Global Sumud Flotilla, Seruan Jihad yang Diabaikan Negara
Oleh : Dinda Bunga Anugrah
Armada Sumud Global adalah armada terkoordinasi dan tanpa kekerasan yang sebagian besar terdiri dari kapal-kapal kecil yang berlayar dari pelabuhan-pelabuhan di Mediterania untuk mematahkan pengepungan ilegal pendudukan Israel di Gaza. Armada ini menyatukan beragam koalisi peserta internasional, termasuk mereka yang terlibat dalam upaya darat dan laut sebelumnya seperti Armada Sumud Maghreb, Koalisi Armada Kebebasan, dan Gerakan Global ke Gaza. Setiap kapal mewakili sebuah komunitas dan penolakan untuk berdiam diri dalam menghadapi genosida.
Aksi internasional ini didorong oleh sikap geram rakyat sipil terhadap kekejaman Israel atas genosida terhadap rakyat Palestina. Sekaligus kecaman untuk para penguasa dan pemimpin di negara mereka yang tidak juga melakukan aksi nyata setelah hampir 2 tahun Zionis Israel terus membombardir dan mengakibatkan hilangnya nyawa rakyat Gaza lebih dari 68.000 jiwa. Meskipun narasi dukungan sering diserukan oleh berbagai negara muslim, pada kenyataannya, perjuangan rakyat Palestina dan mereka yang bersolidaritas dengannya kerap kali harus berhadapan dengan tembok pengkhianatan dan kebisuan dari penguasa mereka sendiri. Global Sumud Flotilla adalah salah satu bukti nyata bagaimana umat berjuang sendirian, menjalankan jihad tanpa bantuan konkret dari negara, dan ini memunculkan pertanyaan mendesak: haruskah rakyat berjuang sendiri selamanya, atau haruskah ada wadah negara Islam yang menjadi pelindung sejati?
Global Sumud Flotilla, sebuah inisiatif dari koalisi internasional yang terdiri dari aktivis, jurnalis, dan relawan, adalah upaya berani untuk mendobrak blokade ilegal dan kejam yang diterapkan oleh Zionis terhadap Jalur Gaza. Mereka membawa bantuan kemanusiaan dan pesan moral bahwa dunia tidak melupakan penderitaan rakyat Gaza. Namun, perjalanan kapal-kapal ini tidaklah mudah. Mereka menghadapi ancaman, intimidasi, dan bahkan serangan langsung dari angkatan laut Zionis.
Hal yang sangat menyayat hati, respons dari banyak pemerintah, terutama yang berada di dunia Muslim, sangat minimal. Mereka tidak memberikan perlindungan militer, dukungan diplomatik yang kuat, atau bahkan jaminan keselamatan bagi warganya yang ikut serta dalam misi kemanusiaan ini. Para aktivis harus mengandalkan solidaritas antar sesama dan kekuatan mereka sendiri untuk menghadapi ancaman. Kegagalan pemerintah dalam mendukung perjuangan ini bukan tanpa alasan. Banyak negara, terutama yang memiliki hubungan diplomatik atau ekonomi dengan Zionis, lebih memprioritaskan kepentingan geopolitik dan ekonomi mereka daripada prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. Mereka takut menghadapi konsekuensi dari kekuatan Barat dan Zionis jika mereka secara terang-terangan mendukung perlawanan Palestina.
Penguasa-penguasa ini, meskipun sering mengklaim diri sebagai pembela Islam dan umat, telah memilih jalan yang aman dan mengabaikan panggilan jihad yang seharusnya mereka pimpin. Mereka membiarkan saudara mereka sendiri menjadi target ancaman tanpa memberikan perlindungan yang berarti. Ini adalah pengkhianatan yang sistematis, di mana kepentingan kekuasaan dan kekayaan ditempatkan di atas darah dan air mata saudara-saudara seiman.
Realitas pahit ini membawa kita pada sebuah kesimpulan yang tak terhindarkan: perjuangan umat tidak akan pernah mencapai kemenangan hakiki selama mereka bergantung pada penguasa yang tunduk pada agenda asing. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem politik yang berasal dari Sang Pencipta, yang tidak terikat oleh kepentingan-kepentingan penguasa dunia dan yang menjadikan jihad fi sabilillah sebagai tujuan utamanya.
Daulah Islamiyah bukanlah sekadar wacana utopis. Ia adalah sebuah keniscayaan yang pasti. Daulah Islamiyyah dalam naungan Khilafah yang berperan sebagai payung pelindung bagi umat, sebuah kekuatan yang mampu memobilisasi sumber daya dan kekuatan militer untuk membela yang tertindas, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Sudah saatnya umat menyadari bahwa satu-satunya jalan menuju kemerdekaan sejati adalah dengan kembali kepada sistem kepemimpinan Islam yang akan menjadi benteng pertahanan tersolid bagi kaum Muslimin. Hanya dengan wadah inilah, perjuangan seperti Global Sumud Flotilla tidak lagi menjadi jihad yang dilakukan sendirian, melainkan bagian dari sebuah pergerakan besar yang didukung oleh kekuatan negara yang kokoh.

Posting Komentar