Syahwat Cinta Sejati Mencapai Ridho Allah
Oleh : Dewi Poncowati
Aktivis Peduli Generasi
Kisah cinta pasangan muda mudi di era digital saat ini yang kerap disebut “Pacaran” sungguh diluar batas dalam menyalurkan perasaan sayang dan arti cinta yang sesungguhnya sehingga rahmat Allah SWT gagal diraih karena hampa pemikiran mengenai keberadaan Ilahi. Kasih sayang Allah SWT dalam menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna, lengkap seperangkat organ tubuh yang bekerja berkesinambungan bertanda allah tidak bermain main dalam menciptakan manusia.
Dalam terjemah Al Qur’an surat Al Mukminun ayat 115:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Dan terjemahan Al Qur’an surat Al Qiyamah ayat 75:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja? (Tanpa pertanggungjawaban?
Maka agar tidak salah jalan Allah swt mengutus Rasulullah SAW, Muhammad khatam mubina/nabi yang terakhir membawa risalah Islam kaffa dalam sebuah mushaf Al Qur’anul karim berisi Amanah, kabar gembira dan peringatan kepada manusia berupa aturan hidup yaitu syariah Islam.
Pemuda saat ini telah tenggelam dalam kenikmatan lautan liberalis buah dari peradaban barat. Runtuhnya peradaban Islam mengakibatkan pengikisan pemikiran Islam mengenai pergaulan bebas. Gaya pacaran sederhana berevolusi samen leven atau kohabitasi, Bahasa simple nya hidup Bersama tanpa ikatan berakad cinta buta luapan syahwat demi kebahagian naluri jasmani.
Berawal dari pacaran hingga kohabitasi marak menjadi hal yang permisif dikalangan pemuda dan masyarakat. Terkadang pacaran adalah hal privasi bukan lagi menjadi aib atau tabu namun lebih diartikan mengenal pasangan sebelum tahap pernikahan, terkadang kesalahan dari para orang tua yang sudah mengetahui hubungan ini dengan alasan sebagai motivasi dalam menuntut ilmu dan berharap pengawasan atas anaknya kepada calon pasangan. Sangat disayangkan jika pemahaman agama hanya sebatas ibadah ritual saja. Keberadaan agama dipisahkan dalam berbagai pengaturan hidup sosial di keluarga dan di masyarakat, pemisahan agama dalam kehidupan ini lebih dikenal sekulerisme.
Cinta sejati adalah cinta sang Khaliq kepada makhluknya. Cinta makhluk kepada makhluk akan berakhir, seperti kisah cinta berakhir tragis pada sepasang muda mudi di Surabaya. Hidup Bersama di sebuah kamar kos dan saling berbagi memenuhi kebutuhan layaknya sepasang suami istri. Hingga pada akhirnya terjadi percekcokan, sebutlah pacarnya bernama Alvi menusuk leher pacarnya bernama TAS dengan pisau hingga tewas, karena emosi berawal permasalahan ekonomi Alvi kesal dan kalap akhirnya Alvi menghilangkan jejak pembunuhan dengan memutilasi tubuh pacarnya hingga ratusan potongan. Hasil penelusuran beberapa ada di kamar kos dan Sebagian lagi dibuang.
Kisah tragis ini adalah fakta dampak dari sistem sekulerisme neo liberalisme. Sistem ini adalah produksi peradaban barat, pemahaman kebebasan bertindak dalam kehidupan tanpa pemahaman halal atau haram. Bahkan kondisi ini dibiarkan oleh negara. Negara memaknai bukan perzinahan jika dilakukan suka sama suka. Kasus perzinahan bukan kasus pidana selama tidak ada kekerasan. Negara akan bertindak jika ditemukan korban dan pengaduan, mirisnya kadang hukuman yang diberikan kepada pelaku tidak menimbulkan efek jera.
Keberadaan ini dikarenakan negara saat ini masih mengemban sistem demokrasi kapitalisme yang melahirkan sistem sekulerisme neo liberaslime. Sungguh miris keberadaan negara justru membuka lebar peluang kemaksiatan dengan campur baur muda mudi dengan melegalkan acara konser musik, aplikasi media sosial kencan daring dan situs situs porno bebas dikonsumsi tanpa ada batasan. Kejadian ini akan terus berulang jika negara tidak melakukan perubahan pada sistem yang shahi. Kondisi ini menjadi urgenitas negara untuk berevolusi pada sistem Islam.
Kondisi masyarakat saat ini yang marak dengan kemaksiatan adalah menjadi urgenitas negara melakukan perubahan yang mendasar dalam tatanan kehidupan yang sesuai syariah Islam. Islam bukanlah sekedar agama yang mengatur ritual ibadah. Islam adalah sistem yang mengatur berbagai aspek kehidupan individu, masyarakat dan bernegara. Dalam negara islam, negara harus melakukan pembinaan individu per individu yang berlandaskan akidah Islam agar terbentuk kepribadian Islam. Kepribadian Islam yang menanamkan pola pikir dan pola sikap sesuai dengan syariat Islam hanya didapat dalam sistem pendidikan Islam yang wajib diterapkan oleh negara. Pendidikan Islam akan menciptakan generasi yang memiliki pandangan hidup penuh keridhoan Allah SWT.
Pembinaan tersebut akan melahirkan ketakwaan individu yang mampu mengontrol berbagai tindakkan dan beribadah yang benar sesuai Syariah Islam. ketakwaan yang sebenar benarnya akan menjauhkan kemaksiatan seperti pergaulan bebas yang menghantarkan perzinahan bahkan pembunuhan. Individu – individu yang bertakwa akan terbentuk masyarakat Islam yang memiliki kesadaran penuh saling mengontrol dan mengingatkan perbuatan yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Bukan hanya pembinaan namun negara akan menerapkan sangsi hukuman yang menjerakan bagi pelaku maksiat berupa ‘uqubat.
Inilah pentingnya negara mengemban sistem Islam yang shahih dalam bentuk negara khilafah. Negara khilafah akan memposisikan pemimpin sebagai Raa’in yaitu penjaga umat, pemimpin yang mengurus rakyatnya karena merupakan Amanah dari Allah SWT. Dengan negara khilafah fungsi keberadaan negara dapat dirasakan bagi setiap individu, masyarakat dan perangkat hukum serta sangsi sangsi sistem Islam dapat diterapkan demi menghantarkan kehidupan yang dirahmati Allah SWT baik di dunia dan di akhirat.

Posting Komentar