoP sejak awal didominasi oleh Amerika.

Solusi Hakiki

Berharap Palestina merdeka dengan perantara BoP adalah ilusi. Justru makin mengokohkan penjajahan Israel atas Palestina. Maka bertahan dalam BoP hukumnya haram karena bentuk pengkhianatan terhadap saudara seiman di Gaza.  

AS sejatinya adalah penjajah yang berkamuflase menjadi "juru damai." Sepak terjang AS selama ini berlumuran darah kaum muslim. AS melakukan invasi di Afganistan, Irak, Libya, Suriah dan Sudan. Padahal Allah melarang orang mukmin memberikan loyalitasnya pada orang kafir. Allah berfirman dalam Surat An Nisa' 141, artinya,

'Allah sekaki-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum Mukmin'
Satu-satunya solusi bagi pembebasan Palestina adalah dengan mengirimkan tentara untuk berjihad mengusir Israel di bawah komando seorang Khalifah. Ketika saudara-saudara seiman diperangi, maka wajib membela dan menolongnya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah 191 yang artinya,

"Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian"

Maka sudah seharusnya penguasa dinegeri-negeri muslim mengirimkan tentaranya untuk mengusir penjajah Israel dari tanah kharajiyah, tanah milik kaum Muslim, Palestina. Sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ra dan Salahuddin al Ayyubi.
Membebaskan Palestina tidak hanya berhadapan dengan Israel, tapi berhadapan dengan AS yang membesarkan Israel, Inggris yang melahirkan Israel dan sekutunya Bangsa Eropa. Maka kekuatan yang bisa menghadapi mereka adalah negara adidaya yang mengemban mabda Islam, yakni khilafah Islamiyah. Maka agenda utama umat Islam sedunia saat ini adalah bersatu mewujudkan Khilafah sebagai pembebas Palestina. Keberadaan khilafah akan melindungi negeri-negeri kaum muslim dari agresor Yahudi dan Nasrani. Perisai yang akan melindungi setiap jiwa, darah, kehormatan dan tanah kaum Muslim. Nabi SAW bersabda, 

"Imam (khalifah) adalah perisai. Dibelakang dia kaum Muslim berperang dan berlindung (HR al- Bukhari Muslim)

Wallahu a'lam