Sanggupkah Salam Pancasila Menjadi Solusi Perpecahan Bangsa?

Oleh : Ummu Wildan

Usulan Kepala BPIP terkait salam Pancasila menuai pro dan kontra. Pengusul sendiri mengharapkan salam ini menjadikan Indonesia tetap bersatu, tidak pecah, dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Kegiatan sosialisasi pun diluncurkan untuk mensukseskan terintenalisasinya salam ini. Diantaranya adalah bedah buku karya Dosen UIN Kalijaga, Khoirul Anam, yang berjudul "Salam Pancasila: Sebagai Salam Kebangsaan, Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI".

Usulan untuk melegalisasi dan melegitimasi salam Pancasila melalui ijmak Indonesia oleh Kepala BPIP ini perlu dikritisi mengingat pengorbanan yang akan diberikan dan kesesuaiannya dengan masalah yang ingin diselesaikan. Energi besar sebuah lembaga negara hendaknya dikerahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan krusial bagi negeri. 

Indonesia saat ini berada pada krisis multi dimensi. Pandemi yang melanda sejak 2020 telah menyisakan persoalan ekonomi yang pelik. Solusi PSBB dan PPKM pun membawa dampak lain bagi ketahanan keluarga Indonesia; angka perceraian melonjak tinggi dibandingkan sebelumnya. Sistem pendidikan pun terseok-seok menjalankan proses pembelajaran. Learning loss tak terhindarkan bagi mayoritas anak bangsa. Kaum Muslimin yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini pun kian sering meradang karena menjamurnya penistaan terhadap agama mereka. Belum lagi berbagai permasalahan kriminalitas seperti kekerasan seksual dan narkoba yang tak kunjung surut dari negeri ini. 

Indonesia sendiri tidak mengalami perpecahan yang serius hingga perbedaan itu seolah diangkat ke permukaan dan hendak diratakan satu arah. Berbagai pelaporan terkait kasus penistaan agama oleh kaum Muslimin terhadap oknum yang pro rezim jarang mendapatkan respon yang tegas. Begitu pelaporan dilakukan oleh pihak pro rezim, penindakan begitu cepat dilakukan. 

Pembenturan antar kelompok saat ini sesuai dengan dokumen-dokumen RAND Corporation. Rand Corporation adalah sebuah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah. Rand corporation, lembaga yang berpusat di Amerika Serikat ini, memetakan kaum Muslimin menjadi 4, yaitu fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekularis. Dari divisi ini mereka menentukan pihak kawan maupun lawan, pihak yang bisa diarahkan, juga pihak yang harus menjadi target utama. 

Kesesuaian antara perpecahan yang terjadi di negeri ini dengan agenda Barat perlu diwaspadai. Dosen UIN Kalijaga sekaligus penulis bedah buku terkait salam Pancasila sendiri menyebutkan bahwa bukunya adalah klarifikasi dari Kepala BPIP dalam pertarungan wacana Islam fundamentalis dengan ideologi Pancasila sebagai ideologi yang dianggap paling luhur. 

Islam dan kaum Muslimin tidak punya permasalahan dengan Pancasila. Perjuangan melawan penjajah tidak jauh dari semangat jihad yang dikobarkan oleh para ulama, misalnya oleh KH. Hasyim Asy'ari. Teriakan takbir Bung Tomo begitu membakar jiwa melawan tajamnya peluru. 

Islam pun mengharuskan pemeluknya untuk menghormati perbedaan. Bagimu agamamu bagiku agamaku, begitu disebut dalam surat al Kafirun. Surat pendek yang sejak dini diajarkan kepada anak-anak. Tidak ada paksaan (untuk) memasuki agama (Islam) menjadi sebuah perintah Allah SWT yang sangat jelas disebut dalam surat al Baqarah ayat 256. Begitupun kaum Muslimin diharamkan untuk menistakan agama lain seperti disebut dalam surat al An'am ayat 108, yakni "Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan ".

Islam pun mengajarkan untuk menghargai perbedaan suku-suku. Tidak ada yang dipandang lebih mulia, baik keturunan Arab maupun non Arab. Perbedaan bahasa dan warna kulit pun disebut sebagai tanda kebesaran Allah SWT.  

Dalam sejarah penerapan Islam pun kemajemukan bukanlah suatu masalah. Semasa kepemimpinan Islam berbagai suku dan agama dapat hidup berdampingan. Keadilan diwujudkan tanpa memandang Muslim atau non Muslim. Kisah masyhur tentang kekalahan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam persidangan terkait baju besi menghadapi seorang Yahudi menjadi bukti keadilan Islam. 

Masalah perpecahan di negeri ini bisa diakhiri dengan menerapkan kembali Islam secara menyeluruh seperti pernah terjadi pada pemerintahan Islam dulu. Pengucapan salam takkan cukup untuk menyatukan perpecahan yang disebabkan oleh penerapan sistem sekularisme saat ini.

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!




banner zoom