-->

Pesta Demokrasi Riskan Gangguan Mental

Oleh: Lestia Ningsih S.Pd

Spanduk-spanduk sudah banyak dibentangkan, kampanye-kampanye sudah banyak didengungkan, dan bentuk apapun untuk mencari empati rakyat dilakukan untuk menang pada hari pemilihan. Hal ini terjadi karena pesta demokrasi telah dekat. Upaya optimal dilakukan dan apapun dikorbankan namun ketika yang diharap dan yang diperjuangkan tak sesuai ekspektasi tinggallah kekecewaan bahkan berujung nestapa kehidupan hingga rusaknya akal berubah menjadi gangguan mental tak terelakkan.

Sebagai bentuk antisipasi pasca pesta demokrasi  Sejumlah rumah sakit menyiapkan ruangan khusus untuk mengantisipasi calon legislatif (caleg) yang mengalami stres atau gangguan jiwa akibat gagal dalam pemilihan legistlatif (Pileg) di Pemilu 2024. Rumah Sakit Oto Iskandar Dinata, Soreang, Bandung Jawa Barat, misalnya,  salah satu rumah sakit yang menyiapkan ruangan khusus untuk caleg yang mengalami gangguan mental. Selain menyiapkan fasilitas Rumah Sakit Oto Iskandar Dinata juga menyiapkan dokter spesialis jiwa dan bagi calon legislatif yang stres usai mengikuti kontestasi Pemilu 2024. (Kompas.tv, 23/11/2023)

Dalam siaran yang sama RSUD dr. Abdoer Rahiem Situbondo, Jawa Timur juga sedang menyiapkan ruangan khusus rawat inap.

Hal ini juga yang telah di persiapkan oleh Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiapkan layanan konseling maupun fasilitas kesehatan kejiwaan untuk calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 2024 yang stres karena gagal terpilih. Menurutnya, dua hal itu sangat diperlukan.

"Belajar dari situasi dan kondisi di pemilu-pemilu sebelumnya, kecenderungan orang stres meningkat pascapemilu," kata Aziz  (detikNews.com, 26/1/2024).

Fenomena ini membuktikan bahwa pemilu dalam sistem hari ini rawan mengakibatkan gangguan mental. Biaya yang tinggi, sehingga pasti membutuhkan perjuangan dengan mengerahkan segala macam cara untuk meraih kemenangan. Tentunya tidak sedikit yang dikorbankan baik dengan menjual aset, berhutang atau berkoalisi dengan para pemodal.

Sudah seperti tabiatnya pasca pesta demokrasi kalau menang ia harus mengembalikan modal yang telah dikeluarkan baik dengan cara korupsi atau menerima suap untuk proyek para pemodal. Jika kalah, sudah pasti kecewa besar dan yang tidak terima kekalahannya berujung gangguan jiwa.

Beginilah jika semua landasan hidup dibawah sekulerisme yang memisahkan agama dan kehidupan. Tujuan hidup hanya berupa manfaat dan materi saja. Maka, Sangat sulit mencari pemimpin yang lurus niatnya mengurusi rakyatnya.

Di sisi lain, hari ini jabatan menjadi impian, karena dianggap dapat menaikkan harga diri /prestise, juga jalan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kemudahan/fasilitas lainnya

Maka nampaklah bahwa demokrasi merupakan jalan yang sulit untuk mendapatkan pemimpin yang mampu mengurusi urusan rakyatnya. Karena, ada modal besar yang menjadikan jalan kecurangan dan keburukan kepada pemimpin ketika kelak ia memimpin. Ditambah sekularisme-kapitalisme yang bertambah kelihatan bobrok dan rusaknya  yang tidak mampu membentuk manusia-manusia mulia kecuali manusia materialistik. Maka pantas saja, pesta demokrasi riskan bagi para caleg dari gangguan mental sebab berharap pada manfaat dan materi semata bukan karena ridho Allah ta'ala.

Islam memandang kekuasaan dan jabatan adalah Amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan harus dijalankan sesuai ketentuan Allah dan RasulNya. Artinya, Islam membentuk kaum muslim memahami bahwa amanah sebagai pemimpin bisa menjadi sebuah petaka ketika tidak sesuai dengan syariatNYA, dan sebuah kebaikan jika dijalankan berdasarkan perintahNYA. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw :

"Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu nanti pada hari kiamat akan menjadi sesuatu kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang dapat memegangnya dengan penuh kebenaran dan menunaikan kewajiban yang diamanahkan kepadanya “ ( HR Muslim ).

Ditambah didalam Islam, dalam pemilihan pemimpin tidak dengan biaya yang tinggi bahkan nol persen. Sebab pemimpin diseleksi berdasarkan lembaga khusus perwakilan rakyat yang kemudian mereka dipilih berdasarkan kekuatan ketaqwaan, kecerdasan dan kemampuan mereka dalam memahami Islam bukan berdasarkan modal dan pengaruh privilege mereka. Ketika telah ditentukan satu calon pemimpin selanjutnya maka rakyat akan membai'at taat padanya sebagai bentuk taat kepada pemimpin dibawah aturan Islam saja.

Luar biasanya Islam, maka pantas para pemimpin Islam pada masa Islam berjaya mampu mengembangkan Islam hingga mampu menguasai 2/3 dunia dan dengan kemajuan yang tidak dapat disaingi oleh peradaban manapun kala itu. 

Hal ini juga sebagai bukti keberhasilan sistem Islam berhasil mencetak pribadi muslim yang amanah dan terpercaya yang dihasilkan dari pendidikan yang tidak lepas dari akidah Islam 

Seperti sebuah perumpamaan, jika ingin berkendara agar cepat dan sampai pada tujuan. Maka jangan menaiki mobil yang bobrok. Jika demikian, maka yang harus diganti adalah mobilnya yang bobrok bukan supir atau pengendaranya. Maka benar jika ingin pemimpin yang amanah maka yang perlu diganti bukanlah sosok/figur melainkan sistem yang amanah pula yaitu sistem Islam. Mustahil bagi demokrasi melahirkan pemimpin amanah karena demokrasi menjadi penyebab riskannya gangguan mental dan merusak jiwa para calon pemimpinnya.

Allahu'alam bishowab.