Muslimah Gaza, Saksi Keteguhan Iman di Tengah Genosida
Oleh : Anindya Vierdiana
Senyum dua ibu di Gaza merekah usai berhasil mendapatkan sekarung tepung untuk keluarganya. Dengan penuh kebersamaan, mereka memanggul karung itu, bersiap menembus bahaya demi menyelamatkan anak-anak mereka dari kelaparan.
Video singkat ini viral di media sosial. Meski durasinya sebentar, pesannya begitu dalam: ketabahan muslimah Gaza untuk tetap bertahan dalam iman di tengah genosida yang terus berlangsung.
Kekejaman Tak Masuk Akal
Kebiadaban Zionis dan para pendukungnya sudah melampaui batas nalar. Bagi mereka, darah dan air mata rakyat Gaza hanyalah tontonan. Mereka berwujud manusia, tapi perilakunya jauh lebih ganas dari binatang buas.
Bayangkan, selain menggempur Gaza dengan rudal dan buldoser, mereka juga menggunakan strategi pelaparan. Ribuan muslim Gaza dibiarkan mati perlahan karena berhari-hari menahan lapar dan dahaga.
Meski berusaha ditutup dengan propaganda Hasbara, bukti-bukti kejahatan mereka tetap tersebar. Tubuh-tubuh warga Gaza yang tinggal kulit dan tulang kini menjadi potret nyata strategi pelaparan sistematis itu.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat hingga 10 Agustus 2025, korban tewas mencapai 61.430 jiwa dan 153.213 luka-luka (Aljazeera, 10-8-2025). WHO bahkan melaporkan sekitar 12.000 anak balita menderita malnutrisi, dan ratusan warga meninggal karena kelaparan.
Namun, dunia hanya bisa memprotes tanpa tindakan nyata. Sebagian pemimpin dunia bahkan menambah luka dengan menyerukan solusi dua negara atau mendesak mujahidin Gaza melucuti senjata mereka.
Bukti Gagalnya Sistem
Pemandangan muslimah Gaza yang nekat datang ke pusat bantuan, meski berisiko kehilangan nyawa, menunjukkan dahsyatnya penderitaan yang mereka alami. Ironisnya, kelompok perempuan yang sering disebut sebagai pihak rentan justru menanggung beban perang berlipat setelah suami, saudara, dan anak laki-laki mereka gugur syahid.
Fakta ini sekaligus membongkar kegagalan sistem dunia dalam melindungi harkat manusia, khususnya perempuan. PBB dan lembaga internasional lainnya hanya bisa mengecam tanpa mampu menghentikan kezaliman. Lembaga feminis di banyak negara pun bungkam.
Sementara itu, Zionis yang hanya berjumlah 10 juta jiwa semakin angkuh, sebab mereka tahu 2,4 miliar kaum muslim di dunia kini terpecah belah dan lemah akibat sistem negara-bangsa serta dominasi sekuler kapitalisme.
Akibatnya, perempuan dan laki-laki muslim sama-sama menderita dalam krisis multidimensi. Harta, akal, kehormatan, hingga nyawa mereka tidak ada penjaganya.
Pentingnya Kehadiran Khilafah
Seandainya umat Islam bersatu di bawah naungan Khilafah, kondisi ini tidak akan terjadi. Khilafah adalah sistem politik yang menyatukan umat dengan akidah Islam dan memobilisasi seluruh kekuatan demi melindungi rakyatnya.
Sejarah membuktikan, selama berabad-abad umat Islam hidup mulia dan terjaga di bawah kepemimpinan Khilafah. Khalifah adalah pengurus sekaligus penjaga, yang siap mengerahkan tentara hanya demi melindungi seorang muslimah yang dilecehkan musuh, sebagaimana kisah Khalifah Al-Mu’tashim Billah.
Belajar dari Keteguhan Muslimah Gaza
Menaruh harapan pada sistem sekuler hanya akan memperpanjang penderitaan Gaza. Jalan satu-satunya adalah mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, yang akan mengomando jihad membebaskan Palestina dan menjaga kaum muslimah dari segala bentuk penindasan.
Muslimah Gaza adalah teladan bagi kita. Di tengah keterbatasan, mereka tetap teguh menjaga iman, berkorban harta dan jiwa, serta mendidik anak-anak mereka menjadi penjaga Islam. Mereka mengingatkan kita pada para shahabiyat yang setia mendampingi perjuangan Rasulullah ﷺ.
Mereka tidak mencari dunia, melainkan hanya mengharap rahmat Allah sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah, dan yang berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS Al-Baqarah: 218).

Posting Komentar