Ibu Depresi Bunuh Anak, Efek Domino Sistem Kapitalisme

Oleh : Astina (Pegiat Opini Muslimah)

Kasus pembunuhan sadis dengan pelaku seorang ibu muda berinisial KU (35 tahun) di Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, yang menggorok leher anak kandungnya yang berusia 6 tahun, dan melukai 2 anak kandung lainnya menggegerkan masyarakat. Sebab, ibu muda yang dikenal pendiam di antara para tetangganya ini, tega menghabisi darah dagingnya sendiri dengan sadisnya.

Ahli Psikologi Forensik, Reza Indra Giri Amriel mengimbau, kepada pihak kepolisian untuk memeriksa lebih lanjut kejiwaan pelaku. Walaupun dari berita yang ada, penyebab pelaku melakukan tindakan sadis tersebut kepada anaknya karena alasan ekonomi, kesulitan hidup.
Pelaku KU dalam sebuah pengakuannya di kantor polisi, dalam sel penjara, ia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya. Meski dengan cara yang salah, dia meyakini kematian anak-anaknya adalah jalan terbaik.

“Saya ingin menyelamatkan anak-anak saya biar enggak hidup susah. Enggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar enggak sedih kayak saya,” ujar pelaku.
Dia mengaku selama ini kurang kasih sayang. Dia mengaku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Apalagi, dia mengaku suaminya sering menganggur. “Saya ini enggak gila. Pengin disayang sama suami, suami saya sering nganggur," katanya. Pengakuan dari pelaku berbanding terbalik dengan pengakuan suaminya, dalam akun tvOneNews ia mengaku mengirimkan uang 2,5 juta setiap bulannya. 

Telaah Akar Masalah

Kasus ibu membunuh darah dagingnya sendiri bukan hanya terjadi saat ini, tapi sebelum kejadian ini ada kasus yang lain juga terjadi di daerah yang berbeda. Fitrah seorang ibu tentu menyayangi anaknya dan tidak akan menyakiti bahkan sampai membunuh anak kandungnya sendiri. Dalam islam kedudukan ibu sangat tinggi, karena perjuangan seorang ibu dari hamil sampai mengasuh anak-anaknya bukan pekerjaan yang mudah. Selain itu ibu juga sebagai pelindung bagi anak-anaknya. Tetapi ibu dalam kasus ini ternyata tidak sesuai dengan fitrah seorang ibu.

Sistem kapitalisme-sekulerisme yang saat ini digunakan di negeri kita ini adalah sistem yang merauk keuntungan dari masyarakat dan berpihak kepada orang-orang yang memiliki modal besar, sehingga masyarakat kecil yang tidak memiliki modal akan semakin terpuruk dan akan menyebabkan kemiskinan. Lapangan pekerjaan juga terasa sulit, kebutuhan pokok untuk rumah tangga juga melonjak dan berbanding terbalik dengan pendapatan masyarakat saat ini. Dalam sistem kapitalisme perempuan atau seorang ibu juga dituntut untuk bekerja membantu suami untuk mencari nafkah, karena pendapatan suami yan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Islam, Mengembalikan Fitrah Ibu

Kasus berulang ini tak cukup diberikan solusi dengan perbaikan kejiwaan individu pelakunya. Problem ini seharusnya mendorong negara menghapus semua faktor sistemik yang mentrigger masalah kejiwaan kaum ibu. 

Islam dengan sistemnya telah membuktikan bahwa negaralah yang akan menjaga peran laki-laki dan perempuan yang telah didefinisikan Islam dalam kehidupan keluarga, dan mengangkat status penting perempuan sebagai istri dan ibu dengan jaminan penyediaan nafkah bagi perempuan sehingga mereka tidak ditekan untuk mencari nafkah dan mengganggu tugas-tugas penting mereka terhadap anak-anak dan keluarga mereka. 
Alhasil, Islam memiliki pandangan yang tak tertandingi tentang pentingnya peran keibuan, disertai dengan sejumlah hukum dan tugas yang ditentukan pada laki-laki dan perempuan untuk memastikan bahwa semua hal itu dilindungi dan didukung juga oleh negara. Oleh karena itu, hanya sistem yang menerapkan Islam secara menyeluruh yang akan mengembalikan status besar yang layak dimiliki ibu dalam suatu masyarakat dan mengembalikan Ibu pada fitrahnya. 

Wallahu a'lam.
banner zoom