-->

Hari Guru dan Dekadensi Moral Siswa

Oleh: Ummu Farras

Guru merupakan sosok yang berjasa dalam dunia pendidikan. Dari guru, individu dapat mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahui. Darinya pula, individu dapat menggapai mimpi-mimpinya.

Guru disebut juga sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena memang tidak mudah dalam mendidik individu. Dari kesabaran dan keikhlasan seorang guru dalam mendidik anak muridnya, menghasilkan individu-individu yang berilmu. Meskipun tidak memiliki gelar kehormatan, seorang guru akan selalu diingat oleh muridnya.

Untuk menghargai jasa para guru, dibuatlah Hari Guru Nasional. Tahun ini memiliki tema yang berbeda dari tahun sebelumnya. Melansir dari kemdikbud.go.id (30/10/2023), tema Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2023 adalah “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”.

Dari tema yang diusung, terlihat sekali bahwa tema tahun ini merefleksikan kurikulum yang sedang digunakan yaitu kurikulum merdeka. Ada beberapa hal dari kurikulum ini yang membantu guru dalam meningkatkan kualitas mengajar, salah satunya adalah seperti adanya Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang di dalamnya terdapat contoh metode/variasi mengajar, yang dengan harapan bahwa platform ini dapat digunakan untuk mengajar siswa dengan tipe belajar yang bervariasi melingkupi visual, audio, dan juga kinestetik.

Meskipun sebetulnya beberapa metode ataupun teknik mengajar yang mencakup semua tipe tersebut diperkenalkan sudah lama, namun bagi guru yang memiliki keterbatasan kemampuan di bidang IT, adanya platform tersebut membantu pekerjaan mereka. Akan tetapi, apakah perubahan kurikulum ini berdampak signifikan bagi kemajuan siswa baik dari segi akademik, emosional, dan spiritual?

Dampak Sekularisme

Sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Pemisahan ini pun terjadi di dunia pendidikan. Kurikulum yang digunakan saat ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan sekuler. Disebut pendidikan sekuler karena asas pendidikan nya bukan akidah Islam. Sudah diketahui bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di negara ini. Salah satunya ialah mengganti kurikulum yang sudah ada dengan kurikulum yang baru, seiring dengan bergantinya menteri.

Namun, nampaknya pergantian kurikulum yang terus menerus terjadi pun tak lantas membuat pendidikan di negara ini memiliki output yang gemilang dari berbagai sisi. Sebagai contohnya, individu mungkin saja bisa memiliki kemampuan akademik yang bagus, akan tetapi dia minim dalam hal kepribadian. Faktanya saat ini banyak generasi muda yang mengalami dekadensi moral. 

Selain itu, pendidikan sekuler pun membuat munculnya banyak kejadian mengerikan. Adanya tawuran antar pelajar, seks bebas, gaya hidup hedon, bullying, bunuh diri, kurang menghormati kepada guru, dan lain sebagainya, merupakan hal yang nyata terjadi pada siswa siswi sekarang ini. Semakin banyak kasus yang terjadi, menjadi sebuah fakta bahwa adanya dekadensi moral maupun mental. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan yang asasnya sekuler tidak mampu menghasilkan generasi yang cemerlang. Ini menjadi beban berat seorang guru.

Disamping seorang guru harus mendidik siswanya dengan baik, ternyata masih banyak ditemukan guru yang belum menerima upah yang layak sesuai dengan beban tugasnya yang cukup berat. Ditambah, menumpuknya beban administrasi harian yang harus diselesaikan. Dengan begitu, negara seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada generasi dan guru saat ini. Karena, negara lah yang berwenang mengganti kebijakan, termasuk kebijakan di dunia pendidikan.

Selain dari pendidikan yang sekuler, peran keluarga pun memberi pengaruh penting bagi tumbuh kembang generasi. Generasi yang tinggal bersama keluarga yang mengabaikan ajaran agama, akan menjadi generasi yang jauh dari tuntunan agama pula. Orang tua yang kurang paham mengenai agama, akan kurang pula mendidik anak sesuai ajaran agama. Akibatnya, generasi akan mungkin terbiasa meninggalkan atau mengabaikan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, ada saja generasi yang berperilaku seperti jauh dari agama.

Masyarakat dalam kehidupan sekuler pun terkondisikan hidup individualis. Mereka akan cuek atau mungkin tidak enak untuk menegur saat ada anak tetangga yang berlaku tidak baik. Mereka juga mungkin berpikir asalkan bukan anaknya yang melakukan kejahatan atau yang bukan diperlakukan semena-mena. Kondisi seperti ini menjadikan masyarakat bukan sebagai pengontrol, tetapi hanya sebagai manusia yang hidup di lingkungan yang sama.

Islam Menjadi Solusi

Adanya integrasi antara keluarga, masyarakat, dan negara merupakan hal yang dilakukan oleh Islam dalam menghasilkan generasi yang berkualitas. Pendidikan yang pertama merupakan tanggung jawab orang tua. Karena keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Individu yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan paham akan tuntunan agama seperti mengajarkan akidah Islam sejak dini, akan menjadikan dirinya tidak hanya hidup dalam kebahagiaan, namun juga taat pada ajaran Islam. Karena, dari kecil anak sudah kenal sedikit demi sedikit mengenai syariat Islam. Sehingga, anak akan memiliki benteng yang kukuh dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Untuk menjadi keluarga yang paham syariat Islam, orang tua wajib menuntut ilmu agama dan memperdalam ilmu keislamannya. Karena bagaimana orang tua akan memahamkan anak mengenai syariat Islam, sedangkan orang tua tidak paham atau kurang paham tentang syariat Islam itu sendiri. Sehingga, setiap individu wajib untuk menuntut ilmu agama.

Islam menjadikan masyarakat sebagai kontrol sosial. Masyarakat akan menegur, menasihati, atau mungkin melaporkan kepada pihak yang berwenang jika ada pelanggaran, baik terkait akidah maupun pelanggaran syariat. Masyarakat akan melakukan amar makruf nahi mungkar. Tidak akan ada masyarakat yang individualis, karena setiap masyarakat sadar bahwa dirinya akan menghadapi pertanggungjawaban di akhirat kelak jika berdiam diri saat melihat kemungkaran. Sehingga, pendidikan dan pergaulan generasi di lingkungan pun akan terjaga.

Negara dalam Islam pun memegang peranan yang sangat penting dalam melahirkan generasi yang berkualitas. Negara akan memberikan fasilitas pendidikan yang berasaskan akidah Islam. Pendidikan Islam ini akan menghasilkan generasi yang takut pada Allah Swt. Generasi yang memiliki kepribadian Islam, memiliki pola pikir dan pola sikap Islami. Tak hanya memiliki kepribadian Islam saja, tapi generasi ini juga cerdas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sangat menghormati gurunya. Negara dalam Islam akan memuliakan guru, memberikan gaji yang mencukupi kebutuhan hidup kepada guru, bukan hanya memberi penghargaan berupa Hari Guru. Bahkan pada masa masa Khalifah Umar bin Khathab, misalnya, gaji guru mencapai 15 dinar (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas). Guru akan berusaha mendidik siswanya dan menjalankan amanahnya dengan baik.

Negara pun tidak hanya mengambil kebijakan dalam hal pendidikan saja, tapi juga dalam hal penayangan media. Dalam Islam, negara hanya akan memberikan tayangan yang berkualitas yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta tayangan yang bermanfaat bagi rakyatnya. Tayangan yang memiliki konten dewasa, kekerasan, dan hal buruk lainnya, tidak akan diberi ruang oleh negara. Sehingga, generasi terjaga dari konten yang merusak.

Negara dalam Islam juga akan memberikan sanksi yang tegas bagi setiap pelanggaran yang dilakukan oleh rakyatnya. Jika rakyatnya sudah masuk ke dalam kategori yang dibebani hukum syara, maka negara akan menghukum sesuai ketentuan yang ada pada syariat Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan efek jera pada pelaku, mencegah orang lain melakukan hal yang sama, memberi rasa aman pada rakyat yang lainnya, serta hukuman tersebut juga dapat menghapus dosa pelaku.

Demikian upaya yang bisa dilakukan yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh termasuk dalam urusan bernegara, individu akan menjadi generasi yang tangguh, yang memiliki kepribadian Islam, yang cerdas, dan yang mampu mengisi peradaban yang gemilang karena Islam. Generasi ini juga akan menjadi pejuang yang teguh pada agamanya, namun tetap santun, saling menyayangi, serta saling menasihati dalam kesabaran dan kebaikan.

Wallahu’alam Bisshowab