-->

Suara Perubahan Gen-Z, Potensi Kebangkitan Umat


Oleh : Mela

Aksi unjuk rasa yang belakangan banyak terjadi, ramai disuarakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan usia. Termasuk para Gen-Z (kelahiran 1997-2012) yang cukup disorot responnya dalam menyuarakan aspirasi. Mulai dari peserta aksi yang dipenuhi oleh usia Gen-Z, hingga meme dan tulisan-tulisan yang mereka utarakan melalui sosial media. Hal ini lalu mengundang pendapat dari para ahli. Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi, menilai, Gen-Z memiliki mekanisme tersendiri dalam menghadapi tekanan, yang berbeda dari generasi sebelumnya, yakni mekanisme "face" yang disebut paling adaptif dan konstruktif. Sedangkan, Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang mengikuti aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan pendapat, namun, remaja rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang.

Padahal, apa yang disuarakan oleh masyarakat saat aksi unjuk rasa lalu, merupakan bentuk respon atas kezaliman pemerintah dalam mengurusi urusan rakyatnya. Sebab, dalam diri manusia terdapat potensi kehidupan yang disebut dengan naluri. Salah satu naluri yang dimiliki tersebut yakni naluri baqa' (mempertahankan diri). Ini kemudian sejalan dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat luas, entah Gen-Z, millenial, atau bahkan baby boomer sekali pun. Naluri ini akan mendorong manusia untuk menolak kezaliman dan berusaha mencari solusi agar kezaliman tersebut dapat dihilangkan tanpa memandang usia. Pengklasifikasian generasi (Gen-Z) berdasarkan ilmu psikologi ini justru berpotensi mengarah pada mindset kapitalisme dalam menghilangkan kesadaran politik masyarakat, sehingga lebih fokus pada pendekatan spesifik, yakni mengenai cara masing-masing generasi merespon konflik/tekanan.

Sementara, Islam memandang bahwasanya setiap manusia memiliki potensi berupa kebutuhan jasmani dan naluri. Kebutuhan jasmani sendiri wajib dipenuhi karena apabila tidak, akan menimbulkan bahaya bahkan kematian. Sedangkan, naluri terbagi menjadi 3 yakni naluri ketuhanan (tadayyun), naluri mempertahankan diri (baqa'), dan naluri untuk melestarikan keturunan (nau'). Naluri itu sendiri apabila tidak dipenuhi, akan menimbulkan kegelisahan. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh para pemuda saat ini hanyalah menyalurkan naluri mempertahankan dirinya dari kezaliman dan menuntut tanggung jawab penguasa terhadap kepengurusan rakyatnya. Ini merupakan hal yang sangat wajar, bukan perkara psikologi manusia yang terkotak-kotakan satu dengan lainnya.
 
Sebagaimana tertera dalam Q.S. An-Nahl ayat 125 yakni "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." 
Wallahu 'alam bi showab.