Menanam Benih Peradaban, Mengembalikan Peran Ibu sebagai Pencetak Generasi Ideologis
Oleh : Siti Nurhalizah, M.Pd. (Pendidik)
Di tengah riuhnya derap modernitas yang kian kencang, sebuah institusi terkecil namun paling sakral, yaitu keluarga sedang berdiri di persimpangan jalan. Kita sering mendengar istilah bahwa ibu adalah Al-Madrasatul Ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Namun, jika jujur pada realitas hari ini, banyak ibu yang sedang mengalami disorientasi peran, terombang-ambing di tengah arus sekularisme yang begitu materialistik. Padahal, jika kita menengok sejarah, tegaknya peradaban Islam yang gemilang selama ribuan tahun bukanlah sekadar hasil dari strategi perang atau kekuatan ekonomi semata. Peradaban itu lahir dari tangan-tangan dingin para ibu yang memiliki visi menembus langit. Peran ideal seorang ibu bukan hanya soal memastikan anak kenyang dan berpakaian rapi, melainkan menjadi arsitek peradaban yang mencetak generasi pemimpin dengan tauhid yang menghujam ke relung hati.
Menjadi seorang Ibu Generasi Ideologis berarti memadukan kelembutan kasih sayang dengan ketajaman dakwah yang berlandaskan kesadaran politik (wa’yu siyasi). Politik di sini bukan tentang kursi kekuasaan, melainkan tentang cara pandang seorang ibu dalam melihat penderitaan umat dan masa depan peradaban melalui kacamata syariat. Dengan kesadaran inilah, setiap nasihat yang dibisikkan ibu kepada anaknya akan terasa bernyawa. Ia tidak hanya menyuruh anaknya belajar agar sukses mencari kerja, tetapi ia menanamkan cita-cita besar untuk memimpin manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam. Visi ini penting agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang kerdil dan egois, melainkan menjadi individu visioner yang memandang dunia sebagai ladang perjuangan menuju surga.
Keberhasilan pendidikan ideologis ini bukanlah fiksi. Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana Ummu Amarah tidak hanya mendidik anaknya menjadi ksatria, tetapi ia sendiri menjadi tameng hidup bagi Rasulullah SAW di medan perang. Kita juga bisa belajar dari ibunda Imam Syafi'i, seorang janda yang meski hidup dalam himpitan ekonomi, tetap gigih membawa anaknya menempuh jarak Gaza-Mekkah demi ilmu. Berkat kegigihan sang ibu, dunia mengenal Imam Syafi'i sebagai samudera ilmu. Begitu pula ibunda Muhammad Al-Fatih, yang setiap subuh membisikkan nubuat Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstantinopel ke telinga anaknya. Para ibu ini membuktikan bahwa ketika seorang wanita memiliki visi ideologis, anak yang lahir dari rahimnya akan menjadi sosok yang mengubah wajah dunia.
Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa perjuangan ibu hari ini jauh lebih berat karena sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Serangan pemikiran dan budaya yang dibalut jargon kesetaraan gender, HAM, hingga moderasi beragama perlahan mulai mengaburkan jati diri perempuan sebagai pendidik generasi. Belum lagi tantangan dunia digital yang tak bertepi. Berdasarkan laporan Digital 2025: Indonesia yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater, rata-rata masyarakat Indonesia kini menghabiskan waktu selama 7 jam 22 menit sehari untuk mengakses internet (datareportal.com, 25/02/2025). Tanpa filter akidah yang kuat, dunia digital bisa berubah menjadi predator yang merusak moralitas anak melalui konten hedonisme hingga pergaulan bebas yang begitu mudah diakses.
Lebih jauh lagi, melimpahnya informasi digital sering kali membuat para ibu terjebak dalam "kebingungan massal". Banyak ibu yang kini kehilangan kompas karena dijejali berbagai metode parenting yang sering kali kontradiktif. Sayangnya, banyak teknik pengasuhan populer saat ini justru berkiblat pada nilai-nilai liberalisme Barat yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Konsep ini menempatkan keinginan anak di atas segalanya, sehingga prinsip "adab sebelum ilmu" perlahan ditinggalkan. Akibatnya, menciptakan generasi yang menonjolkan citra diri di dunia maya, namun mengalami pendangkalan nilai spiritual serta mulai mengabaikan batasan-batasan etika agama dalam kehidupan sehari-hari (republika.co.id, 15/12/2025).
Kondisi ini semakin diperparah oleh tekanan ekonomi kapitalisme yang tidak manusiawi. Kenaikan biaya hidup memaksa banyak ibu untuk keluar rumah demi membantu dapur tetap mengepul. Seringkali partisipasi perempuan dalam angkatan kerja masih didominasi oleh desakan ekonomi keluarga demi menjaga stabilitas finansial di tengah kenaikan biaya hidup (cnbcindonesia.com, 12/12/2025). Hal ini menciptakan dilema luar biasa; di satu sisi ibu harus berjuang memenuhi kebutuhan materi, di sisi lain energi untuk mendidik anak secara ideologis tersita habis oleh kelelahan fisik dan mental. Dalam cengkeraman sistem ini, kualitas pengasuhan sering kali menjadi "tumbal" demi bertahan hidup.
Menjadi ibu visioner di tengah gempuran zaman saat ini membutuhkan langkah nyata yang berani dan strategis. Semuanya harus dimulai dari rumah, di mana setiap ibu perlu menanamkan visi kuat bahwa anak-anaknya adalah hamba Allah (Abdullah), pengelola bumi (Khalifah fil Ardh), dan bagian dari umat terbaik (Khairu Ummah). Hal ini menjadi krusial karena tanpa visi yang melampaui keduniawian, pendidikan anak hanya akan terjebak pada pencapaian materi tanpa arah spiritual yang bermakna. Tugas utama ini berlandaskan pada perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Namun, kita perlu menyadari bahwa kesalehan yang dipupuk di dalam rumah akan terus menghadapi tantangan berat selama lingkungan luar masih didominasi oleh sistem sekuler-kapitalisme. Kita harus memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang karakternya sangat dipengaruhi oleh aturan yang berlaku di sekitarnya; sehingga sulit menjaga kesalehan anak secara optimal jika sistem sosialnya justru memfasilitasi kemaksiatan. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW bahwa setiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kondisi mereka yang kita pimpin.
Pesan ini mengisyaratkan bahwa amanah kepemimpinan seorang ibu tidaklah terbatas pada urusan domestik semata, melainkan mencakup kewajiban untuk memastikan bahwa ekosistem tempat anak tumbuh tidak merusak akidahnya. Dengan kata lain, upaya memperbaiki sistem masyarakat adalah perpanjangan dari tanggung jawab ibu untuk menjaga anaknya dari "api neraka" lingkungan yang rusak.
Dalam pandangan Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, seorang ibu harus memiliki kesadaran politik untuk memahami bahwa krisis moral saat ini bukanlah sekadar masalah individu, melainkan dampak sistemik dari tidak diterapkannya aturan Allah dalam tatanan publik. Langkah praktisnya dimulai dengan membangun pola pikir dan pola sikap Islami agar anak memiliki "imunitas" mental yang kuat. Lebih jauh lagi, ibu perlu aktif mengajak masyarakat luas untuk menyadari bahwa kesejahteraan hakiki hanya bisa diraih jika Islam kembali menjadi sistem hidup yang utuh. Sebab, perubahan sistemik hanya mungkin terjadi jika lahir kesadaran kolektif yang menuntut diterapkannya aturan yang benar. Dengan sinergi antara didikan penuh kasih di rumah dan perjuangan mengubah sistem di ranah publik, kita berharap negara kembali menjadi pelindung (Al-Junnah) yang memastikan kejayaan Islam kembali tegak di tangan generasi masa depan.

Posting Komentar