Perubahan Kebijakan Minyak Goreng Melunturkan Kepercayaan Rakyat

Oleh : Nazilatul Qodariyah, S.Pd. (Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok) 

"Kemarin minyaknya yang langka, sekarang pembelinya yang langka." Itulah ungkapan yang keluar dari ibu-ibu yang kebingungan dengan kebijakan pemerintah saat ini. Bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang plin plan tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Bahkan malah menambah ruwet permasalahan rakyat. Bukti nyatanya adalah tentang harga minyak. 

Mulai 16 Maret 2022, pemerintah tidak lagi membatasi harga minyak goreng (migor) maksimal Rp14.000 per. Sehari setelah pemerintah mengumumkan perubahan kebijakan minyak migor dari harga eceran tertinggi (HET) dengan wajib pemenuhan domestik (domestic market obligation/ DMO) menjadi mekanisme pasar dengan subsidi untuk migor curah, sehingga migor tidak lagi menjadi barang langka tapi mendadak membanjiri supermarket. 

Ketika pemerintah menetapkan HET minyak goreng, yaitu Rp 14.000 per liter, masyarakat sangat sulit untuk mendapatkan minyak. Pemerintah mengklaim minyat sawit sedang mengalami kelangkaan. Namun, ketika pemerintah mengembalikan harga minyak ke harga pasar, minyak goreng pun melimpah ruah dengan harga 2 kali lipat lebih dari HET yang ditentukan pemerintah sebelumnya. Banyaknya peredaran minyak goreng saat ini justru mematahkan argumen pemerintah tentang kelangkaan minyak. Lunturlah secara perlahan kepercayaan rakyat kepada pemerintah.

Yang anehnya lagi, di saat rakyat kesulitan mendapatkan migor, sejumlah partai politik malah menggelar pasar migor murah bahkan ada yang membagikan gratis. Seperti yang dilakukan PDIP telah melakukan pembagian minyak goreng hingga 10 ton. Sementara PSI telah menggelar operasi pasar murah. Hal ini membuat rakyat pun menaruh curiga bahwa sebenarnya produksi migor itu banyak namun banyak juga yang menimbun. 

Itulah akibatnya jika dalam jual beli ada pematokan harga. Pematokan harga juga sangat membahayakan bagi rakyat. Dengan adanya patokan harga, akan sangat memungkinkan adanya "pasar gelap" (penjualan tanpa diketahui pemerintah) bahkan terjadi penimbunan. Dari pasar gelap dan penimbunan inilah yang nantinya akan menyebabkan harga melambung tinggi. Fakta yang sangat real saat ini adalah harga migor tadi. 

Karena itulah Allah mengharamkan pematokan harga. Padahal seharusnya dalam jual beli ada unsur suka sama suka, dan bagi penjual dibolehkan untuk mengambil keuntungan sesuai keinginannya. Pembeli pun akan membeli barang yang sesuai kesanggupannya. Maka akan terbentuklah mekanisme pasar yang alami. Kalau pun ada kenaikan, tidak akan sampai 2 kali lipat dari harga sebelumnya.

Dalil larangan pematokan harga pun jelas dari hadits-hadits Rasulullah SAW. Bahkan pematokan harga termasuk dalam bentuk kezaliman, apalagi jika yang melakukan adalah penguasa. Seperti yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Abu Hurairah mengatakan: "Bahwa ada seorang laki-laki datang lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga ini.' Beliau menjawab: '(Tidak) justru, biarkan saja.' Kemudian beliau didatangi oleh laki-laki yang lain lalu mengatakan: 'Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga ini.' Beliau menjawab: '(Tidak) tetapi Allah-lah yang berhak menurunkan dan menaikkan'."

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Anas yang mengatakan: "Harga pada masa Rasulullah SAW membumbung. Lalu mereka lapor: 'Wahai Rasulullah, kalau seandainya harga ini engkau tetapkan (niscaya tidak membumbung seperti ini).' Beliau menjawab: 'Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Menciptakan, yang Maha Menggenggam, yang Maha Melapangkan, yang Maha Memberi Rizki, lagi Maha Menentukan Harga. Aku ingin menghadap ke hadirat Allah, sementara tidak ada satu orang pun yang menuntutku karena suatu kedzaliman yang aku lakukan kepadanya, dalam masalah harta dan darah."

Kezaliman pemerintah sangat dirasakan oleh rakyat. Tak hanya migor yang mahal, tapi harga bahan pokok yang lain pun banyak yang naik dan tidak turun lagi. Rakyat yang berpenghasilan kecil dan tidak punya uang, apakah hanya bisa menjerit? Tapi menjerit pun tidak pernah dipedulikan pemerintah. Seolah pemerintah tuli dan tidak tahu apa-apa terkait penderitaan rakyat.

Bagi ibu-ibu yang terbiasa masak, minyak goreng mahal dan tidak bisa membelinya bukan masalah yang besar. Ibu-ibu bisa menyiasati masakannya dengan mengukus, merebus atau memanggang. Kalau ada rezeki, InsyaAllah bisa terbeli juga minyak gorengnya walaupun dengan harga tinggi. 

Tapi masalahnya bukan itu sebenarnya. Yang menjadi masalah adalah pemerintah yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Bahkan menganggap sepele jeritan rakyat. Pemerintah zalim ini ada karena sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Karena itu, kita harus melepaskan sistem kapitalisme yang membuat rakyat sengsara, dan kembali kepada penerapan Islam kaffah yang dulu pernah berjaya. Karena hanya dengan pemerintahan Islam lah semua persoalan dapat terselesaikan.
banner zoom