Ketika Kekuasaan Kehilangan Nurani, Sejarah Selalu Menyiapkan Akhirnya
Oleh : Imam Suyudi, Penggiat Ekonomi Syariah
Malam ini, layar-layar berita kembali dipenuhi reruntuhan. Nama Venezuela disebut dengan nada gentar, setelah laporan serangan militer Amerika Serikat (AS) memantik kecaman keras dari para pemimpin Amerika Latin. Kuba dan Kolombia menyebutnya sebagai agresi sepihak yang berbahaya, sebuah tindakan yang bukan hanya melukai kedaulatan sebuah bangsa, tetapi juga mengoyak stabilitas (jurnalislam.com, 4/1/2026).
Pada saat yang sama, api konflik di Timur Tengah tak kunjung padam. Ketegangan antara Israel, AS, dan Iran terus memanas. Pernyataan sombong Donald Trump—bahwa Iran harus “dihancurkan habis-habisan” jika mencoba bangkit, disambut dengan respons keras dari Teheran. Presiden Iran menyatakan dengan terbuka bahwa mereka kini berada dalam perang skala penuh melawan Amerika, Israel, dan sekutunya di Eropa (cnbcindonesia.com, 1/1/2026).
Kota-kota yang dulu hidup kini berubah menjadi abu. Anak-anak tumbuh di bawah bayang-bayang drone, dan manusia yang seharusnya menjadi tujuan utama peradaban justru menjadi korban paling murah dalam kalkulasi kekuasaan global. Namun jangan keliru: semua ini bukan sekadar kegagalan diplomasi, bukan pula sekadar konflik geopolitik yang kebetulan terjadi. Ini bukan takdir yang jatuh dari langit tanpa sebab. Apa yang kita saksikan hari ini adalah manifestasi dari sebuah ideologi yang sejak awal dibangun di atas fondasi rapuh: kapitalisme dengan aqidah sekulernya.
Dua sponsor terbesar ideologi ini, AS dan Israel, berdiri sebagai penjaga sekaligus pemaksa sistem yang menuhankan manfaat dan mengubur nilai. Mereka hadir bukan sebagai pelindung kemanusiaan, tapi sebagai simbol paling arogan dari peradaban modern. Atas nama demokrasi, mereka menjajah. Atas nama stabilitas, mereka menghancurkan kedaulatan bangsa lain. Atas nama kebebasan, mereka membungkam suara-suara yang menolak tunduk. Norma kemanusiaan diinjak, hukum internasional dilipat, dan nyawa manusia ditakar dengan kepentingan strategis.
Namun sejarah selalu jujur, meski kekuasaan sering berdusta. Tidak ada peradaban yang bertahan lama ketika ia kehilangan makna. Tidak ada ideologi yang mampu hidup abadi ketika ia berdiri di atas kerakusan dan pemaksaan. Cepat atau lambat, peradaban dengan ideologi rusak akan runtuh oleh beratnya dosa-dosanya sendiri.
Rasulullah SAW telah menggambarkan perjalanan sejarah ini jauh sebelum kita menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Sebuah hadis yang bukan sekadar nubuat, tetapi peta peradaban manusia, “Zaman Kenabian akan ada bersama kalian selama Allah menghendaki, kemudian Dia mengangkatnya. Lalu akan ada Khilafah atas manhaj kenabian selama Allah menghendaki, kemudian Dia mengangkatnya. Lalu akan ada kerajaan yang menggigit selama Allah menghendaki, kemudian Dia mengangkatnya. Lalu akan ada kerajaan yang memaksa selama Allah menghendaki, kemudian Dia mengangkatnya. Kemudian akan ada kembali Khilafah atas manhaj kenabian” (HR Ahmad).
Kita hidup di fase mulkan jabariyan yakni kekuasaan yang memaksa, menekan, dan mengendalikan manusia dengan hukum buatan manusia. Kapitalisme adalah ruh dari fase ini, sistem yang menjadikan manusia sekadar alat produksi, bukan makhluk bermartabat. Nilai hidup diukur dengan angka, keberhasilan ditentukan oleh akumulasi modal, dan pengabdian kepada Allah disingkirkan ke ruang privat.
Namun hadits ini tidak berakhir dengan keputusasaan. Ia justru menutup dengan harapan, yakni setelah masa pemaksaan, akan hadir kembali sistem yang berpijak pada wahyu. Bukan karena nostalgia romantis terhadap masa lalu, tetapi karena sistem itu telah teruji oleh sejarah.
Selama kurang lebih 14 abad, Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sebuah ideologi hidup. Ia membangun peradaban, melindungi non-Muslim, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menata kekuasaan dengan akhlak. Dan hari ini, ketika dunia semakin bising namun kehilangan arah, manusia kembali menoleh ke Islam, bukan karena propaganda, tetapi karena kelelahan eksistensial.
Data berbicara jujur. Antara 2010 hingga 2020, jumlah pemeluk Islam meningkat sekitar 347 juta jiwa, lebih besar daripada gabungan pertumbuhan seluruh agama lain. Secara global, Islam naik dari 23,9% menjadi 25,6% populasi dunia. Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa manusia sedang mencari makna, bukan sekadar kenyamanan.
Seorang ulama besar menulis dengan tajam dan jernih bahwa perubahan hakiki manusia dan peradaban tidak dimulai dari harta, kekuasaan, atau teknologi. Ia dimulai dari perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia. Sebab pemikiranlah yang membentuk mafahim—cara manusia memandang kehidupan. Ketika mafahim itu disandarkan pada aqliyah dan nafsiyah Islamiyah, barulah ia selaras dengan fitrah.
Rasulullah ﷺ tidak memulai perubahan dengan merebut istana. Beliau memulai dengan membebaskan cara berpikir manusia. Aqidah ditanamkan, tujuan hidup diluruskan, hingga lahirlah individu yang merdeka dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Dari individu lahir masyarakat sadar, dan dari masyarakat lahir peradaban yang adil.
Al-Qur’an menegaskan hukum perubahan ini dengan sangat jelas, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS ar-Ra‘d: 11).
Dan tentang fitrah manusia, Allah berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah” (QS ar-Rum: 30).
Kapitalisme gagal bukan karena salah urus, tapi karena salah arah. Ia menjauhkan manusia dari fitrahnya. Islam, sebaliknya, mengembalikan manusia kepada tujuan penciptaannya, beribadah, memakmurkan bumi, dan menegakkan keadilan. Maka ketika hari ini dunia terasa sesak, ketika udara peradaban seolah habis di paru-paru umat manusia, ingatlah satu hal: matahari mungkin telah terbenam di atas kota-kota kita malam ini, tetapi fajar tidak pernah gagal menepati janji sejarahnya.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah sistem ini akan runtuh, melainkan, apakah kita siap menjadi pengemban mabda yang suci ini? Apakah kita siap berhenti berdebat demi golongan, menghentikan perpecahan atas nama fikrah, dan menyatukan langkah demi tegaknya Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah ala minhaj nubuwwah? Karena pada akhirnya, peradaban yang adil hanya lahir dari ideologi yang lurus. Dan sejarah, seperti biasa, akan berpihak pada kebenaran.[]

Posting Komentar