-->

DPR Berpesta, Rakyat Berdarah. Inilah Buah Busuk Demokrasi


Oleh : Mommy Hulya 

Demo besar-besaran serentak di seluruh negeri pecah sejak diumumkan kenaikan tunjangan DPR yang tidak masuk akal. Dengan terang-terangan, tikus-tikus berdasi itu tanpa empati berjoget kegirangan di tengah himpitan ekonomi yang mencekik rakyat.

Bagaimana tidak? Kenaikan gaji dan tunjangan DPR terjadi bersamaan dengan meroketnya tarif pajak. Pemerintah daerah bahkan ugal-ugalan menaikkan PBB dari 250% hingga 1000%.

Darah rakyat mendidih bukan hanya karena pajak dan tunjangan DPR, tetapi juga karena hinaan arogan dari sebagian anggota dewan: “Jangan samakan DPR dengan rakyat jelata”, “Tunjangan beras cuma Rp12 juta sebulan”, “Tunjangan rumah cuma Rp50 juta.” Ucapan-ucapan itu adalah tamparan bagi rakyat yang sedang berjuang sekadar menyambung hidup.

Kemarahan yang tak terbendung meledak. Demo merebak di setiap kota, kantor DPR dibakar, dan korban berjatuhan. Seorang demonstran bahkan tewas tragis ditabrak mobil pengendali massa. Bukannya ditolong, ia malah dilindas. Polisi, yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, justru berubah menjadi alat kekerasan negara.

Beginilah wajah demokrasi: pesta pora untuk penguasa, derita dan darah untuk rakyat.

Allah ﷻ sudah mengingatkan:

“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pemimpin adalah penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejarah mencatat teladan agung dalam kepemimpinan Islam. Pada masa Umar bin Khattab r.a., ia pernah mendapati seorang ibu miskin yang menanak batu agar anak-anaknya berhenti menangis karena lapar. Umar menangis melihat itu. Ia pun berlari ke baitul mal, memanggul sendiri karung gandum di punggungnya, lalu memasaknya untuk keluarga itu hingga anak-anak kenyang dan tertidur.

Umar berkata: “Celaka Umar, bagaimana engkau bisa tidur nyenyak sementara ada rakyatmu yang kelaparan?”

Inilah standar kepemimpinan dalam Islam: pemimpin yang takut pada hisab Allah, pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan memperkaya dirinya.

Sungguh berbeda dengan penguasa hari ini. Mereka berpesta di kursi parlemen, sementara rakyat berdarah di jalanan.

Selama kita bertahan dalam demokrasi, pesta busuk penguasa akan terus dibayar dengan darah rakyat. Hanya khilafah yang bisa menghentikan tirani ini dan menyejahterakan seluruh umat.