Kemenangan Itu Bukan Sekedar Mimpi Di Siang Bolong

Oleh : Dwi Nesa Maulani (Komunitas Pena Cendikia)

Istilah khilafah yang dulunya asing di telinga umat Islam, sekarang semakin familiar. Pembahasan tentang khilafah semakin masif sebagai alternatif sistem pemerintahan, seiring semakin terlihat borok sistem sekulerisme kapitalisme. Khilafah adalah solusi realistis dari berbagai persoalan kekinian yang tidak bisa diselesaikan oleh kapitalisme. Justru kapitalisme adalah sumber keruwetan di segala aspek kehidupan.

Sistem khilafah memiliki dalil kuat. Dalam Alquran disebutkan wajibnya khilafah yaitu antara lain QS an-Nisa’ (4) ayat 59, QS al-Maidah (5) ayat 48, dan QS al-Baqarah (2) ayat 30. Sedangkan dalil Sunnah salah satunya, “Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.”
(HR Muslim).

Seluruh ulama Aswaja, khususnya imam empat mazhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, sepakat bahwa menegakkan khilafah hukumnya wajib. Ijma' Sahabat juga menegaskan bahwa khilafah wajib. Bahkan sahabat lebih mendahulukan mengangkat Khalifah dibandingkan mengurus jenazah Rasulullah SAW.

Semua itu menunjukkan dalil bahwa penegakan khilafah adalah perintah Allah SWT dan wajib adanya. Tak seperti sistem pemerintahan lain seperti kekaisaran, kerajaan, republik, maupun demokrasi yang saat ini banyak dianut di negeri barat maupun negeri muslim, namun tidak memiliki dalil untuk dilaksanakan. Karena semua sistem tersebut bersumber dari karangan manusia.

Dengan adanya khilafah, hukum-hukum Allah SWT seperti hukum hudud, jinayat, sistem pergaulan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, akhlak, aturan penyelesaian wabah, dan lain sebagainya akan bisa terterap. Untuk saat ini tidak banyak umat Islam mengetahui ajaran Islam sebagaimana yang disebutkan tadi. Padahal itu kewajiban. Sungguh sangat disayangkan. Maka khilafah harus segera tegak di bumi ini. Bukan sekedar obyek pembahasan tiada henti dan sekedar mimpi di siang bolong. 

Hari ini umat Islam sedang menanti kesiapan orang-orang mukmin dalam memenuhi seruan Allah. Untuk berjuang bersama umat dalam rangka menegakkan kembali daulah khilafah. Upaya perjuangan itu harus sesuai dengan yang digambarkan secara rinci dalam siroh Rasulullah Muhammad SAW.

Setelah tiga belas tahun Rasulullah berdakwah di Makkah menawarkan ideologi Islam untuk diterapkan dalam kehidupan, tidak memperoleh hasil signifikan, Beliau tidak patah harapan. Rasulullah SAW menawarkan diri kepada suku-suku Arab. Di bukit Aqabah Beliau bertemu dengan beberapa orang Khazraj dari Madinah. Mereka menerima seruan Rasulullah SAW. Ketika kembali ke Madinah mereka menyeru kaumnya tentang Rasulullah dan Islam.

Pada musim haji tahun berikutnya, 12 orang Anshar menyatakan ketaatan kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Mereka kembali ke Madinah bersama Mush'ab bin Umair, sahabat Nabi yang diutus untuk berdakwah di Madinah. Diriwayatkan tidak ada satu rumah pun di Madinah yang tidak memperbincangkan Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.

Pada musim haji berikutnya, Mush'ab beserta 73 laki-laki dan 2 perempuan menemui Rasulullah di Makkah untuk menyempurnakan bai'at mereka untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW. Dengan adanya bai'at kedua ini, Nabi SAW memerintahkan sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah. Setelah semua sahabat berhijrah, tidak lama kemudian Rasulullah SAW ditemani sahabat tercinta Abu Bakar ikut berhijrah. Atas izin Allah SWT, Rasulullah SAW selamat sampai di Madinah. Kemudian Beliau mendirikan negara khilafah yang pertama.

Dari peristiwa ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam menegakkan khilafah yang kedua, butuh kesiapan umat. Butuh berdakwah mengajak umat agar mau diterapkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Hingga umat sendiri yang meminta kembalinya khilafah.

Untuk itu diperlukan orang-orang yang ikhlas berjuang mengorbankan harta, waktu dan tenaga bahkan jiwa mereka demi melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Siapapun wajib berdakwah baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, tanpa terkecuali. Kita butuh melaksanakan dakwah seperti kita butuh udara untuk bernafas. Mengetuk jiwa-jiwa setiap muslim dengan Islam sebagaimana yang dilakukan Mush'ab. Sampai Islam kaffah menjadi opini umum di masyarakat.

Kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar tercantum dalam Alquran, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” 
(TQS Luqman [31]: 17).

Dan bagi para pengemban dakwah akan mendapatkan banyak keutamaan. Mereka akan diberi pahala yang berlipat ganda. “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah)-mu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” 
(HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Dalam hadis lain, “Wahai Ali, sesungguhnya Allah memberikan hidayah seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat mana pun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya).” (HR Hakim)

Oleh karena itu, wahai umat yang berfikir, sudah saatnya kita bergerak berdakwah menuju tegaknya daulah khilafah. Cukup sudah penderitaan umat Islam tanpa adanya pelindung. Sudah terlalu lama umat Islam kering jiwa dari ajaran Islam tanpa adanya khilafah. Jangan sampai kemenangan itu berlarut-larut hanya sebagai mimpi di siang bolong.
banner zoom