OMICRON HADIR, PANDEMI BELUM BERAKHIR

Oleh : Erlyn Lisnawati 

Realita negeri ini belum terlepas sepenuhnya dari hantaman gelombang covid 19 selama dua tahun lamanya. Kini hadir varian baru dengan sebutan virus Omicron. PSBB berjilid - jilid, kini kembali ketenangan hidup kembali terusik setelah merebak berita datangnya varian baru Omicron.  Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Grace Mediana, beliau mengatakan bahwa saat ini khususnya di Kabupaten Bandung belum ada informasi mengenai kasus covid 19 varian Omicron ( Dara.co.id 19/12/21 ). Menurutnya perlu adanya antisipasi virus tersebut, masyarakat harus tetap patuh dalam menjalankan protokol kesehatan. Selain itu dengan cara menggenjot program vaksinasi covid 19. Kalaupun pada akhirnya terpapar virus varian Omicron, tidak akan terlalu parah, begitulah pendapat beliau.

Sudah bukan rahasia lagi, pandemi memberikan efek yang sangat dahsyat bagi semua aspek kehidupan. Lambannya penanganan masalah covid 19. Ketidak seriusan penguasa dalam mengantisipasi masalah pandemi. Penerapan PSBB yang berlapis - lapis bahkan berjilid jilid, membuat rakyat jengah. Seolah ingin menghindari atas kebijakan yang seharusnya negara berikan kepada masyarakat. Demi memutar roda perekonomian mikro dan makro, dengan alibi semata hanya karena Pemulihan Ekonomi Nasional ( PEN ). Pada akhirnya tampak dengan jelas menghidupi ekonomi kapitalisme yang ribawi. Beban rakyat selama pandemi semakin bertambah, kemiskinan, PHK melonjak, harga obat naik, pun harga kebutuhan pokok ikut meroket.

Mirisnya lagi, negara ikut memanfaatkan situasi dengan " praktek perdagangan " kepada rakyat, mulai dr tes  SWAB, PCR, vaksin berbayar hingga saat ini yg sedang ramai adalah pengadaan hotel yg bertarif mahal untuk tempat isolasi. Seolah melenggang kangkung, para pelaku korupsi dana bansos untuk penanganan pandemi, pengayaan sarana & prasarana penanggulangan pandemi. Sungguh tidak sama sekali kompeten malah tidak sama sekali pro pada rakyat. Kondisi seperti ini sungguh meresahkan. Gencarnya program vaksinasi dengan alasan penguatan imunitas. Padahal bukan hanya dengan vaksinasi, namun pangan dan kecukupan gizi pun lebih penting.

Belajar dari pengalaman selama kurun waktu dua tahun ini, cacat bawaan yang dirasakan karena mengadopsi sistem kapitalisme sekuler. Mengeruk keuntungan dari kepentingan rakyat. Pandemi yang menjadi objek bisnis para penguasa kapitalis. Apakah ada sistem yang mampu mengakhiri pandemi yang tidak kunjung berakhir ini ?

Tentu saja ada, Islam sebagai asas kehidupan yang berlandaskan akidah Islam. Islam yang memuliakan fitrah hidup sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Allah SWT. Negara hadir sebagai raa'in dan junnah, tampuk pimpinan menjalankan amanahnya dengan penuh ketakwaan serta tanggungjawab. Kehadiran sosok pemimpin yang berpegang teguh pada syariat, akan mampu membebaskan diri dari belenggu ideologi kapitalisme sekuler. Setiap langkah, kebijakan apapun demi mengentaskan masalah pandemi ini, tentu saja tujuannya demi kemaslahatan ,keamanan umat semata. Seperti termaktub dalam ( HR Ath Thabrani )  "  Tidak boleh memudarotkan diri sendiri dan orang lain didalam Islam ".

Sistem kehidupan Islam akan mendukung secara penuh penanganan wabah Covid 19. Negara hadir sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dan sentral. Dari hulu sampai hilir begitulah langkah yang diambil. Berupa penerapan prinsip - prinsip dan tindakan praktis. Dari hulu sampai hilir.

Di hulu, yakni segera mengarantina wilayah secara serempak area pandemi, memisahkan orang yang sehat dari yang terinfeksi, serta yang terinfeksi akan diobati sampai sembuh. Disamping itu adanya kemudahan dalam bidang administrasi dalam mengatasi berbagai persoalan teknis dalam pelaksanaan isolasi/pemisahan sampai pengobatan secara cuma - cuma.

Di hilir, dimana negara menjamin akses yang mudah dan gratis terhadap pelayanan kesehatan. Tentu saja dengan standar medis terbaik dan manusiawi.
Negara menjamin pemenuhan berbagai kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan, transportasi dll. Pembiayaan berbasis Baitul mal, juga ditambah kesungguhan individu berlomba - lomba dalam kebaikan. Pastinya, negara akan memiliki kemampuan finansial yang kuat dan memadai. Semua ini akan terwujud ketika negara hadir sebagai pelaksana syari'at Islam secara kaffah. Allah SWT telah  menjanjikan, kesejahteraan bagi seluruh alam, akan menjadi kenyataan yang kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh alam.

Wallahu’ allam bi shawab

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


banner zoom