Bekal Pulang Kampung

Oleh : Silah WD
(A Muslimah Learner) 

Liburan telah usai, bulan syawal mengiringi kita hari ini. Namun momen sukacita tidak mudah dilupakan, ramai pulang kampung mengingatkan kita tahun perayaan umat Islam yakni Idul Fitri, Indonesia muslim terbesar di dunia dengan total 231,06 juta jiwa berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre tahun 2022 dan jumlah itu setara dengan 86,7% dari total penduduknya. Menurut survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub), tahun ini diperkirakan ada 85,5 juta orang yang akan melakukan perjalanan mudik atau pulang kampung lebaran.

Masyarakat yang pulang kampung, merantau dari desa ke ibukota sehingga momen idul fitri digunakan untuk berkumpul dengan keluarga kembali. Pulang kampung tentu membutuhkan persiapan bekal.Tidak hanya dari segi fisik, finansial tetapi juga kendaraan. Di Indonesia pemerintah memberikan syarat pulang kampung yakni wajib 2 kali vaksin dan booster dengan bukti aplikasi PeduliLindungi. Tidak hanya itu pemudik juga mencari informasi rute arus mudik arus balik, menguji emisi kendaraan, bahkan  mendaftarkan diri mudik gratis hingga terjebak kemacetan. Sedangkan pemudik yang memiliki bekal berlebih tentu  menggunakan opsi lain yakni lewat jalur udara.

Maka bila di dunia telah sampai pulang kampung dengan segala hiruk pikuknya akan tetap merasa senang? Tentu senang. Apabila hidup selesai kita berpulang, apakah senang? Timbullah keraguan yakni 2 jawaban. Pertama, karena merasa banyak dosa dan amal belum cukup. Kedua, hati yang cinta mati pada dunia berbanding terbalik dengan urusan akhirat yang setengah hati.

Mengapa demikian? Di Indonesia yang mengadopsi sistem kapitalis sekuler, paham kebebasan ini menjadikan rakyatnya sering menggaungkan kata Yolo atau You only live once, kamu hidup hanya sekali. Lakukan apa saja yang membuatmu senang tidak perduli benar atau salah. Dan kalimat yang paling epik di jaman sekarang yakni yang penting tidak merugikan orang lain padahal dia melakukan kemaksiatan. Astaghfirullah.

Negara berasaskan sekuler juga turut andil mencekoki gaya hidup hedon kepada rakyatnya sehingga standar hidup mereka hanya sebatas materi saja. Suburnya kemaksiatan di kapitalis sudah tidak terbendung dari seks bebas, eljibiti, prostitusi, korupsi, dan segala macam bentuk kriminal karena kebebasan ekspresi selalu di dukung, benar salah bukan ukuran. Aturan kebablasan buatan manusia. Ditambah negara yang harusnya melindungi justru tidak perduli akan kerusakan jiwa dan mental rakyatnya. Maka tidak heran stigma masyarakat bahwa uang bisa membeli apa saja. Halal atau haram tidak diperhatikan. Lantas apakah hidup ini demi materi saja? Sungguh hidup tidak serendah itu.

Kita adalah muslim yang sudah memiliki standar di kehidupan, ini berdasarkan petunjuk dari Allah SWT melalui nabi Muhammad Saw yakni Al-qur'an dan Hadits. Dalam surah Adz Dzariyat 56 , “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”. Oleh karena itu, segala aktivitas dan perbuatan harus dilandasi niat untuk ibadah. Selain untuk mendapatkan pahala, ini dilakukan semata-mata agar mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Makna ibadah dalam konteks kehidupan tidak terbatas pada aspek-aspek khusus seperti salat, sedekah, zakat, puasa dan haji saja tapi termasuk semua aspek kehidupan yakni penerapan islam secara kaffah. Dari Individu, Masyarakat dan Negara. Islamlah yang  meminimalisir bahkan tidak akan ada kemungkaran dimuka bumi ini karena Islam memiliki standar kehidupan yang jelas. Pahala dan dosa, surga dan neraka serta hukum yang membuat jera serta tegas pada siapa saja. Aturan Sang Pencipta yang pasti tahu kebaikan apa saja untuk ciptaan-Nya.

Dalam Islam hakikat ibadah adalah tunduk dan taat kepada Allah SWT untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ini menunjukkan bahwa semua makhluk tunduk mengikuti aturan-Nya. Jujurlah ini juga reminder diri karena seringnya tertatih dan sadar bahwa diri ini berlumpur dosa, berusaha untuk bersegera menggapai Ridho-Nya. Hadits masyhur dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ pernah memegang pundakku dan bersabda, "Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu adalah orang asing atau seorang pengembara".
(Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 5937)

Maksud hadits ini adalah bersikap seakan dunia ini hanya tempat yang kita lewati untuk sekejap saja. Karena seorang asing atau pengembara tidak akan terlalu memikirkan tempat yang ia lewati sebentar. Karena itu Rasulullah ﷺ memerintahkan kita agar tidak terlalu terlena dengan dunia, dunia itu fana hanya beberapa saat saja. Dunia hanyalah tempat untuk memperbanyak amalan agar mencapai tempat yang terbaik di akhirat kelak, syurga-Nya. Akhirat sejatinya tempat pulang kampung yang sebenar-benarnya, maka sudah cukupkah bekal kita?

Dari sinilah kita berupaya mengkaji islam. Islam adalah agama paripurna, sehingga kita mampu mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya dan menyadari akan kewajiban bahwa Islam menunjukkan jalan pulang yang sebenarnya. Dengan islam kita sebagai muslim memahami Hisab hari mempertangungjawabkan segala perbuatan dan akan merasakan pulang kampung sejati.  Mendapatkan sambutan panggilan Ilahi "wahai jiwa yang tenang" dan berkumpul di Jannah-Nya nanti.

Setelah memahami hakekat Islam maka lahirlah semangat akan dakwah, amar ma'ruf nahi mungkar. Masyarakat akan sadar bahwa kapitalisme adalah sistem rusak yang harus dicampakkan. Mensyiarkan dakwah Islam ideologis bahwa tidak hanya individu, masyarakat tetapi negara juga menerapkan syariat Islam yakni Khilafah.
Negara adidaya yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan tidak hanya untuk muslim tetapi seluruh manusia.
banner zoom