Harta Pejabat Meningkat, Apa Kabar Rakyat?



Oleh: Annisa Alawiyah

Belum usai kasus Covid-19, berhembus kabar harta pejabat yang kian meningkat di tengah pandemi yang masih melanda. Dikutip dari merdeka.com (09/09/2021), Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) mengungkapkan harta kekayaan penyelenggara negara meningkat hingga 70,3 persen di tengah pandemi.

Tentu ini menjadi sorotan KPK, Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan mengatakan akan terus mengamati harta penyelenggara negara berdasarkan data hasil laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LKHPN). Beliau juga mengatakan bahwa rata-rata kenaikan harta kekayaan penyelenggara negara selama 1 tahun mulai dari 1 milyar, dan bukan seperti dosa besar, karena menganggap kenaikan harta kekayaan penyelenggara negara masih dalam batas wajar.

Dilain waktu, dilansir dari liputan6.com (30/8/2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah mengalami penurunan pendapatan selama pandemi Covid-19. Beliau juga mengatakan bahwa masyarakat miskin rata-rata bekerja untuk di gunakan dihari yang sama. Bahkan dari data Bappenas, kelompok penghasilan kurang dari atau sama dengan Rp1,8 juta sebanyak 70,5 persen menyatakan pendapatannya menurun. Kemudian penghasilan tertinggi sebesar Rp7,2 juta hanya 30,3 persen yang menyatakan pendapatan menurun.

Miris sekali, di saat pandemi melanda, pemerintah justru membuat kebijakan yang mempersulit rakyat untuk bertahan hidup. Namun di saat yang bersamaan, pemerintah makin kaya dengan penghasilan yang fantastis dan rakyat makin menderita dengan penghasilan yang menurun drastis. Bagaimana mungkin sikap pemimpin di suatu negeri dengan penghasilan yang kian meningkat sedang rakyat yang kian sekarat masih dianggap wajar? 

Ketika banyak terjadi kasus kriminalitas yang dilakukan oleh rakyat miskin karena jurang kemiskinan yang disebabkan oleh himpitan ekonomi, malangnya mereka malah dihukum dengan hukuman yang memberatkan. Sedangkan koruptor yang menyebabkan kerugian negara yang begitu besar justru mendapatkan keringanan potongan masa tahanan. Bahkan mendapat kepercayaan menjabat sebagai komisaris negara.

Tak hentinya rakyat dihadapkan dengan ketidakadilan dari para peguasa. Seorang pemimpin seharusnya lebih mengutamakan nasib rakyat daripada kepentingannya sendiri karena rasa takutnya kepada Allah. Tapi sayang, ketika hukum Allah dicampakkan dari kehidupan dan diganti dengan hukum buatan manusia, maka tidak ada lagi keadilan di muka bumi ini.

Ini adalah bukti bahwa mabda kapitalis dan sekulerisme adalah sistem cacat dan tak seimbang, karena dari sistem ini lahir begitu banyak kerusakan dan penyimpangan akibat aturannya yang bersandar pada akal manusia yang bersifat lemah dan terbatas.

Dalam Islam, penyelenggaraan harta negara dikelola dengan seadil-adilnya. Harta negara dalam sistem Islam termasuk dalam sistem ekonomi, dalam penerapannya pun ada dua segi.

Pertama, cara negara mengumpulkan harta dari rakyat untuk mengatasi persoalan rakyat. Contoh harta dari rakyat meliputi zakat atas harta yang dimiliki, yakni berupa uang, tanah, hasil pertanian, atau ternak. Itu semua dilakukan atas dasar beribadah kepada Allah. Harta tersebut hanya dibagikan kepada 8 ashnaf yang tercantum dalam Al-Qur'an. 

Sedangkan untuk kepentingan rakyat, negara mengambil dari kharaj (atas tanah), jizyah (dari rakyat non muslim), cukai perbatasan yang dipungut karena negara bertanggung jawab mengatur perdagangan luar negeri. Semuanya dilakukan sesuai dengan hukum syari'at islam. 

Kedua, mekanisme pendistribusian harta dalam sistem Islam. Negara memberikan harta kepada rakyat kurang mampu, dan larangan pengelolaan harta bagi orang yang memiliki keterbelakangan mental dan orang yang memiliki sifat mubazir atau menghambur-hamburkan harta.

Dalam sistem Islam, Negara harus mengawasi mekanisme pendistribusian harta agar tepat sasaran dan tidak ada pihak yang dirugikan. Negara juga akan menjamin kehidupan perekonomian rakyat agar tetap stabil tanpa ada jurang kemiskinan. Semua itu dilakukan atas dasar ketaatan kepada Allah.

Sayangnya sampai saat ini kita masih terjerat dalam kubangan sistem sekuler kapitalis, dimana pemimpin hanya memikirkan kepentingan pribadi demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

Akankah kita sanggup bertahan di tengah-tengah kezaliman dari rusaknya sistem yang sedang diterapkan saat ini?

Sudah saatnya negeri ini bangkit dari keterpurukan dengan mengganti sistem ini dengan sistem Islam, yang akan membawa kehidupan ini menjadi kehidupan yang sejahtera di bawah naungan Islam kaffah yang rahmatan lil'alamin.

Allahua'lam bishowab.

banner zoom