-->

Liberasisasi Naluri Kasih Sayang Bisa Mengincar Nyawa


Oleh : U Diar

Civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau digemparkan oleh aksi kekerasan brutal pada Kamis pagi (26/2/2026). Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan di area Fakultas Syariah dan Hukum, yang menyebabkan kepanikan luar biasa di lingkungan kampus. Korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah setelah diduga diserang oleh seorang pria yang juga merupakan mahasiswa kampus tersebut. [1]

Kasatreskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian Diansyah mengatakan pihaknya masih mendalami motif dan kronologi lengkap peristiwa berdarah tersebut.

“Pelaku sudah diamankan dan saat ini sedang dilakukan pemeriksaan intensif. Kami juga telah menyita barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan pelaku,” katanya. Dugaan sementara, aksi nekat tersebut dipicu persoalan pribadi. Berdasarkan keterangan awal, pelaku diduga memiliki perasaan cinta terhadap korban, tetapi cintanya ditolak. [2]

Peristiwa dengan inti persoalan serupa juga pernah terjadi beberapa bulan sebelumnya. Sakit hati karena cintanya ditolak, menjadi alasan Lukas Budi Widodo (54 tahun) menghabisi nyawa kekasihnya RI (38 tahun) dengan cara kejam. Pelaku membunuh RI di rumah kontrakannya di Mejing Wetan, Gamping, Sleman, Selasa (4/11/2025). Satu jam setelah kejadian, pelaku yang merupakan warga Ngemplak, Sleman diringkus polisi saat bersembunyi di makam orang tuanya. [3]

Berita yang terangkat media ini mungkin hanya satu dari sekian fakta di masyarakat yang terungkap. Namun terbukanya kasus seperti ini setidaknya memberikan banyak pelajaran bagi siapapun yang masih peduli pada nasib generasi. Di antaranya: Pertama, persoalan nyawa seakan dipandang sebagai hal yang tidak begitu penting. Nyawa seseorang dianggap layak hilang jikalau dengan hal itu menenangkan dan menyembuhkan sakit hati seseorang. Fenomena seperti ini terbaca sebagai gejala sakitnya pola pikir dan pola sikap generasi. Hanya karena urusan emosi negatif, berujung pada ketidakmampuan mengendalikan diri yang berimbas pada meruginya orang lain. 

Pola pikir yang belum dewasa dan memahami bahwa nyawa adalah pemberian Allah, membuat sikap sembrono dalam memperlakukannya. Apalagi jika dalam pola pikir tersebut terkontaminasi "bisikan" liberal yang mengedepankan kebebasan dalam betingkah laku, maka sikap merugikan orang lain dianggap tidak masalah dengan pembenaran bahwa sikap itu adalah bagian dari kebebasan bertingkah laku. Padahal di sini adalah titik kritisnya.

Kebebasan yang lepas tanpa batasan ala ajaran kapitalis liberal ini menjadi penjegal nyata bagi potensi generasi yang semestinya diarahkan menjadi generasi patuh dan disiplin. Termasuk di dalamnya patuh pada norma agama, terlebih IsIam yang mengajarkan bahwa kebebasan manusia itu sesungguhnya terikat pada kepatuhan untuk menjalankan aturan hidup yang Allah berikan. Aturan terbaik dari zat yang Membuat manusia dan alam raya, yang pasti tidak akan menimbulkan kerugian satu sama lain jika dijalankan. 

Kedua, saat ini persoalan cinta banyak disalah artikan sebatas cinta terhadap lawan jenis. Antara laki-laki dan perempuan yang saling suka, bebas berikrar saling memiliki walaupun tanpa status halal, dan bebas berbuat apapun untuk saling mengekspresikan rasa di antara keduanya. Paparan liberalisme yang telah menyusup di keseharian generasi saat ini pada akhirnya lagi-lagi membuat pengekspresian kepemilikan belum halal tersebut melebihi pasangan yang halal.

Namun sayangnya seringkali tidak disertai rasa tanggung jawab yang utuh. Berani berbuat tapi tak berani bertanggung jawab. Jika muncul kehamilan atau kelahiran tak diinginkan sebagai akibat dari pergaulan bebasnya, tak jarang opsi aborsi atau membuang bayi yang gantian naik ke halaman berita. Dan sekali lagi ini adalah buah dari sakitnya pola pikir dan pola sikap di tengah generasi saat ini. 

Setiap manusia pada hakikatnya memang diberikan naluri kasih sayang. Penampakan naluri tersebut di antaranya adalah rasa senang dan nyaman dengan dekat kepada kedua orang tua, rasa gemes dan bahagia jika berhadapan dengan anak kecil yang manis lucu, rasa simpati kepada orang lain yang sedang kesulitan, rasa tanggungjawab untuk saling mengingatkan orang lain agar tidak berbuat maksiat, rasa suka kepada lawan jenis yang parasnya menawan, dan sebagainya. Artinya ekspresi dari naluri ini sangat luas, sehingga semestinya diatur dengan tepat agar tidak salah dalam memenuhinya. 

Sebagai agama yang sempurna dari Allah, Islam telah memiliki pandangan khusus terkait naluri ini. Islam menerangkan bahwa naluri kasih sayang adalah salah satu potensi pada diri manusia yang pemenuhannya tidak bisa diserahkan kepada masing-masing kepala manusia. Sebab jika demikian adanya, pasti akan pahir berbagai macam persoalan, pertentangan, perselisihan, yang ujung-ujungnya justru tidak menampakkan adanya kasih sayang dari naluri itu sendiri. Dalam kacamata Islam, naluri lahir karena dipicu oleh faktor dari luar tubuh manusia. Misalnya karena terinspirasi apa yang dia lihat, apa yang biasa ada di lingkungannya, apa yang diterangkan kepadanya, dll. Maka, jika ingin penyaluran naluri ini benar dan terpenuhi dengan benar, pemicunya harus dibuat normal, yakni berlaku secara benar sebagaimana mestinya. 

Sayangnya dalam lingkup liberal saat ini, pemicu bangkit nya naluri kasih sayang ini didominasi oleh tayangan dan arus hidup yang keliru. Media yang begitu mudah diakses generasi, kondisi lingkungan hidup mereka, banyak yang terpapar pemenuhan naluri ala kapitalis. Pemenuhan naluri kasih sayang dilakukan secara bebas, mengikuti kemauan tiap kepala, tanpa mengikuti norma agama. Khas tuntunan sekuler. Hasilnya persoalan pemenuhan naluri ini merembet dampak negatifnya kemana-mana. 

Agar kondisi ini tidak merusak masa depan generasi, Islam sebenarnya sudah mengantisipasinya. Islam mengajarkan bahwa naluri kasih sayang bisa dipupuk dari dalam keluarga. Keluarga memberikan teladan bagaimana perbuatan saling menyayangi tanpa melanggar norma susila, misalnya ajakan saling mendoakan sekeluarga, saling bberbagi sesama saudara saling meringankan tugas dalam rumah. Di dalam keluarga juga diberikan contoh riil bagaimana simpati kepada orang lain ditunjukkan, menolong tanpa merendahkan, mengingatkan dengan nasihat yang baik tanpa menjatuhkan. Di dalam keluarga ini basis takwa pertama kali dicetak, sebagai landasan supaya pemenuhan naluri kasih sayang tidak salah jalan sedari awal. 

Melangkah ke lingkup masyarakat yang lebih besar, Islam mengasah naluri kasih sayang kepada sesama manusia dengan budaya amar makruf nahi munkar. Dengan metode ini, orang tidak akan cuek pada apa dilakukan oleh orang lain terlebih jika itu perbuatan yang dosa. Dengan metode ini pula, tanggung jawab kolektif untuk memelihara kebaikan di lingkungan terpelihara bersama-sama. Termasuk saling menjaga agar liberalisasi tingkah laku tidak menggerogoti naluri kasih sayang atau bahkan bisa mengincar nyawa. 

Pada langkah yang lebih tinggi, semestinya aturan dan pandangan Islam tegak di bawah perlindungan payung negara yang menerapkan seluruh aturannya. Sehingga apa yang sudah dimulai dari keluarga dan yang dikembangkan di masyarakat dalam rangka memurnikan pemenuhan naluri kasih sayang bisa benar-benar terjadi. Sebab jika penjagaan keluarga dan masyarakat sudah maksimal, namun masih ada kesalahan dan berujung pada perbuatan kriminal, maka negara saja yang berhak memberlakukan sanksi. Jika menyentuh sampai ke perbuatan zina, maka negara yang punya kuasa merajam atau melakukan jilid. Jika sampai ada penghilangan nyawa atau luka badan, maka hanya negara yang mampu menerapkan hukuman qishas. 

Oleh karena itu kesempurnaan pandangan Islam dalam mengatur naluri kasih sayang ini sejatinya membutuhkan penerapan Islam itu sendiri. Jika iklim kapitalis liberal saat ini belum bisa menjadi wadahnya, maka sudah semestinya ada upaya untuk mengembalikan penerapan Islam itu kembali. Bukankah ini agenda besar yang penting untuk menyelamatkan generasi? []

Referensi:
1. https://lombokpost.jawapos.com/nasional/1507245042/tragedi-mencekam-di-uin-suska-riau-mahasiswi-terkapar-dibacok-pakai-kapak-motif-cinta-segitiga-terkuak
2. https://www.jpnn.com/news/mahasiswi-uin-suska-riau-selamat-setelah-dibacok-pria-yang-mencintainya
3. https://rejogja.republika.co.id/berita/t5smsw282/cinta-ditolak-pisau-dapur-bertindak-kejamnya-lukas-yang-habisi-nyawa-janda-satu-anak-di-gamping