-->

Adab Diterapkan, Dunia akan Tertib


Oleh : Lulu Sajiah, S.Pi., Pemerhati Agromaritim

Islam memperkenalkan posisi adab memiliki kedudukan sangat tinggi. Para ulama bahkan mengatakan adab lebih tinggi daripada ilmu, karena ilmu tanpa adab dapat menjerumuskan. Sedangkan adab akan membimbing seseorang menggunakan ilmunya dengan benar. Adab dalam Islam berperan sebagai pondasi utama akhlak mulia, jembatan penghubung antara ilmu dan amal, serta cerminan kesempurnaan iman. 

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu."

Ibn Qayyim al-Jauziyyah menuturkan, "Adab seseorang itu adalah alamat kebahagiaan dan keberuntungannya. Sedangkan minimnya adab merupakan alamat kenestapaan dan kerugiaannya.., tak ada yang sudi mendapatkan keburukan di dunia dan akhirat sebagaimana minimnya adab."

Adab mengatur etika manusia kepada Allah, diri sendiri, dan sesama manusia, sekaligus menjadi identitas Muslim yang santun, jujur, serta penyempurna peradaban. Penerapan adab sesungguhnya berada di seluruh sendi kehidupan, mulai dari kehidupan sehari-hari, menjalankan tugas atau amanah hingga etika dalam bekerja. Mengamalkan adab, seperti jujur dan amanah merupakan perbuatan mulia yang mendatangkan pahala dan cinta Allah.

Di era modern ini, hubungan sosial menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita perlu memiliki adab yang baik untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial. 

Begitu juga dengan pemimpin. Adab merupakan amanah dan tanggung jawab pemimpin. Pemimpin seharusnya menempatkan jabatannya sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. dan umatnya, bukan sebagai alat untuk kekuasaan pribadi. Pemimpin negara harus bertindak lurus dalam mengelola negara, jujur dalam perkataan, dan tidak menyalahgunakan wewenang (korupsi/kolusi). Juga, pemimpin membuka akses informasi mengenai kebijakan kepada publik. 

Seperti, pemimpin negara tidak akan gabung ke Board of Peace, karena ini produk negara penjajah atau sponsor kejahatan yang akan menghabiskan esensi kaum Muslimin di Palestina. Juga, contoh lain, setelah terkena dampak musibah, semisal banjir, pemimpin negara akan mempelajari kecerobohan tata niaga negara, dan sekaligus dengan cepat memperbaikinya supaya dampak musibah tidak terulangi lagi.

Apabila pemimpin negara jauh dari adab mulia maka dengan jelas negara akan kacau di segala hal dan mendatangkan kerusakan. Hanya negara bersyariat Islam kaffahlah yang mampu mentertibkan warga dan keseimbangan lingkungan alam di dalamnya. Imam ghazali mengatakan, "Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar."

Oleh karena itu, jika adab diterapkan, maka dunia akan tertib, sehingga akan meminimalisir kekacauan dan perbuatan zalim baik dilakukan individu, masyarakat dan juga negara.[]