-->

Bencana dan Pentingnya Kembali Ke Jalan Allah


Oleh : Ummu Fathan

Dalam Alquran surat Ar-ruum ayat 41, Allah SWT berfirman yang artinya: "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia. (Dengan itu) Allah berkehendak agar manusia merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalannya)." 

Mengenai penjelasan ayat tersebut, dalam tafsir Ibnu Katsir didapatkan keterangan bahwa arti dari kalimat "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia", yaitu dengan berkurangnya hasil tanam-tanaman dan buah-buahan karena banyak perbuatan maksiat yang dikerjakan oleh para penghuninya. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan. 

Karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang bunyinya:

"لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا"

Sesungguhnya suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi lebih disukai oleh para penghuninya daripada mereka mendapat hujan selama empat puluh hari.

Dikatakan demikian karena bila hukuman-hukuman had ditegakkan, maka semua orang atau sebagian besar dari mereka atau banyak dari kalangan mereka yang menahan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Apabila perbuatan-perbuatan maksiat ditinggalkan, maka hal itu menjadi penyebab turunnya berkah dari langit dan juga dari bumi.

Mirisnya, dewasa ini ragam maksiat sungguh beragam. Dari level personal maupun komunal, semuanya menunjukkan jenis yang luar biasa banyaknya. Personal manusia sekarang cenderung tidak takut dosa, komunal pun tidak jauh beda. Apa yang dilakukan oleh banyak orang dijadikan acuan, meski tidak selamanya benar dan halal. Dalam hal yang berkaitan dengan kerusakan alam ini misalnya, banyak personal dan komunal yang terkesan abai terhadap kelestarian lingkungan. Yang paling mudah diindera adalah sampah begitu mudah dijumpai di tempat-tempat yang seharusnya bersih. 

Soal lingkungan ini, ternyata hutan dan laut juga jadi korban kemaksiatan. Dengan fokus mengumpulkan dan menggemukkan pundi-pundi personal, banyak yang bergabung skala komunal untuk menggunduli hutan. Membabat ekosistem hutan heterogen untuk dijadikan kawasan ekonomi, menggusur satwa aslinya, mencemari udara dengan polusi mesin pengeruknya, mencemari laut dengan buangan limbahnya. Semua semakin parah ketika tanda tangan personal tidak takut dosa dijadikan stempel penguat tindakan durhaka pada hutan dan alam raya. Hingga panen bencana alam terjadi di depan mata. 

Parahnya bencana alam yang dahsyat tak juga mampu menyadarkan mereka yang seharusnya bertanggung jawab untuk segera bergerak menuntaskan permasalahan. Tak juga menjadi pemantik untuk berduyun-duyun taubatan nasuha agar tak berat hisab di hari pengadilan Allah nantinya. Bahkan saking parahnya keterjauhan dari istilah dosa dan pahala, bukan hanya durhaka pada alam saja yang menjadi fakta belakangan ini. 

Kemaksiatan lain pun menjadi bencana sosial yang tak kalah mengerikan. Korupsi yang semakin banyak tersangkanya, termasuk yang bergelar tokoh agama ada yang terbawa. Degradasi moral dengan aneka rupa kejahatan di kalangan pergaulan remaja kian sering naik di media. Judol dan pinjol kian banyak memakan korban. Kriminalitas makin sadis dan terang-terangan. Semuanya ber akumulasi menjadi potret nyata bahwa aneka kemaksiatan adalah pemicu kondisi rusak di daratan atau di lautan. 

Maka apa yang telah dirasakan sebagai imbas kemaksiatan ini sudah seharusnya menjadi nasehat untuk kembali ke jalan Allah. Yakni kembali menggunakan aturan Allah dalam menjalani kehidupan di semua bidang. Sebab sejatinya sumber utama kemaksiatan saat ini adalah karena jalan Allah digantikan oleh jalan hidup sekuler, melalui diterapkannya aturan buatan manusia.

Jelas hal ini salah, karena selain jumawa menantang aturan dari pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan itu sendiri; aturan sekuler jelas menimbulkan berbagai macam perbedaan, pertentangan, dan perselisihan dari masing-masing kepala penggagasnya. Siapa yang kuat pada akhirnya akan bertahan, dan untuk menjadi kuat harus mengalahkan yang lemah. Tidak manusiawi. 

Oleh sebab itu kembali pada jalan Allah dengan menjadikan syariat Allah sebagai panduan adalah kebutuhan. Butuh agar kemaksiatan bisa dihentikan. Agar kerusakan di darat dan di laut bisa ditiadakan dan segala macam bencana tidak lagi menimpa. []