Panic Buying BBM dan Urgensi Kedaulatan Energi
Oleh : Khusnul. H
Panic buying bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah negara di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Kekhawatiran gangguan pasokan minyak, terutama setelah penutupan Selat Hormuz, mendorong masyarakat di berbagai negara berbondong-bondong mengisi penuh tangki kendaraan. Bagaimana dengan Indonesia? Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketahanan BBM nasional dalam kondisi aman. Stok BBM saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari."Masih cukup 20 hari," kata Bahlil, Senin (2/3). (cnnindonesia.com, 05/03/2026)
Antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (6/3/2026). Warga rela mengantre lebih dari satu jam karena khawatir pada kabar tentang kelangkaan stok bahan bakar minyak akibat perang Timur Tengah. Namun, Pertamina memastikan stok dan distribusi bahan bakar minyak di wilayah Sumatera Bagian Utara atau Sumbagut masih aman. (kompas.id, 06/03/2026)
Dengan adanya perang AS-Israel vs Iran mengancam pasokan BBM ke sejumlah negara2 di dunia termasuk Indonesia, dengan kondisi yang masih tidak menentu akan hasil akhir serta efek dari perang tersebut yang mengakibatkan terjadi panic buying BBM oleh masyarakat dunia. Karena di era kapitalis ini semua serba tidak menentu, ynag semula dikatakan aman bisa jadi sulit dan langka sehingga harga melambung itu sangat mungkin. Sistem ini yang mencetak kondisi demikian, jadi sangat wajar kalau masyarakat yang mampu memilih untuk mencari pengamanan kondisi pribadi dan keluarganya membeli banyak BBM untuk persediaan.
Mengingat BBM adalah komoditas strategis, sehingga ketika terjadi kelangkaan bisa menimbulkan gejolak ekonomi, sosial dan politik. Hal inilah yang tidak diharapkan oleh masyarakat, karena masyarakat selalu jadi pihak yang tertimpa dalam kondisi apapun tanpa bisa mengelak lagi. Maka kondisi yang tidak menentu ini, pemerintah memberikan rasa aman dengan bukti nyata. Bukan hanya ucapan atau janji yang buktinya masih dipertanyakan. Sehingga harusnya negara berusaha sedemikian rupa membuktikan ketahanan bahan bakar tanpa harus tergantung dengan negara atau sumberdaya dari negara lain. Bukankah negara kita kaya akan sumberdaya alam, ada batubara, ada gas alam, ada sumur minyak. Dari sumberdaya alam yang ada baik hayati maupun non hayati semua bisa diberdayakan untuk ketahanan bahnabakar dalma negri.
Kedaulatan energi menjadi faktor penting untuk stabilitas politik ekonomi suatu negara. Negara kita bukan negara miskin dan rakyat yang bodoh, bahkan sebaliknya kita kaya akan sumberdaya alam dan kaya akan tenaga ahli yang kalau diberdayakan dan diapresiasi serta di danai bisa untuk mensejahterakan negri. Tak perlu bergantung pada negara lain kita mampu dan bisa harusnya memiliki ketahanan bhaanbakar dalam negri. Sayang semua itu banya mimpi, banyak karya anak negri yang di mutilasi demi kapitalisme yang akhirnya mereka dibeli dan didanai oleh luar negri. Bukan salah anak negri tapi kapitalismelah biang keroknya. Seandainya kita tidak menganut sistem kapitalisme mungkin kondisinya akan jauh berbeda.
Karena fakta yang terjadi adalah kapitalisme global mengeksploitasi sumber daya energi dari negara-negara lemah untuk dibawa kenegara para investor. Para investor yang meraup keuntungan ekonomi dan menciptakan ketergantungan energi sebagai alat penjajahan ekonomi saat ini dalam ekonomi kapitalis. Dan negara-negara lemah itu tidak bisa berbuat apaun kecuali hanya pasrah dan bahkan snagat senang dan bangga saat sumberdaya alam mereka dieksploitasi. Seolah itu adalah kehormatan yang luarbiasa, padahal mereka hanya dikasih pajaknya dan tidak merasakan hasil dari sumberdaya mereka sendiri. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena negara sudah terlanjur terikat dengan perjanjian-perjanjian yang ditandatangani oleh penguasa negri ini. Dan hal itu dilakukan secara sistematis oleh negara-negara yang berkepentingan dengan segala macam tekanan yang membuat tidak ada pilihan kecuali hanya bisa terpaksa menerima dan bangga. Entahlah kenapa terus seperti ini?
Kalau kita menengok kedalam sistem islam. Akah berbeda jauh. Dimana kedaulatan energi dalam negri adalah sesuatu yang penting dan urgen. Karena ketika sebuah negara tidak memiliki kedaulatan energi seperti saat inj akan menyebabkan kondisi ekonomi, politik dan sosial negara akan terganggu. Kita tergantung dengan negara lain, dan ketika ada perubahan kondisi di negara laian akan sanggat mempengaruhi ketahanan negeri kita. Bahkan ketika kita bergantung dengan negara lain dlaam satu bidang saja misalnya, akan sangat mudah bagi pihak lain memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengendalikan negara kita baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Inilah yang tidak kita harapkan. Maka dengan sistem islam kita diajarkan menjadi negara ynag berdualan penuh dalam segala bidang. Agar kita kokoh berdiri tanpa bergantung dengan negara manapun, dan ketika ada negara lain hendak mengendalikan kita bisa menolak atau bahkan bisa mengertak mereka tanpa harus merasa takut. Inilah yang menjadikan negara kita disegani oleh negara lain. Dan ini pernah terwujud dulu saat sistem islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dimana kebijakan politik Khilafah Islam dalam mengelola sumber daya alam termasuk tambang sangat rinci dan detail seperti aturan yang ada dalam syariat. Status kepemilikan, pengelolaan, distribusi dalam negara sangat jelas dan transparan. Sehingga ketika terjadi penyelewengan atau kecurangan akan mudah ditangani dan diaudit. Selain itu sumber tenaga ahli dari anak negri yang luar biasa juga banyak dan diapresiasi serta dibiayai sepenuhnya oleh negara. Agar mereka bisa menciptakan karya terbaik untuk memajukan negri dan mencapai ketahanan dalam negri. Dan jika ketahanan negeri didapat maka kedaulatan negrilah yang akan kita capai. Kita tidak bergantung dengan negara manapun dan kita independen dalam segala bidang, tanpa campur tangan negara lain.
Maka sangat penting bagi kita untuk menyadari kondisi yang ada, dan betapa pentingnya umat Islam untuk memahami bahwa kekayaan negeri-negri muslim sangat besar sekali. Dengan sumber daya alam yang berlimpah ini semestinya bisa menyejahterakan seluruh rakyat tanpa terkeculai. Hanya dengan menggunakan sistem islam maka ketahanan negeri dan kedaulatan negara bisa terjaga. Maka kita sebagai umat islam jagan hanya berbangga diri dan berdiam diri melihat keterpurukan negeri ini. Kita harus mempersiapkan diri untuk menjadikan negeri ini bisa bertahan dalam segala bidang bukan bergantung dengan orang lain. Kita itu kaya, maka harusnya kekayaan itu kita keloka sendiri jangan diberikan begitu saja kepada investor asing. Kita punya tenga ahli yang pandai dan luar biasa, harusnya dimanfaatkan dan didanai agar bisa memajukan negeri dengan sebaik-baiknya jangan malah dipinggirkan dan diabaikan.
Penjajahan kapitalisme global yang mengeruk kekayaan negeri-negeri Islam harus dihentikan dengan menegakkan kembali syariat Islam. Kalau kita tidak berpindah menggunakan sistem islam kita akan terus terikat dan dikekang dengan kapitalisme global. Sangat disayanhkan bila hal ini terus terjadi, kita kaya tapi kita dibuat misakin dan bergantung kepada negara lain. Kita harus berani melawan dengan meninggalkan sistem kapitalis dan menerapkan sistem islam dalam negeri. Hanya dengan itu kapitalisme akan hancur, ketika semua negri muslim meninggalkan sistem yang menyusahkan dan memperbudak kita.
Dalam siatem kapitalis kekayaan kita yang dijarah dan diambil serta dikuasai, kita dijadikan budak kapitalis dan hidup serba kekurangan. Yang harusnya kekayaan itu kita nikmati, tapi dimabil oleh orang lain kita dima saja. Maka sudah saatnya kita bangkit, menggambil semua hak kita agar kita bisa meniadi negara yang bedaulat penuh dan memiliki ketahanan dalma negeri disemua aspek kehidupan. InsyaAllah.

Posting Komentar