Muslimah Anti Depresi


Oleh: Putri Amalina, Mahasiswi  PNJ


Di masa pandemi seperti ini, stres hampir menjadi nama tengah bagi kaum remaja, orang tua bahkan beberapa pelajar SMP maupun SD. Banyak hal yang membuat dirinya menjadi stres, salah satunya, menganggap dirinya tidak berharga, cemas memikirkan masa depan, pusing dengan perekonomian keluarga, banyak tanggungan tugas, lingkungan yang kurang sehat, tidak memiliki uang dan lain-lain. Faktor-faktor stres tersebut dapat menyebabkan diri kita menjadi mudah tersinggung, minder, mager, sulit menikmati hidup, konsentrasi menurun, nafsu makan berkurang, mudah lelah, hingga berujung ke kematian. 

Umumnya, stres merupakan hal yang manusiawi.  Sangat wajar ketika seorang manusia mengalami stres dalam hidupnya. Namun, sebagai seorang Muslimah tentu harus memiliki pemikiran yang berbeda. Karena Allah telah menurunkan obat dari segala penyakit termasuk penyakit depresi yang lebih sering dikenal dengan kata stres. 

Untuk kaum remaja, stres yang dekat dengan dirinya dikarenakan tontonan media sosial yang selalu memperlihatkan kenikmatan duniawi dengan memiliki barang yang branded, banyak uang, bisa makan apa saja, bisa pergi ke mana pun dan kesenangan-kesenangan lainnya yang bersifat materi atau bisa dikatakan hedonisme. Gaya hidup hedonis inilah yang membuat orang-orang menjadi ingin mendapatkan apa yang mereka mau dan tidak mempedulikan prosesnya. Karena proses akhir mereka adalah ingin mendapatkan uang yang banyak, sehingga hanya memikirkan orientasi akhir, tanpa mempedulikan proses yang akan ditempuh.

Bila kita tarik kembali, dari mana asalnya hedonisme itu muncul, tentu saja dari sistem kapitalis yang sedang diterapkan di Indonesia ini. Sistem ini berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk mencari kenikmatan dan kesenangan berupa materi. Sehingga, muncul doktrin bahwa kebahagiaan hanya muncul dari materi. Kapitalis berpandangan bahwa hidup hanyalah sementara dan harus dinikmati dengan bersenang-senang. 

Namun sebagai seorang Muslimah rugi rasanya bila hanya mengejar materi di dunia ini. Karena sejatinya, hidup kaum Muslim memiliki tujuan yang terdapat dalam Surah adz-Zariyat  ayat 56 yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu.”

Pernyataan itu juga didukung dengan tiga pertanyaan besar yang ada di dalam hidup manusia, yaitu, ‘dari mana kita berasal?’ ‘untuk apa kita hidup?’ dan ‘akan kemana setelah hidup?’ Ketika kita sudah mendalami atas jawaban dari tiga pertanyaan besar tersebut, maka kita akan dapati apa-apa yang datang dari Allah dapat kita sikapi dengan cara-cara yang telah Allah berikan sebagai bentuk dari ibadah kita. Ini adalah salah satu keuntungan menjadi seorang Muslim, karena Allah telah mengatur segalanya termasuk perasaan. Ketika mendapat musibah, seorang Muslim dapat menyikapinya dengan bersabar. Ketika mendapat kenikmatan, dapat disikapi dengan bersyukur, keduanya adalah bentuk ibadah kepada Allah.

Mindset seperti itu, tidak cukup untuk mengatasi stres hingga ke akar. Sebab, bila hanya ditanamkan mindset yang islami namun lingkungan masih toxic, masih mengagung-agungkan materi, maka mindset seperti itu lama-lama akan terkikis dan hilang. Butuh peran negara yang membuat lingkungan menjadi baik agar mindset baik bukan hanya ada di kepala namun teraplikasikan. 

Pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah negara bagaimana yang dibutuhkan? Yaitu negara yang menerapkan syariat secara kaffah, yang akan Allah ridhai. Sistem hidup yang lahir dari peraturan-Nya dapat membuat stres kita hilang. Sebab baik buruk yang menimpa hidup kita, datangnya dari Allah SWT dan standar hidup bukan lagi materi, melainkan Ridha Allah SWT. []


banner zoom