-->

Bullying dan Krisis Adab, Buah Pahit Sekularisme


Oleh : Linda anisa

Belakangan ini, lagi dan lagi publik kembali dikejutkan oleh dua peristiwa ekstrem yang melibatkan remaja korban bullying. Diberitakan seorang santri di Aceh membakar asrama pesantren karena sakit hati sebab menjadi korban ejekan dan pengucilan dari teman temannya. Selain itu, di Jakarta, seorang siswa SMA Negeri 72 diduga melakukan aksi ledakan di sekolah, yang menurut saksi, ia kerap menjadi korban perundungan. 
Kedua kasus ini bukan bukanlah kasus biasa yang dianggap sebelah mata. Adanya kasus yang berulang ini menunjukkan bahwa tekanan sosial akibat bullying bisa mendorong remaja melakukan tindakan berbahaya yang mengancam nyawa orang lain.

Fenomena ini bukanlah kasus tunggal. Faktanya bullying justru telah menjadi gejala yang menyebar di berbagai daerah. Bullying bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Ia telah menjelma menjadi penyakit sosial yang merusak generasi. Dari ejekan ringan hingga pelecehan berat, dari pengucilan hingga kekerasan fisik, praktik ini terus menjalar di sekolah, pesantren, bahkan di dunia maya. Ironisnya, banyak pelaku merasa tidak bersalah. Bahkan menjadikan bullying sebagai candaan, konten hiburan, atau ajang pembuktian diri. Ini bukan hanya soal perilaku menyimpang. Ini adalah bukti nyata bahwa kita sedang mengalami krisis adab.

Krisis ini bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah buah pahit dari sistem kehidupan yang kita anut yakni sekularisme. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Ia menyingkirkan nilai-nilai spiritual dari ruang publik, termasuk dari sistem pendidikan. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa fondasi moral yang kuat. Mereka diajarkan untuk cerdas, tapi tidak untuk beradab. Mereka dibentuk untuk bersaing, tapi tidak untuk peduli. Mereka tahu cara menghitung, tapi tidak tahu cara menghormati.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik hanya fokus pada pencapaian materi. Sedangkan nilai-nilai ruhiyah dan maknawi diabaikan. Kurikulum dirancang untuk mencetak manusia produktif secara ekonomi, bukan manusia mulia secara akhlak. Maka jangan heran jika bullying merajalela. Karena sistemnya memang tidak dirancang untuk mencegahnya.

Media sosial memperparah semuanya. Di sana, bullying menjadi tontonan. Ejekan viral, pelecehan jadi tren, dan kekerasan dijadikan konten. Anak-anak yang lemah mental dan spiritual mudah terpengaruh. Mereka meniru, mengeksekusi, dan akhirnya meledak. Beberapa bahkan melakukan tindakan ekstrem sebagai pelampiasan dendam. Ini adalah krisis adab yang menunjukkan bahwa fungsi pendidikan telah hilang. Sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan telah gagal membentuk kepribadian yang kokoh dan bermoral.

Islam memiliki solusi ideologis yang menyeluruh
 
Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar secara akademik saja, tapi juga membentuk kepribadian Islam. Proses pendidikan dilakukan melalui pembinaan intensif, membentuk pola pikir dan pola sikap islami. Nilai yang ditanamkan bukan hanya materi, tapi juga maknawi dan ruhiyah.

Kurikulum dalam Islam harus berbasis akidah dimana Adab menjadi fondasi utama pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Ketika adab menjadi prioritas, maka bullying tidak akan mendapat tempat. Anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa menghina, mengejek, atau mengucilkan orang lain adalah perbuatan tercela di mata Allah.
Negara dalam sistem Islam (khilafah) punya peran sentral. Ia wajib menjamin pendidikan yang membina moral umat, melindungi generasi dari kerusakan dan kezaliman sosial, dan memastikan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Negara tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada pasar atau kepentingan kapitalis, karena itu hanya akan melahirkan generasi yang rapuh.
Sudah saatnya kita jujur bahwa sekularisme telah gagal. Ia menjanjikan kebebasan, tapi melahirkan kekacauan. Ia menjanjikan kemajuan, tapi menciptakan kehancuran moral. Jika kita ingin menyelamatkan generasi dari bullying dan krisis adab, maka kita harus berani kembali kepada Islam sebagai sistem hidup. Bukan hanya di masjid, tapi juga di sekolah, rumah, dan negara.
Dan sudah saatnya kita menyadari bahwa solusi tidak akan datang dari sistem yang rusak. Kembali kepada Islam sebagai sistem hidup adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi dari bahaya bullying dan kehancuran moral. 

Wallahu a'lam bi ash sawab