-->

Ketika Adab Hilang dari Ruang Kelas


Oleh : Henise

Sekolah seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar, bertumbuh, dan membentuk karakter. Guru dihormati, murid dibimbing, dan proses pendidikan berjalan dalam suasana saling menghargai. Namun peristiwa yang belakangan viral justru menunjukkan gambaran sebaliknya. Guru dikeroyok murid, murid merasa dihina guru. Ruang kelas berubah menjadi arena konflik. Ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan tanda bahwa pendidikan kita sedang kehilangan nilai paling mendasar.

Fakta: Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Media sosial dihebohkan oleh kasus seorang guru SMK di Jambi yang dikeroyok muridnya. Kejadian bermula dari proses belajar di kelas. Guru menegur siswa yang bersikap tidak sopan saat pelajaran berlangsung. Menurut pengakuan guru, siswa tersebut menegur balik dengan kata-kata yang tidak pantas dan tidak menghormati guru di hadapan kelas.

Di sisi lain, siswa memiliki versi cerita sendiri. Ia menyebut bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina siswa dan orang tua, bahkan melabeli murid dengan sebutan “bodoh” dan “miskin”. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh sorotan berbagai pihak yang menilai kasus tersebut sebagai pelanggaran hak anak atas pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan undang-undang.

Fakta ini menunjukkan bahwa konflik tidak berdiri di satu sisi saja. Ada relasi yang rusak antara guru dan murid, yang akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan terbuka.

Kritik: Pendidikan Tanpa Arah Nilai

Kasus guru dikeroyok murid tidak bisa disederhanakan sebagai emosi sesaat atau kesalahan personal. Ini adalah problem serius yang mencerminkan rusaknya relasi dalam dunia pendidikan. Hubungan guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang, justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan.

Di satu sisi, murid menunjukkan hilangnya adab. Berbicara kasar kepada guru, apalagi melakukan kekerasan, adalah tanda rapuhnya pembentukan karakter. Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa ada guru yang juga kehilangan fungsi pendidik. Kata-kata menghina, merendahkan, dan melabeli murid dengan stigma negatif bukanlah bagian dari pendidikan, tetapi justru melukai psikologis anak.

Lingkaran konflik ini lahir dari sistem pendidikan yang menjauh dari nilai. Pendidikan sekuler kapitalistik menempatkan sekolah sebagai tempat mengejar target akademik dan kompetensi pasar. Nilai adab, akhlak, dan pembentukan kepribadian terpinggirkan. Guru dibebani administrasi, murid ditekan capaian angka, sementara ruh pendidikan menghilang.

Padahal secara akal, pendidikan tanpa nilai akan melahirkan generasi yang pintar tetapi tidak beradab. Islam telah lama mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab akan membawa kerusakan. Al-Qur’an dan sunnah menempatkan akhlak sebagai fondasi, bukan pelengkap. Ketika fondasi ini dicabut, wajar jika ruang kelas dipenuhi konflik, bukan keteladanan.

Solusi Islam: Mengembalikan Adab ke Pusat Pendidikan

Islam memandang pendidikan sebagai proses membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mencetak individu berpengetahuan. Rasulullah saw menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini menunjukkan bahwa adab dan akhlak adalah tujuan utama pendidikan.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru, menghormati otoritas keilmuan, dan menjaga lisan serta sikap. Penghormatan ini bukan untuk mengkultuskan guru, tetapi untuk menjaga keberkahan ilmu dan ketertiban proses belajar.

Pada saat yang sama, Islam juga mengikat guru dengan tanggung jawab besar. Guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi figur teladan. Ia wajib mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan. Hinaan, cacian, dan pelabelan negatif tidak dibenarkan, karena bertentangan dengan misi pendidikan Islam yang memuliakan manusia.

Lebih jauh, negara dalam sistem Islam memastikan pendidikan berjalan di atas landasan akidah Islam. Kurikulum tidak netral nilai, tetapi diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. Setiap mata pelajaran disinergikan dengan tujuan membangun akhlak, cara berpikir yang lurus, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar kesiapan kerja di pasar.

Dengan sistem ini, konflik seperti guru dikeroyok murid atau murid dihina guru tidak diserahkan pada penyelesaian hukum semata, tetapi dicegah sejak awal melalui pembentukan adab, keteladanan, dan lingkungan pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan Tak Bisa Netral Nilai

Kasus kekerasan antara guru dan murid adalah peringatan keras bahwa pendidikan kita sedang kehilangan arah. Ketika adab tidak lagi menjadi fondasi, ruang kelas mudah berubah menjadi ruang konflik. Menyalahkan satu pihak saja tidak akan menyelesaikan masalah, selama sistem yang melahirkannya tetap dipertahankan.

Islam menawarkan jalan keluar yang mendasar. Dengan mengembalikan pendidikan pada fungsi utamanya—membentuk manusia beradab—relasi guru dan murid dapat dipulihkan. Penerapan Islam secara kaffah, termasuk dalam sistem pendidikan, adalah kebutuhan mendesak agar sekolah kembali menjadi tempat aman, bermartabat, dan penuh keteladanan.

Tanpa itu, kekerasan di dunia pendidikan akan terus berulang, dan generasi hanya akan mewarisi ilmu tanpa akhlak.

Wallahu a'lam