-->

Kekerasan Aparat Di Sistem Sekuler, Tidak Dapat Melahirkan Aparat Bermartabat

Kekerasan Aparat Di Sistem Sekuler, Tidak Dapat Melahirkan Aparat Bermartabat

Oleh : Sumarini

Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya yang menyebut Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “bodoh” memicu polemik hingga viral di media sosial.
Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam forum diskusi yang diunggah di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up. Tiyo Ardianto menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan ditujukan pada tata kelola pemerintahan, bukan pada aspek pribadi presiden.

kronologis kejadian bermula saat ketua BEM UGM, Tiyo ardianto menyampaikan pendapat terhadap program makan bergizi gratis yang digagas oleh pemerintah. Melalui ajang podcast kritik yang disampaikan sejatinya dalam rangka fungsi kontrol sosial mahasiswa, namun nyatanya apa yang dilakukan oleh Tiyo justru berujung berbagai macam ancaman dan juga intimidasi, diteror habis hingga diancam akan diculik. melalui plat form digital untuk mende legitimasi posisi Tiyo ( suara. com, 19/2 ) 

Dari peristiwa ini sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia ( BEM UI ) mendapatkan teror menjelang pelaksanaan pemilihan ketua BEM UI akhir Januari 2026, beragam teror yang diterima mulai dari praktik doxing hingga pengiriman paket misterius kepada sejumlah mahasiswa. 

Kritis terhadap pemerintahan hari ini terkait kebijakannya sungguh menuai teror yang terus datang menghampiri setiap aktivitas hidup masyarakat hari ini, termasuk mahasiswa yang kerap dianggap sebagai batu sandungan bagi mereka para aparat negara yang menjadikan kritis adalah musuh yang mesti ditiadakan. Sungguh ini persoalan yang mesti diberi ruang untuk penyelesaian nya, sumber dari segala persoalan tak lain adalah penguasa yang tak mau dikritik, dan ini sangat mengancam bagi siapapun yang ingin bicara kebenaran. 

Penyelenggaraan BEM SI kerakyatan dalam rangka konsulidasi nasional: disitu ada :
       - darurat polisi membunuh
       - stop brutalisasi aparat
       - ACAB 1312, reformasi Polri
namun fakta yang terjadi hari ini disistem saat ini, semua hal diatas adalah kerap yang dilakukan oleh aparat kepolisian hari ini. bertindak sewenang-wenang adalah kelakuan wajar untuk mereka hari ini. berbagai macam kasus korban tewas ditangan aparat kepolisian hari ini begitu marak, aparat Kepolisian hari ini hanya kerja untuk mereka yang ada diatas bagi rakyat kecil seperti kita bagi mereka2 yang ingin menyuarakan kebenaran tidak akan diberi ruang.

Benar benar aparat hari ini tidak punya kepribadian yang begitu kita harapkan, yakni punya kepribadian islam yang akan menjadikannya sosok yang bertanggung jawab dan semata-mata hanya takut kepada Allah saja sehingga apapun yang dilakukan akan selalu dijalan yang benar. keadilan tak akan mungkin kita dapatkan meski harus menangis darah disistem hari ini, kecewa menghadapi manusia yang didirinya hanya memikirkan keuntungan meski itu harus menyakiti saudara sendiri adalah sifat manusia hari ini. Raut wajah yang sombong, angkuh bangga dengan pangkat yang menempel di pundak namun hanya sebatas derajat dimata manusia tidak dihadapan Allah. 

KONTRUKSI1. Dalam Kitab Ajhizah Daulah Al Khilafah, Kepolisian berada di bawah De-partemen Keamanan Dalam Negeri, yang dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri. Kepolisian adalah alat utama negara dalam menjaga keamanan. Semua tugas dan fungsinya diatur dalam UU khusus, sesuai dengan ketentuan hukum syara'2. Untuk menjalankan tugasnya, polisi harus mempunyai karakter yang unik, seperti keikhlasan, akhlak yang baik, seperti sikap tawadhu', tidak sombong dan arogan, kasih sayang, tindak tanduknya baik, seperti murah senyum, mengucapkan salam, menjauhi perkara syubhat, bijak dan lapang dada, menjaga lisan, berani, jujur, amanah, taat, berwiba dan tegas. Untuk mencegah dan menindak beberapa kejahatan, bisa dilakukan dengan pengawasan dan penyadaran, kemudian eksekusi keputusan hakim terhadap pelaku tindak kejahatan tersebut.3. Di dalam Islam setiap korban pembunuhan akan mendapatkan keadilan, yaitu penguasa akan menegakan Diyat 100 ekor unta. Sudah saatnya aktivis menyuarakan penerapan Islam kafah dalam kehidupan.

Wallahu alam bishawab