MBG Keracunan Makanan, Keselamatan Rakyat Dipertaruhkan
Oleh : Fatimah Abdul (Aktivis Muslimah)
Kasus keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) kembali terulang. Akibatnya terjadilah peristiwa keracunan massal sejumlah pelajar sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penangan. Tragedi ini terjadi di beberapa daerah seperti di sleman Yogyakarta yang mengakibatkan 135 siswa keracunan, di Bengkulu sekitar 427 anak, di Lampung terdapat 20 anak, dan juga di Sragen. Berdasarkan hasil penelitian dan uji lab di Sragen, mereka menemukan masalah sanitasi lingkungan sebagai salah satu faktor penyebab utama. Sementara itu masih ada juga beberapa daerah yang mengalami peristiwa yang serupa.
Kasus keracunan yang terjadi di Sleman tepatnya di SMPN 3 Berbah diperkirakan terjadi akibat lamanya makanan dibiarkan dan tidak segera dikonsumsi.
Apabila mendasarkan pada penjelasan Gunanto selaku pengawas farmasi dan makanan, menu MBG baru dikonsumsi 5,5 jam setelah makanan selesai dimasak. Padahal prosedur yang seharusnya adalah 4 jam. Jeda yang cukup panjang ini diduga memunculkan potensi perubahan kandungan dalam makanan sehingga bersifat racun (m.harianjogja.com, 28/08/225).
Sehubungan dengan hal itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Yogyakarta memberikan penjelasan terkait dengan standar operasional prosedur (SOP) yang harus dilaksanakan supaya hal semacam ini tidak terjadi. Dugaan atau spekulasi terjadinya kesalahan pelaksanaan SOP pada akhirnya muncul terhadap sekolah-sekolah lain yang mengalami peristiwa serupa.
Janji Kampanye Pilpres
MBG merupakan program janji kampanye pilpres 2024. Presiden terpilih bapak Prabowo Subianto pada akhirnya mewujudkan janji ini meskipun kondisi keuangan negara dalam kondisi yang tidak stabil. Program MBG digadang-gadang mampu mengatasi masalah malnutrisi dan stunting pada anak-anak serta ibu hamil. Selain itu program ini juga disinyalir mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun, dalam pelaksanaan MBG tersebut ternyata muncul berbagai macam problematika. Berdasarkan akumulasi masalah yang terjadi di lapangan, diantaranya kasus keracunan, pelanggaran pelaksanaan SOP, buruknya rantai pengawasan pangan, persoalan pembayaran mitra, hingga ketidakjelasan otoritas pelaksana. Semua ini menunjukkan bahwa terdapat ketidakseriusan dan kelalaian negara dalam meriayah rakyatnya. Bahkan kasus keracunan berpotensi menimbulkan kematian dan ini sangat berbahaya, karena disini keselamatan rakyat yang dipertaruhkan.
MBG jelas bukanlah merupakan solusi untuk mengatasi masalah gizi pada anak sekolah serta ibu hamil. Apalagi untuk mengatasi masalah stunting. Tidak seharusnya negara berkutat pada masalah dapur rakyat. Negara semestinya fokus pada masalah-masalah yang yang lebih krusial yaitu memperbaiki sistem perekonomian yang memihak pada rakyat serta mempermudah urusan rakyat dalam segala hal termasuk menyediakan lapangan pekerjaan yang luas sehingga masyarakat dapat memperoleh mata pencaharian yang layak dan dapat menghidupi dan menyediakan makanan yang baik untuk keluarganya. Dengan demikian tidak ada kasus stunting apabila kebutuhan rakyat dapat terpenuhi dengan baik.
Daulah Islam Meriayah Umat
Daulah atau negara Islam merupakan negara yang memiliki fungsi sebagai raain yaitu bertanggung jawab atas kelangsungan hidup rakyatnya. Menjamin kesejahteraan, keselamatan serta menyediakan kebutuhan pokok mereka, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Khalifah sebagai kepala negara menyediakan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang luas. Selain itu negara juga menjamin kebutuhan kolektif mereka akan kesehatan, pendidikan, dan juga layanan transportasi serta layanan publik. Kesemuanya itu dibiayai oleh negara dari baitul mal.
Dengan paradigma yang luas dan menyeluruh terhadap kepentingan rakyatnya dan mengutamakan kemaslahatan, maka kesejahteraan akan benar-benar terwujud. Jaminan kesejahteraan Khalifah tentu saja disertai dengan edukasi tentang segala sesuatu termasuk dalam hal pemenuhan gizi. Didukung oleh kesejahteraan dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok termasuk makanan, maka kasus stunting pada anak tentu dapat dicegah. Pembekalan edukasi tentang gizi akan menambah wawasan dan pengetahuan para ibu rumah tangga dan ibu hamil sehingga problematika malnutrisi dalam negara islam dapat teratasi tanpa campur tangan negara menyediakan dapur khusus bagi anak-anak sekolah dalam memenuhi gizi mereka. []

Posting Komentar