LEVEL PPKM TURUN, KAWASAN AGLOMERASI RAMAI

Oleh : Erlyn Lisnawati (ibu rumah tangga)

Saat ini kawasan aglomerasi mulai ramai, seperti yang terjadi di Bandung Raya ( kota/ kabupaten Bandung - Cimahi - Bandung Barat ) & Bodebek ( Bogor - Depok - Bekasi ). Belakangan ini suasana kotanya semakin ramai, tentu saja hal ini membawa kekhawatiran banyak pihak, terutama epidemiologi yang memperingatkan kedatangan gelombang ke tiga Covid 19. Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, menanggapi hal ini perlu disikapi dengan disiplin protokol kesehatan ( rri.co.id ), meskipun sudah di vaksin tapi bukan obat & orang yang sudah di vaksin tetap berpotensi terpapar Covid 19, jika  kedisiplinan akan prokes kendur.

Ada beberapa hal yang  digaungkan saat ini, diantaranya selalu mematuhi prokes, menghindari kerumunan, adanya kebijakan ganjil genap untuk mengurangi mobilitas, memaksimalkan pemasangan QR code dengan aplikasi peduli lindungi.com di berbagai tempat. Bisakah masyarakat mentaati hal ini ?

Rupanya masyarakat saat ini sudah mulai jengah, masyarakat sudah mulai abai prokes sehingga kekhawatiran munculnya gelombang ke 3 Covid 19 pun seolah tak perduli lagi. Disisi lain, penguasa masih tidak tegas menanggapi hal ini. Lihat saja, untuk PTM masih dibatasi dengan alasan menekan peningkatan kasus covid. Berbanding terbalik dengan destinasi wisata yang sudah mulai ramai dibuka & diserbu masyarakat luas. Pusat - pusat perbelanjaan pun sudah dibuka normal kembali, walau dengan embel - embel syarat pengunjung memperlihatkan hasil tes PCR / sudah di vaksin.

Sejatinya semua kekhawatiran & kecemasan akan datangnya gelombang ke tiga Covid 19, bisa ditanggulangi dari awal terjadinya pandemi. Islam sebagai problem solver, mampu menanggulangi masalah ini dengan sesuai syariat. Hal ini perlu kita luruskan, upaya melaksanakan syariat yang manakah yang dimaksudkan. Karena jika benar – benar sudah melaksanakan syariat pastilah wabah pandemi ini tidak akan semakin parah kondisinya. Semestinya dari awal terjadinya wabah langkah strategis menyikapi pandemi adalah dengan “ Lockdown “. Ini sudah jelas sebagaimana sabda Rosulullah SAW : “ Apabila kalian mendengar wabah disuatu tempat, maka janganlah kalian memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada ditempat itu, maka janganlah keluar darinya “ ( HR. Muslim ).

Kebijakan sekuler kapitalistik yang diemban oleh negara kita, masih tarik ulur antara lockdown atau kepentingan ekonomi. Destinasi pariwisata sebagai pendongkrak ekonomi yang sedang terpuruk akibat pandemi. Belum lagi hanya sebagian rakyat yang sadar dan berusaha menaati protokol kesehatan. Vaksinasi yang dianggap solusi pamungkas dalam terselesaikannya wabah malah dikapitalisasi. Inilah bukti kegagalan kapitalisme dalam nenyelesaikan pandemi. Semestinya pemimpin negeri ini tegas dan konsisten menetapkan kebijakan tanpa kompromi serta konsentrasi pada penanggulangan pandemi.

Solusi Syar’i dalam penanggulanagn pandemi yang bersumber pada Syariat ( Ideologi Islam ) pasti memberikan kebaikan bagi semua lapisan masyarakat.  Negara Islam  sebagai negara yang mandiri dan independen, mengeluarkan kebijakan yang tegas demi meredam penyebaran virus penyebab Covid 19. Disisi lain tidak akan plinplan apalagi sampai menimbulkan kebingungan  dalam mengeluarkan kebijakan. Langkah taktis “ lockdown “ fokus pada aspek kesehatan dan keselamatan jiwa rakyat dengan tidak berorientasi ekonomi. Selain itu juga terus meningkatkan sistem dan fasilitas kesehatan dengan kualitas terbaik dan kuantitas yang memadai, adanya pengawasan yang terjamin pada saat penerapan protokol kesehatan. Sistem ekonomi Islam akan membantu terjaminnya distribusi harta bagi seluruh individu rakyat sekalipun pada masa pandemi. 

Maka dari itu wahai kaum muslim agar dunia ini segera terbebas dari corona, kita harus membebaskan dunia ini dari cengkraman hegemoni peradaban Barat yang rusak juga merusak. Kembalilah ke kehidupan Islam, Insyaallah pandemi selesai dan kehidupan kembali berkah.

Wallahu a’lam bi ash- shawab.

banner zoom