Kapitalisme Sarang Koruptor, Korupsi sampai Ke Akar, Dana Desa Miliaran lenyap
Oleh : Patima Rh
Agaknya perkara korupsi di negeri ini tiada habis-habisnya, bak mati satu tumbuh seribu, seperti itulah gambaran keadaan para petinggi di negeri ini. Pasalnya korupsi bernilai miliaran bukan hanya terjadi di pemerintahan pusat melainkan sudah mencapai tingkat desa.
Fakta yang terjadi, Kejaksaan Negeri (Kejari) kabupaten Bekasi resmi menahan empat orang diduga korupsi dana desa tahun 2024 di desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan.
Penetapan tersangka ini dilakukan setelah penyidik menemukan adanya aliran dana dari APBDes yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Kerugian negara atas perbuatan tersebut ditaksir mencapai Rp 2,6 miliar (Bekasi24jam,13/09/2025).
Kasus korupsi dana desa kerapkali berulang, pasalnya di sistem demokrasi ini pengawasan dan hukum bagi pelaku sangatlah lemah, mengakibatkan tidak adanya efek jera pada pelaku maupun calon pelaku korupsi.
Dilihat dari prosesnya, pemilihan kepala desa dalam sistem sekarang inipun mengeluarkan biaya yang mahal, sehingga membuat lenggangnya korupsi di kalangan pemerintahan desa.
Tentunya hal ini akan menjadi lingkaran setan yang tidak akan pernah putus jika tidak diperbaiki secara menyeluruh sampai ke akarnya. Seperti layaknya kanker, korupsi adalah penyakit yang tidak bisa diobati dengan hanya pengobatan lokal saja, pengobatannya harus secara menyeluruh untuk mengangkat semua sel kanker sampai ke akar, jika tidak maka akan fatal akibatnya.
Islam menawarkan aturan atau tata cara dalam mendapatkan harta pribadi dan larangan mencari harta haram. Islam berbeda dengan demokrasi dalam memilih para petinggi dan perangkat pemerintahan, karena dalam aturan Islam tidak ada biaya mahal dalam memilih calon pemimpin.
Sehingga dalam islam tidak akan memberi celah bagi para koruptor, hukuman bagi para pelakupun tegas dan akan memberi efek jera terhadap siapapun yang mengetahuinya. Islam benar-benar mengatur kehidupan agar berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan keridhaan Allah sebagai sang pencipta.
Sistem yang ada saat ini harus berubah secara menyeluruh dan kembali kepada aturan Sang Maha Pencipta agar setiap ciptaanNya sejahtera dalam naungan pemimpin yang bijaksana demi kelangsungan hidup umat manusia dan karena setiap diri termasuk pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.
Wallahu'alam bishawab

Posting Komentar