Krisis Afghanistan dan Intervensi AS

Oleh: Widya Rahayu

Afghanistan butuh perubahan politik  hakiki, bukan kompromi dengan menerima tawaran Barat. 

Namun, beberapa hari terakhir, dunia digemparkan oleh aksi kelompok milisi Taliban. Tidak tanggung-tanggung, kini Taliban berhasil menguasai ibu kota Kabul dan menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan. Hingga saat ini 85% wilayah Afghanistan telah dikuasai oleh Taliban. Dikutip Tempo.co (15/8/2021)

Afghanistan, negeri berpenduduk 30 juta jiwa. Setelah jatuhnya Taliban ketika invasi AS ke Afganistan dan Loya Jirga pada 2003, Pemerintahan AS menamakan Afganistan sebagai Negara Islam Transisi Afganistan. (p2k.itbu.ac.id)

Di bawah konstitusi baru, negara tersebut resmi bernama Republik Islam Afganistan. Namun,  saat ini, kondisi Afganistan berpotensi mengalami krisis sejak AS mengakhiri misi militer setelah 20 tahun pasukannya menduduki negeri tersebut.

Lewat pernyataan resmi Presiden Joe Biden (8/7/2021), AS tidak punya kepentingan lagi di Afganistan sebab tujuan mereka sudah tercapai. Pertama, melenyapkan pemimpin Al-Qaeda yaitu Osama bin Laden; dan kedua, menggerus kapasitas Al-Qaeda sehingga tak lagi mampu melancarkan serangan ke daratan Paman Sam. 

Sepertinya tidak sesederhana yang disampaikan Joe Biden lewat media, alasan hengkangnya AS dari Afganistan. Sebab, menurut pengamat politik internasional, Budi Mulyana, S.I.P., M.Si., selama 20 tahun AS menduduki Afganistan, tidak sedikit biaya yang digelontorkan. Menurutnya, mundurnya AS dari Afganistan ialah langkah untuk mendapatkan kemenangan lain. (Diskusi Geopolitik “Memahami Kemenangan Taliban di Afganistan dan Politik Islam secara Global”, 17/8/2021, YouTube). Dikutip Muslimahnews.com (20/08/2021).

Kurangnya kesadaran umat islam  dalam memahami situasi politik di Afganistan yang benar.

Bagaimana tidak, umat Islam justru menyambut dengan senang kemenangan Taliban di sana. Sebelumnya telah bocor laporan intelijen AS yang memperkirakan bahwa Kabul bisa diserang dalam beberapa pekan dan pemerintah Afganistan bisa runtuh dalam 90 hari. 

Perlu diketahui bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara tiba-tiba, seperti yang terjadi di Afganistan. Taliban yang seolah-olah membawa representasi dari Islam lalu akhirnya umat Islam lupa berfikir dan mengingat kembali bagaimana langkah dan arah perjuangan mereka.

Pasukan AS telah menduduki Afganistan sejak 2001 dengan alasan mengawal proses demokratisasi dan menghalangi penguasaan oleh Taliban. Meski saat ini AS resmi menarik mundur pasukannya, tetapi tidak menutup peluang besar bagi AS untuk tetap mengendalikan negeri tersebut lewat perjanjian dan perundingan. Taliban telah masuk ke dalam negosiasi AS, sehingga pengaruh AS di Afganistan akan tetap bisa berjalan aman.

Jika umat mau befikir Al Mustanir, mau mengembalikan lagi dengan Islam dan menganalisis dari berbagai pengamat politik internasional.

Akan diketahui bahwa Taliban saat ini bukanlah Taliban yang mau berjuang dan menerapkan sistem Islam secara kafah, melainkan Taliban yang siap bekerjasama dan berkompromi melalui perjanjian dengan kedok Islam untuk mempropaganda Islam. 

Seharusnya, Taliban tidak memperdulikan perundingan AS, tidak bekerjasama dengan AS dan memperjuangkan serta menerapkan sistem Islam secara kafah. Bukan sebatas teori jika dikatakan akan berdiri sebagai rezim Islam. Tentu tak ada bedanya dengan sistem politik yang dijalankan sebelumnya.

Perjuangan Taliban untuk mendirikan negara Islam hendaknya mencontoh metode Rasulullah saw. tersebut. Bukan justru terikat dengan perjanjian kesepakatan bersama musuh-musuh Islam. Di samping itu, sudah semestinya mempersiapkan umat untuk bersama menegakkan negara Islam.

Rasulullah saw. telah menggambarkan tiga tahapan dalam mendirikan negara Islam di Madinah.  (1) pengaderan, (2) interaksi bersama umat, termasuk di dalamnya mencari dukungan dan pertolongan, (3) penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan. Inilah sunah Nabi saw. 

Berpartisipasi dalam pemerintahan yang di dalamnya bercampur antara Islam dan sekularisme tentu tidak akan diterima oleh Allah Swt.. Semestinya mereka memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS Al-Anfal: 24).
banner zoom