-->

Teror Aktivis, Kebenaran Mahal di Sistem Kapitalis


Oleh : Ledy Ummu Zaid

Kutipan pidato Ir. Soekarno: “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” pasti pernah kita dengar. Kalimat yang menggambarkan pemuda sebagai ‘agent of change’ seolah memberi harapan. Bukan tidak mungkin perubahan besar datang dari kalangan pemuda. Mereka digadang-gadang memiliki semangat yang membara hingga berani menyuarakan kebenaran.

Teror Aktivis Kerap Berulang

Dilansir tvonenews.com (22/02/26), Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM) Tiyo Ardianto mendapat serangkaian teror yang ditujukan kepada dirinya dan keluarganya. Usut punya usut, hal ini dikarenakan ia baru saja mengirim surat kepada UNICEF atau badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus hak anak-anak di dunia. 

Adapun isi suratnya adalah protes dirinya mengenai kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mampu membeli alat tulis. Ia digadang-gadang juga mengkritik pemerintah terkait Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dengan demikian, ia menerima beberapa pesan misterius di platform Whatsapp. Pesan tersebut acap kali berisikan tuduhan terhadap dirinya yang menjadi agen asing atau hanya mencari keuntungan belaka. 

Tak hanya itu, Tiyo juga mendapat serangan di media sosialnya, seperti di platform Facebook, X, Instagram, dan TikTok. Banyak yang menuduhnya sebagai pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Kemudian, teror juga datang kepada keluarga Tiyo. Tiyo difitnah terkait penggelapan dana kampus. Hal ini diterima langsung oleh ibunda Tiyo. 

Hal yang berbeda dirasakan sejumlah mahasiswa BEM Universitas Indonesia (UI), seperti yang dilansir dari laman metrotvnews.com (21/01/26). Menjelang pemilihan Ketua BEM UI, banyak mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI tersebut mendapat teror. Adapun terornya berupa doxing atau penyebaran informasi pribadi kepada publik, pengiriman paket misterius, dan lain sebagainya. 

Amnesty International Indonesia pun mengecam keras aksi teror yang ditujukan kepada sejumlah aktivis mahasiswa di BEM UI. Amnesty menilai ini merupakan tindakan intimidasi terhadap mahasiswa yang ingin menyuarakan kebenaran. Dengan demikian, semakin tampak bahwa kebebasan berekspresi dan demokrasi di lingkungan kampus tengah terancam.

Organisasi yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas pelaku teror terhadap sejumlah mahasiswa BEM UI tersebut. Bagi mereka, aksi teror tersebut dapat mengancam keselamatan korban dan meninggalkan rasa takut atau trauma. Oleh karenanya, besar harapan bahwa sikap kritis para mahasiswa yang ingin menyampaikan kritik terhadap pemerintah tidak terhalang apa pun.

Teror Aktivis Keniscayaan di Sistem Kapitalisme

Dalam sistem kapitalisme sekuler, teror aktivis menjadi sebuah keniscayaan. Dengan asas demokrasinya yang mana kedaulatan berada di tangan rakyat, nyatanya suara rakyat tak didengarkan. Adapun pemerintah biasanya hanya mendengarkan masukan dan permintaan segelintir orang saja, yakni para pemilik modal. Kemudian, aparat keamanan menjadi kaki tangannya dalam menjalankan kebijakan yang telah dibuat. Di sinilah titik awal munculnya protes kepada pemangku kebijakan.

Sampai sekarang, demo-demo yang acapkali dilakukan mahasiswa dari berbagai kampus tentu menjadi sasaran empuk untuk dijegal oleh penguasa dan kaki tangannya. Sebagai contoh, polisi sering bertindak sewenang-wenang ketika berhadapan dengan masyarakat. Tak sedikit yang menghakimi secara langsung, bahkan korbannya berujung fatal. 

Inilah gambaran sistem kehidupan yang liberal (bebas) ala Barat. Banyak individu yang bebas melakukan apa saja, termasuk kekerasan fisik terhadap orang lain. Padahal, terdapat norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Jadi, sudah semestinya aparat polisi benar-benar menjalankan amanahnya dalam mengayomi masyarakat dengan baik.

Lebih jauh lagi, negara tampak tidak hadir dalam mendidik aparat keamanan negara. Seperti yang diketahui, negara selalu sibuk dengan investasi fisik, tetapi lupa dengan investasi psikis (spiritual). Hari ini, majunya suatu masyarakat pasti membutuhkan kondisi mental yang stabil dan aturan yang adil.

Islam Mengagungkan Kebenaran

Sebagai Muslim, sudah seharusnya kita melihat sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang hari ini, yakni dari kacamata Islam itu sendiri. Dalam sistem Islam, polisi berada di bawah naungan Departemen Keamanan Dalam Negeri. Adapun departemen ini akan dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri, seperti yang tertuang dalam Kitab Ajhizah Daulah Al Khilafah. 

Lebih lagi, keberadaan polisi dalam daulah (negara) menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan daulah dan seluruh isinya. Tugas dan fungsinya pun tentu harus sejalan dengan hukum syarak. Kemudian, sistemnya juga diatur dalam undang-undang (UU) khusus. Dengan demikian, seorang polisi harus memiliki Syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) sehingga umat merasa aman dan tenang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (TQS. Ali Imran: 159).

Dalam Departemen Keamanan Dalam Negeri, polisi dapat melakukan pengawasan dan penyadaran guna mencegah dan menindak beberapa kejahatan. Adapun eksekusinya dilakukan setelah turunnya keputusan hakim terhadap pelaku tindak kejahatan tersebut. Tentu, sistem sanksi atau uqubat dalam Islam wajib berdasarkan hukum syarak yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah. 

Sebagai contoh, setiap korban pembunuhan akan mendapatkan keadilan, yakni Khalifah (pemimpin) akan menegakkan diyat atau denda sebesar 100 ekor unta. Dengan demikian, sanksi yang diberikan kepada pelaku dapat menjadi penebus dosanya di akhirat serta menjadi contoh bagi umat agar tidak melakukan kemaksiatan yang serupa. Inilah Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang senantiasa mengagungkan kebenaran.

Khatimah

Sayangnya, hari ini kaum muslimin di seluruh dunia belum hidup dalam naungan kepemimpinan Islam yang satu. Negeri-negeri Muslim masih tercerai-berai dan terbatas oleh nation state dan persoalannya masing-masing. Tak heran, persoalan teror aktivis pun lazim di negeri yang berkiblat pada kapitalisme demokrasi. Oleh karena itu, pemuda Muslim harus segera bangkit dan bersatu menyuarakan Islam kafah (menyeluruh) untuk solusi hakiki persoalan umat. Tak terkecuali, tindak anarkis polisi tentu juga dapat dikendalikan dalam sistem pemerintahan Islam.

Wallahu a’lam bishshowab. []