Tarhib Ramadan 1442 Hijriyah

Oleh : Dewi Tisnawati, S. Sos. I (Pemerhati Sosial)

Umat muslim sebentar lagi akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan tahun 2021 atau 1442 Hijriyah. Menjelang datangnya bulan yang paling istimewa ini, istilah Tarhib Ramadhan cukup populer bagi netizen dan masyarakat milenial. 

Semarak datangnya ramadan dihiasi dengan sambutan yang cukup meriah, hampir disetiap daerah secara merata mengadakan tabligh akbar dengan tema yang sama "Tarhib Ramadhan. Dihimpun dari Bappeda.Acehprov.go.id dan sumber lainnya, kata tarhib (ترحيب) berasal dari akar kata yang sama yang membentuk kata Marhaban (selamat datang). Maka, tarhib ramadan adalah selamat datang bulan suci ramadan.

Secara istilah, kata tarhib Ramadhan (ترحيب رمضان) berarti menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan segala kesiapan, keluasaan, kelapangan, keterbukaan dan kelebaran yang dimiliki, baik materil maupun spiritual, jiwa dan raga serta segala apa yang ada dalam diri kita.

Tarhib ramadhan, kemudian menjadi sebuah tradisi yang dirayakan di berbagai negara menjelang datangnya Ramadhan, sebagai bentuk suka cita menyambut bulan penuh berkah ini, termasuk di tanah air. Sayangnya, saat ini hal itu tidak lagi dilakukan secara bebas. Sebab negeri ini masih berada dalam masa pandemi.

Meski demikian masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menyambut datangnya bulan suci ramadan. Sebab pada dasarnya, bergembira dan bersiap menyambut datangnya ramadan adalah perintah syara’. Adapun diantaranya adalah:

Pertama, berdoa agar dipertemukan dengan ramadan. Kedua, persiapan fisik agar tidak diserang oleh penyakit-penyakit yang dapat menghambat dirinya berpuasa penuh sebulan ramadan. Ketiga, membersihkan pikiran dan pemikiran. Keempat, memperdalam ilmu pengetahuan khususnya berkenaan dengan hukum dan tatacara berpuasa. Kelima, perbanyak amalan sunnat di bulan Sya’ban.

Setiap kali menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, Allah pun menghiasi surga-surga-Nya dengan berbagai cahaya keindahan. Dari berbagai redaksi hadits tentang keutamaan dan kemuliaan bulan ramadan. Salah satu hadits meriwayatkan bahwasanya Allah memerintahkan para malaikat serta bidadari-Nya untuk menghiasi surga-surga dengan cahaya gemerlapan demi memuliakan bulan suci ramadan.

“Kita bisa membayangkan sekiranya kita menghiasi rumah dengan berbagai hiasan tentunya menunjukkan tamu itu orang yang sangat kita dambakan dan muliakan. Bukan hanya sekedar hiasan dekorasi, boleh jadi kita akan menyajikan makanan dan minuman terbaik dan terlezat yang mampu kita hidangkan,” kata Ustaz Dr Miftah el-Banjary dalam tausiyah singkat yang diterima SINDOnews, Jumat (11/5/2018).

Allah pun demikian, terang Ustaz Mitfah, Dia menghiasi surga-Nya demi menyambut kedatangan orang-orang bertaqwa bersama kendaraan ramadan. Allah tidak lagi melihat siapa kita; makhluk yang penuh dengan aib dan kesalahan, Namun, Dia menyaksikan kita sebagai tamu-Nya yang datang bersama bulan ramadan.

Disebabkan dia memuliakan bulan ramadan, maka kita yang berada di dalamnya juga memperoleh kemuliaan yang sama. Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan bahwa seseorang yang sekadar terpancar rasa kebahagiaan di hatinya menyambut datangnya bulan ramadan saja sudah mampu menghapus dosa dan kesalahannya serta menyelematkannya dari azab api neraka.

“Rasulullah bersabda, barangsiapa yang bergembira atas tibanya bulan Ramadhan, niscaya Allah haramkan jasadnya dimakan api neraka,” ungkap Ustaz Miftah.

Di tengah pandemic yg belum kunjung reda dan  derita umat makin berkepanjangan setelah 100 tahun tiada kepemimpinan Islam maka ramadan tahun ini harus lebih ‘istimewa’ dalam perjuangan.

Selayaknya bulan ramadan, jadi moment dimana umat melipatgandakan do’a dan ikhtiar menuju perubahan yang hakiki dari kondisi buruk ke kondisi terbaik. Sebab, umat muslim adalah umat terbaik yang disebutkan Allah SWT dalam al-Qur'an. Namun, kondisi umat saat ini jauh dari kondisi terbaik, bahkan umat mengalami kemerosotan dari segala sisi. 

Umat masih dihadapkan dengan segala permasalahan yang membelit negeri ini. Mulai dari pandemi yang tidak berlesudahan, korupsi yang menggurita, kriminalisasi ulama, kemiskinan yang tersistemik, kedzoliman, ketidakadilan, bencana alam terus berulang masih mewarnai beberapa tahun terakhir ini. 

Hal ini membuat umat gerah dan geram atas kondisi negeri, sehingga butuh solusi utuh. Dengan hadirnya ‘tamu istimewa’ ini, memberi sedikit harapan untuk mulai berbenah diri dan negeri.

Kondisi umat seperti ini disebabkan oleh diterapkannya sistem sekularisme-liberalis yang memisahkan agama dengan kehidupan. Akhirnya manusia menjalani hidup semaunya tanpa batas sesuai hawa nafsu.

Oleh sebab itu, penting menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Sebab Islam bukan hanya berbicara persoalan aqidah semata, tetapi juga berbicara terkait hukum syariah. Syariah-lah yang mengatur seluruh hidup manusia, mulai dari ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan, kesehatan dan hukum. 

Maka, perjuangan ini memerlukan komitmen kokoh dan istiqomahan tanpa putus. Perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam, menjadi mercusuar peradaban mulia dan jalan hidup bagi manusia.

Kini, 100 tahun sudah, kehilangan peradaban mulia. Kinilah saatnya umat muslim mengasah kesadaran akan pentingnya berpindah menuju peradaban mulia tersebut. Umat terbaik akan diraih oleh tangan kaum muslim yang mau berjuang dengan ikhlas, menebar kebaikan kepada sesama manusia. Niscaya kondisi umat akan menjadi umat terbaik atas izin Allah SWT.

Dengan demikian, semoga ramadan tahun ini menjadi ramadhan terakhir dalam kondisi umat yang terpuruk dan siap menyongsong detik-detik hadirnya cahaya yang akan menyinari seluruh penjuru dunia. Dan Allah SWT menepati kedua janji-Nya, yakni menjanjikan kemenangan ditangan kaum muslim dan menjadikannya sebagai umat terbaik.

Allah SWT berfirman, yang artinya: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55). 

Maka, mari menyiapkan diri kita untuk mengarahkan energi selama ramadan untuk lebih utuh memahami Islam dan menebar kesadaran memperjuangkan tegaknya Islam kaffah. 

Wallahualam bish shawab.
banner zoom