Eksibisionis, Lahir dari Sistem Kapitalis

Oleh : Widarningsih ( Aktivis Muslimah)

Baru baru ini, sebuah video tak senonoh mengguncang jagat maya. Si pemeran video nekat mempertontonkan aurat nya. Pornoaksi tersebut terjadi di Yogyakarta International Airport, Kulonprogo. Pihak kepolisian pun segera bertindak cepat menelusuri asal muasal video tersebut. Hingga akhirnya, pada 4 desember 2021, seorang wanita yang diduga pemeran tunggal dalam video tersebut berhasil ditangkap pihak yang berwenang. Selanjutnya, pelaku yang kemudian dikenal dengan nama Siskaeee tersebut telah lama melancarkan aksinya. Dalam penyelidikan ditemukan 2000 video dan 3.700 gambar yang teraimpan di gadget nya (suarasurakarta.com 7/12).

Akar Penyebab Eksibisionis

Aksi mempertontonkan bagian tubuh privat sperti yang dilakukan oleh Siskaee disebut dengan eksibisionis. Dikutip dari Thrive Works, eksibisionis merupakan salah satu gangguan mental. Ada beberapa faktor penyebab eksibisionis, seperti gangguan kepribadian, konsumsi alkohol atau trauma masa lalu seperti pelecehan seksual.

Dalam kasus Siskaeee, terdapat faktor eksternal yang membuat pelaku terus menerus melakukan perbuatan tak tau malu tersebut. Yakni motif ekonomi. Dilansir dari situs liputan6.com 9/12, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIY Ajun Komisaris Besar Roberto GM Pasaribu saat konferensi pers, menyampaikan salah satu motif pelaku adalah ekonomi. Kurang lebih Siskaeee mendapat penghasilan kotor 2 miliar selama kurun 2020-2021 dari hasil meng upload video seronok di situs online yang berbasis di luar negeri. Luar biasa !!

Sistem kehidupan yang sekuler semakin menguatkan faktor-faktor diatas. Kehidupan yang jauh agama, membuat orang kehilangan rasa malu nya. Parahnya lagi, rasa tak tahu malu itu digunakan sebagai alat mendapatkan segelintir uang. Selain itu, kehidupan sekuler menciptakan masyarakat yang liberal. Bebas menentukan apapun yang dia lakukan. Termasuk apa yang dilakukan Siskaae. Standar baik buruk berada di tangan sendiri. 

Sekulerisme-Liberalisme ditopang dengan sistem kapitalis yang menggunakan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan. Maka, tak heran bila dalam meraih materi, orang bisa melakukan apapun. Meski harus memutus urat malu nya.

Sinergi Upaya Pencegahan Bersama

Sebagai bentuk gangguan mental, eksibisionis bisa disembuhkan. Dalam hal ini, perlu sinergi dengan tenaga medis semacam Psikolog. 

Terapi Perilaku Kognitif dapat efektif bagi orang tersebut untuk mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan dorongannya, serta mengajarkan keterampilan untuk menangani dorongan tersebut dengan cara yang sehat. Ini biasanya mencakup restrukturisasi kognitif (mengidentifikasi dan mengubah pikiran yang menyebabkan perilaku), pelatihan relaksasi (untuk mengurangi paparan impuls) dan pelatihan keterampilan mengatasi perasaan ingin menunjukkan aurat (Tirto.id 8/12)

Peran agama krusial dalam proses rehabilitasi. Dalam HR. Bukhari disebutkan bahwa malu adalah bagian dari iman. Maka, ketika sudah tak ada rasa malu pada diri manusia, artinya keimanan nya telah terkikis. Oleh karena itu, penting sekali setiap individu wajib dekat dengan Sang Pencipta. Mempelajari aturan aturan agama yang bisa membuat diri lebih tenang, termasuk dalam pengendalian hawa nafsu juga memupuk rasa malu.

Sementara itu, akar masalah yang melingkupi seluruh sistem kehidupan juga harus dicabut hingga bersih. Sekulerisme,Liberalisme dan Kapitalisme harus dienyahkan dari kehidupan ini. Karena 3 paham itulah yang menjadi akar semua permasalahan. Semakin jauh dari Allah, semakin jauh pula keberkahan hidup. Hanya aturan dari Allah yang mampu memberikan keberkahan bagi individu maupun seluruh alam.

Wallahu'alam.
banner zoom