Kapitalisme Sukses Membuat Jurang Kemiskinan, Hingga Hancurkan Fitrah Keibuan

Oleh : Widya Rahayu (Lingkar Studi Muslimah Bali)

Adanya pandemi covid-19 yang tak kunjung usai menambah beratnya beban kehidupan. Ditambah adanya kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, sehingga rakyat yang miskin jadi tambah miskin.

Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan dengan skenario pesimistis bahwa tingkat kemiskinan pada 2022 berpotensi melonjak menjadi 10,81 persen, setara 29,3 juta penduduk miskin. Hal ini di sebabkan melemahnya anggaran perlindungan sosial yang membuat semakin banyak penduduk miskin yang tidak terlindungi secara ekonomi. Dikutip Republika.co.id

Pada dasarnya di sistem kapitalisme ini kesejahteraan makin sulit dirasakan, dimana sistem ini hanya peduli kepada kepentingan segelintir orang, yaitu para pemilik modal, dan justru abai pada nasib sekian juta orang.

Selain itu kerusakan sistem kapitalisme dengan mengenyampingkan rasa keadilan bagi umat manusia sehingga sukses membuat jurang kemiskinan kian melebar.

Meningkatkan tingkat kemiskinan yang disebabkan karena kerusakan sistem kapitalisme ini makin menjadi. 

Seperti hal nya fenomena yang belum lama terjadi, terkait seorang ibu di Brebes rela menggorok ketiga anaknya. 

Seorang ibu muda di Kecamatan Tonjong, Brebes, berinisial KU (35 tahun), tega membunuh anaknya yang masih 6 tahun, pada Ahad (20/3/2022). Dua anak kandung lainnya bahkan juga nyaris jadi korban. (Republika.co.id, 20/3/2022)

Sulit dipercaya, pasalnya tidak ada ibu yang tega mencelakakan buah hatinya sendiri. Namun kini benar adanya seorang yang sukarela menghabisi nyawa buah hati mereka. Kenapa? 

Pelaku Kanti Utami dalam sebuah pengakuannya di kantor polisi, dalam sel penjara, ia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya. Meski dengan cara yang salah, dia meyakini kematian anak-anaknya adalah jalan terbaik.

“Saya ingin menyelamatkan anak-anak saya biar enggak hidup susah. Enggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar enggak sedih kayak saya,” ujar Kanti Utami (republika.co.id)

Tragis, miris, dan ironis lagi-lagi masalah perekonomian. Kasus seperti ini sudah sering terjadi di negeri tercinta ini. 

Bukan karena benci sang ibu menghabisi nyawa anak kandungnya. Justru karena sayang sekali pada mereka.

Sang ibu tidak ingin anaknya menderita, merasakan kesulitan, kepedihan tak disayangi, kesedihan menghadapi kehidupan seperti yang ia rasakan. Sayangnya, solusi yang diyakininya salah, dengan menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Kerusakan sistem kapitalisme ini dapat menghancurkan fitrah keibuan. Masalah perekonomian yang membelit dan tak kunjung usai, hubungan suami istri yang jauh dari sakinah mawadah dan rohmah, luka pengasuhan yang membelenggu, hingga agama yang dikucilkan dari kehidupan membuat umat manusia makin jauh dari Rabbnya. 

Beratnya beban ibu, yang harus memikirkan pemenuhan kebutuhan anak, mulai dari sandang, pangan, dan papan. Bagaimana biaya sekolah anak, sewa rumah, makan, transportasi, dll?

Ada kalanya merasa sedih dan lelah. Asal kita kembalikan rasa itu pada Allah. Tentu tak ada salahnya merasa terpuruk asal tak lupa ada Allah Yang Maha Kuasa.

Namun sangat di sayangkan di sistem kapitalisme ini, adanya moderasi beragama, hingga pengucilan agama islam. Astagfirullahal adzim.

Karena penerapan sistem inilah, peristiwa serupa tumbuh subur bagai bunga yang bermekaran di musim semi.

Dengan dalih ekonomi, banyak ibu yang terbunuh hati nurani dan pintu hatinya. Kemiskinan yang menjadi sumber dari segala peristiwa ini membuktikan bahwa sistem demokrasi tidak mampu menuntaskan kemiskinan hingga ke akarnya.

Sangat berbeda bila negara menerapkan sistem Islam yang dijadikan sebagai aturan dalam bernegara. 

Rakyat dijamin kesejahteraannya oleh negara Islam (khilafah). Sehingga tidak akan terjadi kemiskinan yang menyebabkan pembunuhan ibu kandung terhadap anaknya. 

Dan juga di dalam sistem Islam kebutuhan pokok rakyat wajib untuk dipenuhi. Dengan cara, setiap kepala keluarga di dalam negara khilafah diberikan lapangan pekerjaan yang layak sehingga mampu menafkahi keluarganya. 

Serta khilafah wajib untuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.
Maka, sebagai kaum muslimin, kita harus berjuang untuk menegakkan kembali khilafah agar bisa tegak di bumi Allah.

Karena khilafah adalah kebutuhan, janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah SAW. 

Wallahu a’lam bishowab.
banner zoom