Derita Tanpa Akhir Senjata Termobarik Dan Urgensi Persatuan Umat
Oleh : Isna
Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai titik yang melampaui batas nalar manusia. Sejak Oktober 2023 dunia menyaksikan bukan sekedar perang melainkan upaya sistematis penghapusan jejak manusia melalui teknologi militer yang mengerikan.
Laporan investigasi mengungkap penggunaan senjata thermal dan termobarik oleh militer Israel. Senjata ini menciptakan gelombang panas ekstrem yang mampu membuat jasad manusia seolah menguap atau lenyap tanpa jejak di zona ledakan. (Investigasi Al Jazeera, 21/02/26)
Data menunjukkan setidaknya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Angka ini mencakup mereka yang tertimbun puing maupun yang jasadnya tidak ditemukan akibat dampak senjata termal.
Serangan terus berlangsung secara intensif yang mendasar pemukiman sipil, bahkan di periode yang diklaim sebagai masa gencatan senjata, mengakibatkan korban massal pada perempuan dan anak.
Penggunaan senjata pemusnah massal di area padat penduduk menunjukkan kebiadaban modern yang tak berperikemanusiaan. Semakin jelas bahwa tindakan ini adalah bentuk genosida yang bertujuan menghapus eksistensi warga Palestina.
Meskipun dunia internasional mengetahui bahwa serangan terhadap warga sekitar adalah pelanggaran berat HAM, pernyataan pahit menunjukkan bahwa hukum internasional seolah lumpuh. Tak ada kekuatan formal dunia yang mampu menghentikan mesin perang tersebut, membuktikan bahwa solusi diplomatik konvensional telah gagal melindungi nyawa yang paling rentan.
Melihat ekskalasi kejahatan yang melampaui batas toleransi muncul urgensi mendasar bagi masa depan umat. Masalah Palestina tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan logistik. Diperlukan kesatuan kekuatan militer dari seluruh dunia Islam melalui koridor jihad yang terorganisir.
Segala kekuatan militer tersebut membutuhkan komando tunggal. Perjuangan menegakkan kembali sistem kepemimpinan islam (Khilafah) menjadi sangat penting untuk menyatukan kekuatan umat demi melindungi martabat kemanusiaan di Palestina.
Dalam pandangan Islam, pembiaran terhadap kezaliman dan penjajahan merupakan bentuk kegagalan menunaikan amanah kepemimpinan. Oleh karena itu, perjuangan membela Palestina harus ditempatkan sebagai prioritas kolektif umat, melalui perlawanan politik dan mobilisasi opini global. Islam menuntut hadirnya kepemimpinan politik umat yang independen, berdaulat, dan berpihak pada keadilan, bukan malah tunduk pada hegemoni kekuatan besar. Perjuangan ini harus dilakukan secara terorganisasi dan bermartabat. Begitu pula, upaya menegakkan Khilafah dan berjihad untuk membebaskan Palestina wajib menjadi prioritas perjuangan umat. Waktunya bersatu meraih kemenangan yang hakiki untuk bebaskan Gaza.
Di sinilah peran Khilafah sebagai junnah, yakni perisai umat yang memimpin dan melindungi secara nyata. Dalam sistem ini, seluruh kekuatan kaum muslim berupa pasukan, logistik, diplomasi, dan ekonomi akan dipadukan dalam satu komando, bukan tercerai-berai seperti hari ini. Khilafah akan memutus hubungan dengan penjajah, menghentikan normalisasi, dan mengerahkan kekuatan militer negeri-negeri muslim secara terpusat dan terorganisasi untuk membebaskan tanah suci.
Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar