-->

Bunuh Diri Akibat Tekanan Kapitalisme

Oleh : Sri Wahyu Anggraini, S.Pd (Guru dan Aktivis Muslimah Lubuklinggau)

Kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi kembali terjadi dengan digegerkan dengan tewasnya seorang ibu muda bersama dua anaknya berusia 6 tahun dan 11 bulan di rumah kontrakan. Polisi tidak menemukan tanda kekerasan dari luar sementara pintu dan jendela rumah terkunci rapat hingga di dobrak warga. Dugaan kuat sang ibu lebih dulu menghabisi nyawa kedua anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Di lokasi ditemukan surat yang berisi curahan hati korban ia menulis sudah tidak sanggup menanggung utang tekanan ekonomi dan masalah rumah tangga serta merasa gagal sebagai istri maupun ibu, karena keputusannya itu ia memilih mengakhiri hidup bersama anak-anaknya agar tidak lagi menanggung penderitaan. (www.kompas.id/06/09/25)

Data terbaru organisasi kesehatan dunia atauWHO mengungkapkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi yang paling umum sementara bunuh diri disebut WHO sebagai persoalan serius yang perlu mendapat perhatian global. (Dikutip dari www.cnbcindonesia.com).

Fenomena bunuh diri yang marak terjadi belakangan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai kelemahan individu, tekanan hidup yang begitu berat membuat sebagian orang merasa menemui jalan buntu padahal akar masalahnya justru terletak pada sistem kapitalisme yang sedang diterapkan. Sistem ini meniscayakan kesenjangan yakni distribusi kekayaan tidak pernah adil kekayaan hanya berputar di kalangan orang kaya sementara rakyat kecil dipaksa bertahan dengan hidup yang kian terhimpit.
Inilah yang melahirkan depresi, putus asa, dan pada akhirnya bunuh diri. 

Kapitalisme juga berasaskan sekulerisme yang menjauhkan keluarga dan masyarakat dari ketakwaan, hidup hanya dipandang sebatas materi sementara iman dan pemahaman terhadap qada atau takdir semakin minim padahal Islam mengajarkan bahwa setiap ujian hidup datang dari Allah dan kelak tidak akan melebihi kemampuan hambanya.
Namun karena Islam hanya dipahami sebatas ritual masyarakat kehilangan pegangan hakiki yang seharusnya bisa menjadi penopang menghadapi tekanan hidup. Lebih parah lagi penguasa yang seharusnya menjadi pengurus rakyat justru berubah menjadi pelayan kepentingan investor, kebijakan yang lahir bukanlah untuk menyejahterakan rakyat melainkan mempermudah akumulasi kapital segelintir orang. Rakyat akhirnya dipaksa mandiri mengejar kesejahteraan, keadilan, dan keamanan, sesuatu yang seharusnya dijamin negara. Beban hidup pun menumpuk meninggalkan luka batin yang dalam. Semua ini menunjukkan bahwa problem bunuh diri bukan persoalan individu semata melainkan problem sistemik dan kompleks yang lahir dari penerapan kapitalisme. Selama masyarakat masih bertahan dengan sistem ini lingkaran penderitaan dan tragedi bunuh diri tidak akan pernah berhenti.

Jalan keluar sejati hanya ada pada penerapan Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh yang bukan hanya memberi pegangan Iman tapi juga menghadirkan distribusi kekayaan yang adil bagi seluruh rakyat. Berbeda dengan kondisi hari ini di bawah sistem kapitalisme yang menjerumuskan rakyat pada penderitaan hingga banyak yang memilih bunuh diri. Islam telah menyediakan solusi nyata melalui penerapan syariat secara Kaffah dalam naungan Khilafah islamiyah. Negara Khilafah sendiri berdiri di atas aqidah Islam dan menempatkan penguasa sebagai raa'in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan umat. 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; "Imam atau khalifah adalah Raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya". (HR al-Bukhari) 
Hadis ini menegaskan jati diri negara dalam Islam yakni pengurus umat yang akan memastikan terpenuhinya kebutuhan asasiah rakyat, individu per individu, negara wajib menciptakan lapangan kerja yang luas dan memadai bagi rakyatnya serta mendorong mereka untuk giat bekerja. 

Pertanian, peternakan, jasa, maupun industri akan berkembang pesat karena Khilafah menumbuhsuburkan sektor riil sebagai bagian dari realisasi ekonomi Islam negara juga wajib mengelola sumber daya alam secara mandiri. Sebagaimana perintah syariat sumber daya alam adalah milik rakyat yang tidak boleh dikuasai swasta maupun asing. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; "Manusia berserikat dalam tiga hal, yakni air, padang rumput dan api". (HR Abu Dawud) Artinya sumber daya alam yang berlimpah harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Dari hasil pengelolaan ini negara akan mampu menjamin kebutuhan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis tanpa membedakan muslim atau non muslim, kaya atau miskin, tua atau muda. 

Di bidang pendidikan Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam, Islam tidak hanya diajarkan sebatas ritual melainkan sebagai akidahal aqliyah atau keyakinan rasional sekaligus sistem kehidupan yang sempurna. Pendidikan ini akan melahirkan generasi beriman berilmu dan produktif yang tidak mudah putus asa menghadapi ujian hidup. Mereka justru akan menjadi manusia-manusia yang beramal saleh untuk meraih keberkahan di dunia sekaligus kebahagiaan hakiki di akhirat. Khilafah juga menutup pintu utang piutang ribawi yang menjerat rakyat karena kesejahteraan mereka telah dijamin negara. inilah solusi hakiki maraknya bunuh diri yakni kembali pada Islam Kaffah dalam naungan Khilafah. Khilafah bukan alternatif melainkan ajaran wajib sebagaimana salat puasa dan zakat. Selama umat bertahan dengan kapitalisme menderitaan akan terus berulang namun dengan Khilafah insya Allah umat hidup dalam ridho Allah, sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.

Wallahu A'lam Bisshowab.