-->

APAKAH HARUS VIRAL DULU, BARU DAPAT PERHATIAN?


Oleh : Eki Efrilia

"Ilmu itu lebih baik daripada harta karena harta itu harus kamu jaga, sementara ilmu akan menjagamu." 
~ Ali bin Abi Thalib ~

Mungkin pesan salah satu Khulafaur Rasyidin di atas, juga terpatri di benak 2 orang pemuda kakak beradik, Haikal dan Haezar yang tinggal di Parung, Kabupaten Bogor. Meski kondisi mereka berdua sangat-sangat kekurangan dalam hal finansial, tapi mereka tidak meninggalkan bangku sekolah, karena mereka berharap dengan ilmu-lah kelak derajat hidup mereka terangkat. 
Haikal yang sekarang kelas XII akan menunggu adiknya (Haezar, kelas IX) sampai pulang sekolah dulu, baru ia berangkat sekolah. Pasalnya, baju sekolah yang mereka kenakan hanya ada 1, yang harus bergantian memakainya. Untungnya Haikal bersekolah siang hari, sedangkan si adik sekolah pagi, jadi Haezar harus buru-buru pulang, karena pakaian sekolahnya sudah ditunggu kakaknya, untuk berangkat sekolah. Kondisi menyedihkan mereka ini menjadi viral karena ada yang memvideokan dan menguploadnya ke media sosial. 
Setelah ditelusuri lebih dalam, kisah kehidupan mereka memang lebih memilukan lagi. Ayah mereka sudah meninggal di tahun 2020, sedangkan si ibu mengalami gangguan jiwa. Haikal dan Haezar saat ini tinggal bersama nenek dan satu adik perempuan di sebuah kontrakan sempit. Untuk keperluan sehari-hari, mereka dibantu oleh keluarga bibinya yang hidupnya juga kekurangan (Tribunjakarta.com, 21/9/2025).

Kondisi miris kemiskinan yang menimpa 2 orang pemuda ini adalah potret nyata kemiskinan ekstrim di Indonesia. Penduduk terkategori miskin di Indonesia (versi Bank Dunia) tembus 194 Juta jiwa (Kompas.com, 26/7/2025). Padahal jumlah keseluruhan penduduk Indonesia di tahun 2025 adalah 286 juta jiwa (cnnindonesia.com, 20/7/2025).
Berarti hanya ada 92 juta jiwa dari bangsa ini yang masih bisa 'bernafas lega' sedangkan yang lainnya 'gigit jari'. Sungguh miris!

TAKE HOME PAY PEJABAT GEDE, SERAGAM SEKOLAH PELAJAR HARUS GANTIAN

Total tunjangan dan gaji (take home pay) anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) negeri ini yang mencapai Rp 100 juta perbulan (Kompas.com, 19 Agustus 2025), sangat jomplang dengan kondisi rakyatnya, seperti yang 'diwakili' Haikal dan Haezar yang harus bergantian baju seragam saat akan ke sekolah.
Padahal harga baju seragam seperti yang terpampang di platform e-commerce hanya kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu untuk satu set seragam. Tentu saja biaya baju seragam sangat jauh lebih murah dibanding gaji dan tunjangan pejabat, tapi faktanya rakyat miskin merasa berat alias tidak mampu membelinya. 

KAPITALISME BIANG MASALAH, SISTEM ISLAM SATU-SATUNYA SOLUSI KETERPURUKAN RAKYAT

Perbedaan mencolok antara penghasilan pejabat dan rakyatnya ini sudah bukan hal asing di Indonesia. Kapitalisme adalah biang keladinya, yaitu sistem yang menerapkan aturan bahwa negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator saja. 

Sebagai regulator maksudnya adalah negara sebagai pembuat aturan dan kebijakan yang akan diberlakukan kepada rakyat. Aturan yang dibuat oleh negara hanya pro kepada pengusaha, karena adanya simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha (kapitalis) dan itu adalah ciri khas kapitalisme. Sedangkan rakyatnya diabaikan, karena dianggap hanya beban negara. 

Sedangkan sebagai fasilitator, negara menjadi perantara antara rakyat dengan pihak swasta yang terlibat dengan urusan mereka. Negara tidak turun tangan langsung mengurusi urusan rakyat, tetapi menyerahkannya pada swasta dengan konsekuensi rakyat harus membayar biayanya. Dengan makin masifnya liberalisasi di berbagai bidang, negara makin berlepas tangan dari pengurusan urusan rakyat. 

Sehingga tampak nyata, negara hadir 'sekedarnya' untuk rakyat. Bahkan, rakyat laksana sapi perah yang harus bersiap diri untuk pasrah menerima tarikan-tarikan pajak yang pada faktanya makin membumbung.

Seperti di kasus Haikal dan Haezar, setelah viral, barulah ada pejabat daerah yang muncul untuk memberikan bantuan 'sekedarnya' berupa baju seragam, juga ada biaya gratis untuk mereka sekolah (tapi kemudahan itu dikeluarkan pihak sekolah, bukan oleh pejabat). Padahal sebetulnya hal itu saja tidak cukup! 
Kebutuhan rakyat dan termasuk juga kaum dhuafa, bukan hanya itu, tapi banyak hal lain yang harus diperhatikan seperti kebutuhan gizi keluarga, kesehatan, kemudahan mencari kerja atau berwirausaha, keamanan dan lain sebagainya. 

Apabila menilik kemiskinan ekstrim rakyat Indonesia saat ini, kondisi seperti yang dialami Haikal dan Haezar sudah pasti bukanlah satu-satunya, tapi sudah pasti banyak juga yang mengalami. Hanya saja, kondisi mereka tidak ada yang memviralkan. Jadi, harus viral dulu, baru diperhatikan oleh para pejabat ataupun agniya (orang yang berkelebihan rezeki) untuk saat ini. 

Sedangkan Sistem Islam sangat menentang kondisi seperti di atas. Rakyat haruslah mendapat perhatian dari Khalifah, dalam Islam, baik ia agniya maupun dhuafa, tidak ada perkecualian, semua sama di mata Khalifah. Khalifah mempunyai peran utama bagi umat yaitu sebagai ra'iin (pelayan) yang akan membawa umat pada kehidupan "baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur"

Seperti Sabda Rasulullah Saw. sebagai berikut:

«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ».

"Imam atau Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya."
[HR. Bukhari dan Muslim]

Khalifah akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk membiayai pendidikan rakyatnya yang diambil dari Baitul Mal yaitu dari pos Fai dan Kharaj, juga pos Milkiyyah 'Amah. Jika dari pos-pos tersebut mencukupi untuk pembiayaan pendidikan rakyat, maka negara tidak akan menarik pungutan apapun dari rakyat. Tapi jika harta di Baitul Mal habis atau tidak mencukupi maka barulah negara mewajibkan dharibah (pajak) bagi kaum muslimin yang mampu dan sebatas hanya pada sejumlah dana yang dibutuhkan saja. Hal tersebut sangat diupayakan karena Khilafah Islamiyah memberikan akses pendidikan gratis dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi bagi seluruh rakyatnya. Maka tidak heran, penerapan sistem pendidikan Khilafah yang berlangsung belasan abad tersebut mampu menghasilkan banyak ilmuwan yang menghasilkan karya-karya menakjubkan dari berbagai disiplin ilmu. 

Contohnya adalah Al-Kindi (801–873 M) beliau ilmuwan muslim di masa peradaban emas Islam yang ahli di berbagai bidang, yaitu beliau seorang filsuf, matematikawan dan dokter yang terkenal.
Roger Beacon (seorang filsuf dari Inggris yang lahir beberapa ratus tahun setelah beliau) mengakui kehebatannya, ia mengatakan," Sesungguhnya Al-Kindi, Hasan, dan Ibnu Haitsam berada di barisan pertama bersama Ptolomeus". Sedang seorang ilmuwan Italia, Gerolamo Cardano mengatakan bahwa Al-Kindi merupakan salah seorang dari 12 lelaki jenius yang termasuk penghuni kelas utama dalam kepandaian.

Hal di atas hanyalah secuil bukti dari banyak bukti yang sulit ditolak yaitu bahwa hanya dengan sistem Islam, dunia akan mengalami kemajuan di segala bidang termasuk bidang pendidikan. Islam tidak membatasi bagi siapapun yang ingin mengenyam pendidikan, setinggi apapun ilmu yang ingin diraihnya. 

Wallahu'alam bishshowwab