Sinergi Elemen Umat Mewujudkan Generasi Bertakwa dan Tangguh
Oleh : Rutin, SE I
Arus digital hari ini mengalir tanpa henti, deras, dan nyaris tanpa sekat. Generasi muda menjadi kelompok yang paling terpapar sekaligus paling rentan. Gawai tak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjelma ruang hidup kedua—tempat berpikir, berinteraksi, bahkan membentuk jati diri. Di satu sisi, kemajuan teknologi menawarkan peluang besar. Namun di sisi lain, ia menyimpan ancaman serius bagi pembentukan generasi yang bertakwa dan tangguh jika tidak dihadapi dengan kesadaran kolektif dan sinergi seluruh elemen umat.
Fakta menunjukkan, tingkat screen time generasi muda terus meningkat. Berjam-jam waktu dihabiskan di depan layar, menggulir konten yang disajikan algoritma tanpa disadari. Akibatnya, banyak anak muda mulai tercerabut dari peran nyata dalam kehidupan sosial, keluarga, dan masyarakat. Relasi virtual sering kali menggantikan relasi hakiki. Kepekaan sosial menipis, kedalaman berpikir melemah, dan orientasi hidup pun kian kabur.
Lebih jauh, dunia maya bukan ruang netral. Algoritma media sosial dirancang untuk mengikat perhatian, membentuk preferensi, dan mengarahkan cara berpikir. Generasi muda sesungguhnya adalah pasar potensial bagi produk-produk digital—mulai dari hiburan, gaya hidup, hingga ideologi. Seluruh konten yang mereka konsumsi menjadi “tabungan informasi” yang pelan namun pasti membangun cara pandang mereka terhadap kehidupan, nilai, dan tujuan hidup.
Di sinilah jebakan besar itu bekerja. Ide-ide sekuler dan liberal beredar masif, sering kali dibungkus dengan narasi kebebasan, kemanusiaan, dan kemajuan. Bagi generasi muda yang belum memiliki fondasi pemikiran yang kokoh, ide-ide tersebut mudah diterima sebagai kebenaran. Padahal, banyak di antaranya bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan justru menjadi bemper bagi sistem kapitalisme yang eksploitatif.
Menariknya, di tengah derasnya arus digital ini, muncul pula generasi muda yang kritis terhadap kezaliman penguasa. Kepekaan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan kebijakan yang merugikan rakyat merupakan indikasi baik. Namun, sikap kritis ini harus terarah. Tanpa arah ideologis yang sahih, kritik hanya akan berhenti pada kemarahan sesaat atau berujung pada aktivisme prematur—lantang bersuara tetapi miskin solusi mendasar, bahkan mudah tergiur jabatan dan kompromi.
Kerinduan terhadap perubahan sering kali tidak diiringi dengan pemahaman tentang akar masalah dan solusi menyeluruh. Akibatnya, sebagian anak muda hanya mengambil solusi parsial, meniru pola aktivisme liberal, atau terjebak dalam agenda perubahan semu. Padahal, meski berlabel muslim, aktivis-aktivis liberal tetap saja berperan sebagai penopang sistem kapitalisme yang melahirkan berbagai ketimpangan hari ini.
Di titik inilah kebutuhan akan benteng menjadi sangat mendesak. Benteng pertama dan utama adalah cara pandang sahih—cara pandang yang bersumber dari Sang Khalik, bukan dari akal manusia semata atau kepentingan pasar. Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memberikan panduan menyeluruh tentang kehidupan, masyarakat, dan negara. Cara pandang inilah yang mampu menjaga generasi muda tetap kritis sekaligus terarah, idealis namun realistis, berani tetapi tidak naif.
Generasi muda pada hakikatnya memiliki potensi besar sebagai makhluk Allah. Mereka dibekali gharizah (naluri), hajatul udhawiyah (kebutuhan jasmani), dan akal. Ketiga potensi ini harus dipenuhi dan diarahkan secara benar. Naluri keberagamaan membutuhkan suasana iman. Akal membutuhkan pemikiran yang jernih dan mendalam. Kebutuhan jasmani membutuhkan sistem yang adil dan menyejahterakan. Tanpa lingkungan yang kondusif, potensi tersebut justru bisa menyimpang.
Karena itu, pembinaan generasi muda tidak bisa diserahkan pada individu semata. Dibutuhkan lingkungan yang kental dengan jawil iman—suasana yang senantiasa mengingatkan kepada Allah—serta kolaborasi yang komprehensif dan sistemis. Sinergi seluruh elemen umat menjadi keniscayaan: keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, dan negara harus berjalan seiring.
Keluarga adalah benteng pertama. Di sinilah nilai, adab, dan cara pandang hidup ditanamkan. Orang tua tidak cukup hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga harus membekali anak dengan pemahaman Islam yang benar. Masyarakat berperan menciptakan atmosfer sosial yang sehat, saling menasihati, dan tidak permisif terhadap kemungkaran.
Namun, pembinaan generasi tidak akan sempurna tanpa peran politik ideologis. Partai politik Islam ideologis memiliki posisi strategis sebagai tulang punggung pembinaan umat. Perannya bukan sekadar kontestasi kekuasaan, tetapi melakukan muhasabah lil hukam—mengoreksi penguasa—serta memberi ruang bagi suara kritis kaum muda. Lebih dari itu, parpol ideologis bertugas mencerdaskan umat, meningkatkan taraf berpikir, dan menjaga agar kritik serta aktivisme generasi muda tetap berada dalam koridor ideologi Islam.
Negara pun memegang peran kunci. Tanpa kebijakan yang berpihak pada pembentukan generasi bertakwa dan tangguh, upaya keluarga dan masyarakat akan terus berbenturan dengan arus sistemik yang merusak. Negara seharusnya menjadi pelindung, bukan justru fasilitator kapitalisasi generasi muda melalui industri digital yang tak terkendali.
Pada akhirnya, tantangan generasi muda di era digital bukanlah persoalan individu, melainkan persoalan umat. Sinergi seluruh elemen menjadi syarat mutlak untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kokoh iman dan tajam pemikiran. Generasi yang tidak sekadar kritis, tetapi juga memiliki arah perjuangan yang jelas. Generasi bertakwa dan tangguh inilah harapan umat—penjaga nilai, penggerak perubahan, dan pewaris peradaban Islam yang mulia.

Posting Komentar