-->

Kembali Mulia Dengan Menerapkan Alquran


Oleh : U Diar

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda yang artinya: "Didatangkan pada Hari Kiamat nanti Alquran dan keluarganya, yakni mereka yang mengamalkan Alquran." Apa yang disampaikan beliau SAW memberikan gambaran bahwa keutamaan mengamalkan Alquran sangat luar biasa. Maka tidak heran jika sesuatu yang luar biasa ini juga diturunkan di bulan mulia yang luar biasa pula. 

Dalam surat Alqadar ayat 1, Allah memberitahukan bahwa Alquran diturunkan pada malam mulia lailatul qadar. Menjelaskan maksud ayat tersebut, Imam At Thabari menafsirkan bahwa yang dimasukkan menurunkan adalah Allah menurunkan Alquran secara keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar tersebut. 

Jika direnungkan, tentu bukan tanpa maksud Alquran diturunkan. Manusia secara fitrah punya naluri mentaqdiskan sesuatu yang lebih hebat di luar dirinya sendiri. Dan bagi yang telah berhasil menemukan jalan iman, maka ia telah sampai pada keyakinan pasti berdasarkan dari pembuktian dalil, bahwa sesuatu yang lebih kuat dan hebat dari dirinya itu adalah Allah. Ekspresi dari pentaqdisan ini tentunya tidak bisa ngawur, mengikuti selera dan hawa nafsu manusia belaka. Maka Allah mengeluarkan rambu-rambu bagaimana cara mengibadahinya, semuanya dirangkum dalam kitabNya tersebut. 

Oleh karena itu, kehadiran Alquran sebenarnya adalah petunjuk lagi penjelasan yang nyata bagaimana secara teknis menjalankan ibadah kepada Allah dalam semua sendi kehidupan. Alquran menjadai penerang sekaligus menjadi panduan agar manusia yang hidup dan mengikutinya bisa mendapatkan kemuliaan, menjadi umat terbaik yang diciptakan untuk manusia. 

Kebaikan dan manfaat mengamalkan Alquran ini disampaikan dalam surat Al-an'am ayat 155. Di sana disebabkan keberkahan bagi siapapun yang mau mengikutinya. Syarat mengikuti ini tentunya bukan sebatas dipilih-pilih sesuai yang dianggap baik atau mudah, lalu meninggalkan yang dianggap susah dan tidak disenangi. Sebab di dalam Al-Baqarah ayat 85 tidak memperkenankan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagain. Yang diperintahkan adalah mengambilnya secara menyeluruh sebagaimana yang diperintahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 208.

Bahkan jika memilih untuk sengaja berpaling, dalam surat Thaha ayat 124 disampaikan akibatnya adalah kehidupan yang sempit dan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan buta. Bisa jadi jika dirasakan sekarang ada kesempitan hidup, itu adalah salah satu dari tidak diindahkannya peringatan sekaligus aturan kebenaran dalam Alquran. 

Misalnya ketika ada larangan riba, nyatanya di kehidupan saat ini pergerakan ekonomi banyak yang masih terjerumus ke dalamnya. Bahkan di bulan Ramadhan sekalipun, aktivitas penukaran uang yang mengandung riba masih ada. Alhasil keberadaan uang tidak dirasakan berkahnya. Memegang uang tetapi cepat sekali berlalunya, sehingga tidak terasa memberikan ketentraman dan rasa cukup di dalam jiwa. Terlebih jika riba yang dipilih berupa pinjaman, maka setelah uangnya terpakai, pikiran akan senantiasa panas memikirkan bagaimana mengembalikan bulanannya. Parahnya utang riba ini skalanya sudah sampai ranah pinjam meminjam antarnegara. 

Di bidang yang lain tidaklah jauh berbeda. Pendidikan yang asasnya jauh dari Alquran terbukti belum berhasil mencetak generasi yang bertakwa, belum mampu melahirkan sosok pribadi yang bukan hanya rajin sholat tetapi juga rajin menolak segala bentuk maksiat. Semakin banyak lulusan pendidikan tinggi, ternyata titel dalam koruptor juga semakin bervariasi. Bahkan ada koruptor yang disamping punya tambahan gelar pendidikan tinggi di belakang namanya, ternyata juga punya gelar haji. 

Sekali lagi menegaskan bahwa petunjuk Alquran yang tidak dipakai, pada akhirnya akan membuat hidup tidak mudah, jauh dari berkah. Terlebih aturan Alquran sebenarnya mencakup semua level hidup, mengurusi soal terkait hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan juga hubungan manusia dengan Allah. Sehingga jauh dari Alquran justru merugikan kehidupan. 

Jika aturan yang benar dari Allah berupa Alquran tidak dipakai, maka sekarang aturan mana yang dipakai? Jawabannya adalah aturan dari manusia, yang tidak bisa dipisahkan dari adanya kepentingan pribadi yang bermain di dalamnya. Untuk saat ini bahkan aturan buatan manusia ini telah mendarah daging dalam banyak sendi hidup. Justru jika ada yang menasehati dan mengingatkan agar mengutamakan aturan Allah saja, distigma dan dilabeli aneh alias tidak sama dengan keumuman. Walaupun sebenarnya justru yang umum itu tidak bersumber dari Allah sang pemilik kehidupan. 

Maka dari sini dibutuhkan keberanian untuk melakukan aktivitas saling menasehati dalam kebenaran, dengan fokus mengajak kembali menerapkan isi Alquran dalam aspek. Sebab Rasulullah mengingatkan melalui sabdanya dari riwayat Al Hakim yang artinya: "Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, tidak akan tersesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Alquran) dan Sunnahku (Alhadits)."

Berpegang teguh di sini diikat dengan makna menjadikan keduanya sebagai rujukan utama dalam mengambil hukum. Dijadikan asas bukan, bukan dijadikan inspirasi dalam pengambilan kebijakan. Dan langkah inilah yang sejatinya akan melahirkan regulasi yang bisa memanusiakan manusia, memuliakan sesuai dengan fitrah penciptaanNya. 

Bukti penerapan Alquran bisa mengantarkan pada kemuliaan hidup telah dicontohkan langsung di masa Rasulullah dan generasi sesudahnya sampai batas akhir dari Kekhalifahan Utsmaniyah. Pada saat itu Alquran dipakai sebagai sumber hukum pengambilan kebijakan. Hasilnya kebaikan hidup menyertai setiap sendi kehidupan. Kesejahteraan, keadilan, keamanan, dan kehidupan damai bisa dinikmati semua manusia, bukan hanya yang muslim saja. Kondisi inilah yang sebenarnya perlu dihadirkan kembali, diagendakan untuk menjadi pemandu lahirnya peradaban yang berkemanusiaan. []