Bencana Banjir Saatnya Muhasabah
Oleh : Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Umat
Sejak runtuhnya peradaban Islam dimulai pada abad ke 13 tepatnya tahun 1258 dan puncaknya abad ke 19 tahun 1924. Saat itu kerusakan kerusakan mulai terjadi, yang paling berpengaruh atas perubahan pada diri manusia adalah peradaban barat sedikit demi sedikit mulai merasuki pemikiran umat Islam. Jika kita menyingkapi lebih dalam bahwa apapun kerusakan baik pada diri manusia dan alam sekitar penyebabnya adalah cinta dunia takut mati. Pemikiran umat muslim saat ini lebih berorientasi mengejar kebahagian dunia, eksploitasi keberadaan alam begitu besar dikelola tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi. Dalam kutipan terjemah Al Qur’an surat Ar Rum ayat 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari akibat perbuatan mereka, agar mereka Kembali ke jalan yang benar.
Kenyataan yang terjadi pembangunan yang tidak sesuai dengan kondisi alam sekitar menyebabkan kerusakan dan mengundang bencana. Dalam hal ini banjir bandang terjadi di Bali mengakibatkan 6 kabupaten terendam, tercatat jumlah warga yang meninggal 18 orang dan 5 orang belum ditemukan serta ratusan warga harus diungsikan. Bukan hanya memakan korban namun kerugian material tapi juga materiil, pasar Badung banyak toko yang tutup dan beberapa hotel mengalami kelumpuhan karena akses jalan terendam banjir.
Fakta yang menyebabkan terjadi banjir bandang di Bali bukan hanya disebabkan faktor cuaca dan permasalahan sampah namun terjadi disfungsi lahan menjadi tempat pariwisata, hotel dan vila. Padahal daerah tersebut rentan terjadi banjir karena lahan semula diperuntukan bercocok tanam seperti persawahan, irigasi dan hutan yang berfungsi untuk resapan air. Sungai Badung yang asalnya sebagai prasarana pengendali banjir kini telah berdiri bangunan padat penduduk dan beberapa hotel dipinggir sungai sehingga mengalami penyempitan. Gunung Batur yang semula ada hutan di sekitar hulu gunung kini telah berdiri bangunan bangungan tempat pariwisata. Padahal fungsi dari pada hutan adalah untuk resapan air dan ketika curah hujan meningkat maka terjadi banjir karena resapan air berkurang. Sumber berita online: Kompas.com dan kumparannews.
Mengapa pembangunan tetap terlaksana padahal sejatinya pemerintah setempat mengetahui dampak yang akan terjadi atas kondisi alam dan penduduk setempat. Inilah penampakan sistem perekonomian kapitalisme telah mengalihkan fungsi pemerintah setempat bukan lagi mengambil kebijakan pelestarian lingkungan, ekologi dan kebutuhan rakyat. Namun sebagai fasilitator bagi para pemilik modal untuk melanggengkan perluasan bisnis mereka mengutamakan akomodasi para turis demi mendatangkan investasi pada pariwisata. Pada kenyataannya banjir bandang yang terjadi di Bali karena telah terjadi kesalahan sistemik tata Kelola alam karena pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan mekanisme pasar bukan untuk rakyat.
Sudah saatnya pemerintah setempat harus melakukan perubahan mendasar dan bermuhasabah atas bencana ini. Selama sistem perekonomian kapitalisme terus diemban bukan hanya di Bali tetapi banjir dan kerusakan di belahan bumi manapun akan terjadi. Allah SWT telah menganugerahkan bumi beserta isi nya adalah Amanah.
Dalam Al Qur’an surat Hud ayat 61 dikatakan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pemakmur, yaitu mengurus bumi dengan terus melestarikan tanpa mengedepankan hawa nafsu.
Kemudian dalam hadist Rasulullah SAW mengenai kepengurusan tanah, hutan dan air adalah kepemilikan umum yang diperuntukan bersama bukan dimiliki oleh sekelompok orang untuk objek komersial.
Dalam sistem Islam negara memposisikan pemimpin sebagai Raa’in /pengurus atau penjaga umat yang akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya. Inilah pentingnya keberadaan negara wajib menjaga tata Kelola alam sesuai Syariah yang telah ditentukan dalam Al Qur’an dan Assunah. Pada sisitem Islam tidak menjadikan pembangunan untuk mekanisme pasar akan tetapi diperuntukan untuk kebutuhan rakyat. Dalam hal untuk memenuhi kebutuhan rakyat, negara mengambil kebijakan bahwa sumber daya alam seperti barang tambang logam emas, gas, minyak bumi, batubara, sumber daya hutan berserta isinya adalah sumber pemasukan kas negara. Pemasukan kas negara digunakan untuk membiayai kebutuhan rakyat yang mendasar dan menyeluruh. Dengan menyediakan fasilitas pendidikan, Kesehatan, kesejahteraan sosial lingkungan hidup manusia, alam sekitar dan keamanan secara gratis dan berkualitas. Sedang Pariwisata akan keindahan alam sekitar sebagai pengingat dan merenungi ciptaan Allah untuk menguatkan keimanan.
Ketundukan dan ketaatan seorang pemimpin negara kepada Allah SWT akan membawa dampak yang sangat besar atas amanah yang dijalankan. Keselarasan keimanan seorang pemimpin yang selalu bermuhasabah Ketika terjadi kesalahan, membuat dirinya sadar bahwa harus Kembali kepada jalan yang diridhoi Allah SWT. Dalam hal ini pembangun harus berfokus untuk kelestarian alam. Sementara sistem Islam semata mata diterapkan demi menghantarkan kehidupan yang dirahmati Allah SWT baik di dunia dan di akhirat.

Posting Komentar