Perang Baliho, Bukti Demokrasi Tak Punya Nurani

Oleh : Sri Azzah Labibah SPd 
(Pengasuh Majelis Taklim Remaja Paciran) 

Pemilihan presiden (pilpres) tahun 2024 masih jauh dan wabah covid-19 belum usai, namun calon bakal kandidat telah berbondong bondong berkampanye dengan media baliho. Mulai dari Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, hingga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pakar komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono, “Baliho memang memiliki keunggulan tersendiri sebagai alat komunikasi yang menarik perhatian dan mampu mengantarkan pesan, dengan ukurannya yang ekstrabesar, biasanya pesan yang dimuatpun tidak terlalu banyak, pesan bersifat sistematis dan fokus, kemudian diletakkan di tempat strategis misalnya jalan-jalan yang banyak dilalui kendaraan, sehingga secara struktural akan memaksa orang untuk melihatnya termasuk membaca pesan yang terkandung pada baliho.”

Firman Kurniawan Sujono melanjutkan, “Namun, dalam musim kampanye atau event lain, di mana terjadi kompetisi baliho, justru kejenuhan yang terjadi. Pesan memang memaksa masuk, tapi persepsi yang terbentuk bisa negatif. Masyarakat muak, dan secara sadar memilih bersikap sebaliknya dari tujuan pesan. Masyarakat menolak pesan.”(detiknews.com) 

Masyarakat merasa jenuh dan abai menyikapi Perang baliho antar calon kandidat pilpres tahun 2024 karena Kondisi pandemi covid19 yang belum berakhir, semakin bertambahnya jumlah masyarakat yang terinfeksi virus, masih tingginya angka kematian akibat covid19, dan belum lagi masyarakat yang harus kehilangan mata pencaharian akibat PHK dan pembatasan aktivitas di luar rumah adalah sederet kisah pilu yang tengah dihadapi masyarakat saat ini. Namun bukannya bersimpati terhadap kondisi masyarakat dan bersama-sama mencari solusi penutasan pandemi, para politisi ini justru sibuk berlomba-lomba mempromosikan diri demi bertarung mendapatkan kursi presiden tahun 2024.

Para politisi di sistem demokrasi telah menunjukkan tidak memiliki hati  nurani karena tega mempertontonkan ambisi perebutan kursi di tengah masyarakat rindu peduli pada kondisi wabah ini. Inilah sistem demokrasi merupakan buah dari ideologi kapitalisme, yang berakidah sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan,sehingga tidak menjadikan aturan Islam sebagai landasan hidup dalam berpikir maupun bertindak, haus akan kekuasaan, dan tidak memiliki kepekaan untuk menjadi pelayan rakyat.

Sudah berulang-ulang kali dipertontonkan setiap mendekati pilpres, pilkada, atau pemilu, serta perilaku para wakil rakyat setelah menjabat yang hanya memperkaya diri dan berusaha meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli nasib rakyat dapat dijadikan cambuk untuk menyadarkan masyarakat akan hakekat sistem demokrasi yang buruk. Sehingga tidak akan lahir darinya orang-orang yang amanah dan berakhlak baik yang akan mengayomi rakyatnya. Tidak pula akan ditemukan sosok pemimpin seperti sosok pemimpin teladan pada sistem Islam yang justru menolak ketika ditawarkan padanya untuk memimpin umat.

Misalnya saja ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengetahui kabar penunjukannya sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz langsung mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.” Setelah dibaiat, dalam berpidatonya di hadapan rakyat, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan bahwa Dia tidak menghendaki jabatan khalifah. Diapun tidak pernah diajak musyawarah atas jabatan itu, juga tidak pernah memintanya. Sehingga dia ingin rakyat mencabut baiat mereka dan memilih orang lain. Namun, rakyat tidak ingin mengganti pilihan mereka dan telah sangat berbahagia atas terpilihnya Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah. Maka dengan terpaksa Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan tersebut dan berpesan, “Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku.”

Saat memimpin pun Umar bin Abdul Aziz sangat adil hingga tidak ada lagi orang berhak menerima zakat mau menerima zakat, sehingga dana zakat disumbangkan ke negeri lain yang membutuhkan. Sosok pemimpin Islam yang juga dapat diteladani adalah Khalifah Umar bin Khattab yang setiap malam memilih tidak tidur untuk berkeliling ke pemukiman penduduk untuk mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung.

Dalam sebuah riwayat yang ditulis dalam buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi, Abdullah meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam riwayatnya, Umar bin Khattab selalu puasa dahr (sepanjang tahun). Ketika pada musim kemarau dan rakyat dilanda paceklik, Umar bin Khattab sebagai khalifah selalu membawa roti jika pulang petang. Apabila Umar bin Khattab telah tiba di rumah, roti itu hanya disiram minyak dan disantap untuk berbuka puasa dahrnya.

Umar bin Khattab mengharamkan dirinya memakan daging dan mentega saat masa paceklik melanda. Umar bin Khattab sebagai Khalifah selalu berpidato di hadapan rakyatnya dalam keadaan perut keroncong sambil menahan lapar. Umar bin Khattab mengatakan kepada perutnya, “Hai, perut, walau engkau terus meronta-ronta, keroncongan, saya tetap tidak akan menyumpalmu dengan daging dan mentega sampai umat Muhammad merasa kenyang,” dikutip dari buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi. Umar bin Khattab juga mengatakan, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin aku adalah orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin aku adalah orang terakhir yang menikmatinya.”

Subhanallah, sungguh menakjubkan sistem Islam karena melahirkan calon pemimpin dan pemimpin umat yang sangat takut kepada Allah, sehingga justru menolak ketika ditawarkan padanya kekuasaan dan sangat berhati-hati ketika memimpin rakyat, sebab begitu berat pertanggungjawaban kepemimpinannya kelak di hadapan Allah. Maka jika masyarakat merindukan para pemimpin yang akan menjadi pelayan rakyat, sudah selayaknya masyarakat kembali pada kepemimpinan berdasarkan sistem Islam, yaitu Khilafah islamiyah. 

Wallahua’lam bishawab.
banner zoom