Kampus Kurikulum Indutri Apa Bahayanya?

Oleh: Yessy Mafaza (Guru dan Inspirator Remaja)

Jakarta:  Komitmen perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum berbasis industri sudah menjadi syarat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi di era persaingan global.  Namun sayangnya, masih banyak kampus yang hadir hanya sebatas hadir, namun tidak mengubah kurikulum mereka sesuai kebutuhan industri.

Brand Communications Manager Kalbis Institute, Raymond Christantyo mengatakan, saat ini perguruan tinggi harus menjadi rumah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik.  Sementara itu, kurikulum menjadi landasan untuk mahasiswa belajar. "Sehingga saat mereka lulus, mahasiswa mampu diterima secara cepat di dunia industri dan dunia usaha.” Ujar Raymond, Jumat, 22 Januari 2021.

Kalbis Institute misalnya, kurikulum berbasis industri yang dikembangkan tidak sebatas di atas kerta.  Namun langsung menggandeng beberapa industri di Indonesia maupun di luar Indonesia.(medcom.id3).

Jelas sekali, pendidikan tinggi hari ini sedang dimanipulasi oleh Pegnusung sekuler. Jauh sekali dari nilai-nilai Islam, kendati Dunia Islam adalah kawasan terbesar di dunia; bahkan Dunia Islam adalah peletak dasar pendidikan terbaik sepanjang masa.Pendidikan tinggi telah difungsikan sebagai pintu imperialisme akademik, hegemoni riset dengan dana dari korporasi, serta lahan subur bagi propaganda ide-ide sekuler dan liberal. Tak heran, pendidikan tinggi telah menjadi alat penjajahan untuk mencapai tujuan-tujuan kapitalisme.

Pendidikan tinggi tak sepenuhnya lagi menjadi pihak yang menghasilkan sumber daya manusia yang mampu dalam melayani kebutuhan umat serta menghasilkan inovasi-inovasi baru agar umat dapat memperoleh manfaat luas darinya. Kini, pendidikan tinggi justru lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri/pasar.

Dengan kata lain, perguruan tinggi lebih mirip sebagai instansi penghasil buruh pintar, dibandingkan institusi basis intelektual dan agen perubahan. Terlebih dengan adanya Omnibus Law UU Cipta Kerja, sepantasnya mengingatkan kita bahwa kebijakan tersebut punya andil besar untuk menggeser urgensi perguruan tinggi dari posisinya sebagai mercusuar peradaban menjadi sekadar pion-pion pasar dan industri kapitalistik. 

Kondisi ini akan sangat jauh berbeda jika sistem Pendidikan diatur dengan sistem pendidikan Islam, yang secara praktis diterapkan oleh daulah Khilafah. Hal ini berangkat dari paradigma  bahwa Khilafah Islamiyah adalah negara yang tidak akan pernah tunduk  mengikuti arus Global.Politik industri Khilafah  berbasis pada keutuhan militer mutakhir dan pemenuhan kebutuhan Rakyat, bukan atas dasar kepentingan pasar negara kuffar, sehingga khilafah menyiapkan generasinya sebagai Ummat Terbaik. 

Dalam Khilafah Industri akan dimiliki dan dikelola oleh negara yang meliputi kemampuan untuk menguasai, mengendalikan dan menjamin keamanan pasokan aspek –aspek penting Indutri. Seperti bahan baku, teknologi, rancang bangun, finansial dan Kemampuan untuk membentuk mata rantai industri yang lengkap dengan Sumber daya manusianya.

SDM ini akan dihasilkan dari sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam, kurikulum pendididkan Khilafah tidak akan beunah –ubah, tujuannya menghasilkan generasi  yang memiliki keperibadian Islam yakni pola pikir dan pola sikap Islam. Orientasinya adalah Kemaslahatan Ummat dan memeberikan kebaikan bagi dunia.

Inilah sistem pendidikan Islam terbukti menghasilkan generasi emas yang karyanya abadi sepanjang masa, seperti ahli bedah alzahrawi, ahli mekanika Aljazari, ahli historiografi sosiologi dan ekonomi ibnu Khaldun, ahli optik ibnu haitham.  mujahid sekaligus mujtahid Mahzab  Imam syafii dan masih banyak lagi.

banner zoom