Pelajaran Terbaik dari Kisah Eril

Oleh : Syifa Islamiati

Belum lama ini, media sosial dibanjiri dengan pemberitaan tenggelamnya anak sulung dari Gubernur Jawa Barat, Bapak Ridwan Kamil. Peristiwa tersebut terjadi di sungai Aare di kota Bern, Swiss. Tidak hanya pihak keluarga saja yang berduka. Tetapi hampir seluruh masyarakat Indonesia pun ikut berduka dan mendo'akan yang terbaik untuk Eril (panggilan sehari-harinya).

Diungkapkan dalam salah satu media bahwa mulanya Eril terbang ke Swiss bersama teman, ibu dan adiknya dengan tujuan untuk mencari kampus yang akan menjadi tempatnya meneruskan jenjang pendidikan S2. Insiden hilangnya Eril terjadi saat ia bersama adiknya, Zara dan temannya sedang berenang di Sungai Aare. Namun nahas, ia pun terbawa arus sebelum berhasil naik ke daratan. (CNBCIndonesia.com, 08/06/2022)

Sesungguhnya kematian itu di tangan Allah Swt. Kematian sejatinya sama dengan kehidupan. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri setiap makhluk. Hanya Dialah satu-satunya yang Maha Mengetahui. Kematian tidak akan terjadi jika ajal seseorang belum tiba. Maka yang menyebabkan kematian itu terjadi karena memang ajalnya telah sampai. Bukan karena kecelakaan, sakit parah, atau bahkan arus sungai yang menyeret Eril seperti pemaparan di atas. Itu semua hanya perantara sebab sampainya ajal.

Kita hanya menunggu giliran seperti antrean di loket. Jika telah tiba waktunya, maka mau tidak mau kita harus bersiap menghadapi kematian. Apakah kita sudah benar-benar siap menghadapi kematian? Apakah cukup hanya dengan mengamalkan rukun Islam yang lima itu?

Sungguh kita sebagai manusia tidak ada yang mengetahui tentang datangnya ajal. Kapan, dimana dan bagaimana hanya Allah Swt. lah yang tahu. Kita sebagai manusia hanya diperintahkan untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Swt. Firman-Nya dalam Al Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Kematian memang terasa begitu dekat. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kematian tidak memandang usia, jabatan dan status. Kematian juga tidak mesti datang dalam keadaan sakit atau di usia yang renta. Banyak yang sehat, rajin olahraga, makan yang bergizi, tiba-tiba ajalnya datang. Banyak juga yang masih bayi, anak-anak, yang masih muda beliapun meninggal tiba-tiba.

Lalu apa yang harus kita persiapkan sebelum ajal menjemput? Sebagai makhluk yang lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi datangnya ajal, kita mesti berlomba-lomba memperbanyak amal kebajikan. Dengan cara apa? Tentu saja dengan menjalankan segala perintah Allah Swt. dan menjauhkan apa-apa yang Dia larang.

Lantas, bagaimana bisa menjalankan syariat-Nya tanpa tahu dan memahaminya? Maka persiapan yang bisa kita lakukan tentu pertama kali kita harus belajar agama Islam dengan baik dan benar, serta mempelajari syariat Islam secara totalitas. Nah, hanya dengan cara itu kita bisa meraih ridha Allah Swt. sebab aktivitas kita akan senantiasa berjalan sesuai aturan yang Allah tetapkan. Dan itu semua bisa menjadi bekal untuk kita agar siap menghadapi kematian. 

Sebab sesungguhnya kematian adalah nasihat terbaik untuk hamba-Nya. Dari Eril kita bisa menghisab diri, betapa kita harus bersegera dalam amal salih untuk mempersiapkan kematian. Sebagai orang yang beriman kita tentu mengetahui bahwa Allah Swt. lah yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. 

رَبّيَ الّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ

“Tuhanku, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.” (QS Al-Baqarah: 258)

Bagi seorang muslim, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Justru mereka mencintai aktivitas-aktivitas yang dekat dengan kematian seperti jihad. Mereka yakin dengan jalan jihad itulah, kematian  menjadi kenikmatan yang penuh kemuliaan di sisi Allah Swt. Karena mereka hidup untuk membela agama Allah Swt, memperjuangkan dinul haq yakni agama Islam.
banner zoom