Kapitalis Melahirkan Pemimpin Minim Empati

Oleh: Fitri Al Hasyim (Aktivis Dakwah) 

Wabah pandemi kian memuncak. Sekalipun diterapkan PPKM bahkan diperpanjang hingga 8 Agustus mendatang. Namun, target untuk menurunkan angka kasus positif Covid-19, nyatanya tak membuahkan hasil. Malah pasien positif dan isoman semakin bertambah. 

Satgas Penanganan Covid-19 juga mengabarkan bahwa 12.778 orang di antaranya sudah sembuh. Bertambah 147 orang dari data terakhir pada Rabu (21/7/2021, www.kompas.com).

Rakyatpun harus berjuang demi bertahan hidup dengan kemampuan seadanya. Bergantung kepada sistem kesehatan diluar rumah juga tidak mungkin. Dikarenakan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan pun telah mengalami kelelahan. 

Hanya pemerintahlah satu-satunya tempat rakyat bergantung. Namun sungguh disayangkan, ditengah kondisi yang semakin memburuk hal ini tidak memupuk rasa empati para pejabat dan elit politik. Narasi yang mereka sampaikan tidak bisa menguatkan beban psikis rakyat yang semakin terkikis. Hanya narasi bersifat remeh temeh dan membual saja yang bisa mereka keluarkan. 

Jagat maya twitter sempat dihebohkan beberapa waktu lalu. Di twit tersebut seorang pejabat menceritakan aktivitasnya menonton sinetron yang tengah melejit di masyarakat. Bahkan mengomentari bagaimana rumitnya alur ceritanya. Sontak ini menuai berbagai kritikan dari para netizen yang tak lain adalah rakyat sendiri. Bukannya memikirkan bagaimana solusi keluar dari pandemi, malah sibuk dengan akhir cerita fiksi. 

Tak cukup sampai disitu, beliau kemudian berusaha membela dirinya di media. Beliau membantah bahwa tengah berleha-leha di tengah PPKM Darurat. Beliau kemudian menegaskan, meski bekerja dari rumah, dirinya tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, bahkan sampai malam. (www.kompas.com, 18/7/2021)

Sungguh hal ini seharusnya tidak sampai muncul ke publik. Alih-alih demi kepercayaan publik, tidak seharusnya pejabat latah "numpang tenar" dengan perilaku mereka yang merupakan konsumsi pribadi. Seharusnya pejabat tersebut menjaga nama baiknya. 

Pejabat lainnya yang mengurusi pariwisata. Ia meminta para komedian dalam negeri berkolaborasi untuk menghibur masyarakat demi meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh di tengah meningkatnya angka kasus Covid-19. (www.tempo.com, 14/7/2021) 

Kunci masalah psikis bagi masyarakat di tengah pandemi saat ini adalah jaminan hidup. Jaminan akan keselamatan nyawa mereka dan jaminan kesehatan serta ekonomi mereka. 

Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyoroti sejumlah menteri di Kabinet Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang masih melakukan perjalanan ke luar negeri di tengah PPKM Darurat. Tauhid mengatakan perilaku para menteri ini belum menunjukkan adanya sense of crisis. (www.tempo.com, 18/7/2021)

Perjalanan internasional sebaiknya hanya dilakukan untuk kepentingan mendapatkan vaksin atau pertemuan lain yang berhubungan dengan penanganan Covid. Sedangkan kunjungan yang bersifat promosi investasi atau pertemuan lainnya bisa dilakukan melalui saluran virtual.

Ini semakin membuka mata kita semua, bahwa pejabat di dalam sistem kapitalis hanyalah sekadar demi reputasi dan identitas agar kelihatan mentereng dan terhormat. Perilaku mereka itu pun menunjukkan betapa minimnya empati yang mereka miliki. 

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (TQS Al-Mukminun [23]: 1—3).

Sistem kapitalis hanya melahirkan pejabat sekuler yang tidak menampilkan perilaku orang-orang yang beriman. Bukannya melayani terpenuhinya kebutuhan rakyat. Mereka hanya berpikir memperkaya dan menyelamatkan diri sendiri. 

Gambaran Pemimpin Sejati Dalam Islam

Rasulullah saw. sebagai teladan umat islam. Menjadi contoh terbaik dalam memimpin, mengelola pemerintahan, memilih pejabat dan menetapkan kebijakan. 

Sejak Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau memerintah kaum muslim, memelihara semua kepentingan, mengelola semua urusan mereka, dan mewujudkan masyarakat Islam. Abu Bakar dan Umar adalah dua orang mu’awwin beliau. Beliau juga mengangkat para wali untuk berbagai wilayah setingkat provinsi dan para amil untuk berbagai daerah setingkat kota.

Ketika mengangkat para pejabatnya beliau saw. memilih mereka yang paling dapat bertanggung jawab dalam kedudukan yang akan disandangnya, selain hati yang telah dipenuhi dengan keimanan. Beliau juga bertanya kepada mereka bagaiman carr mereka menjalani dan mengatur pemerintahan. Beliau saw. selalu mengirim para wali dari kalangan orang yang terbaik dari mereka yang telah masuk Islam. Beliau memerintahkan mereka untuk membimbing orang-orang yang telah masuk Islam dan mengambil zakat dari mereka.

Ketika terjadi wabah, beliau saw. pun bersabda, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Muslim)

Kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Yang mereka semua ini sangat memahami sabda Rasulullah saw. bahwa, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Dalam sistem Islam, menjadi pejabat bukanlah mencari kehormatan dan reputasi semata. Kepemimpinan adalah tanggung jawab yang besar. Terlebih di tengah pandemi, tanggung jawab itu memerlukan strategi berlapis dalam menetapkan kebijakan. Tidak bisa sembarangan tanpa perhitungan.

Inilah sistem pemerintahan Islam yang dibangun oleh Rasulullah saw. sebagai satu-satunya teladan terbaik bagi kaum muslimin dalam mengelola tata kehidupan di muka bumi. Yang karenanya, sistem tersebut sangat layak untuk diperjuangkan dan ditegakkan kembali. Wallahu a'lam bish shawab 

banner zoom