Membumikan Islam Sebagai Inspirasi, Aspirasi, Dan Solusi

Oleh: Rahmani Ratna, S.Pd

Penamabda.com - Sudah lebih dari satu pekan mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas menjadi Menteri Agama. Diawal menjelang pengangkatannya, Gus Yaqut demikian sapaan akrabnya mengatakan tak ingin agama dijadikan alat politik untuk menentang pemerintah.

“Setelah resmi menjadi Menag, yang pertama ingin saya lakukan adalah bagaimana menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi,” kata Gus Yaqut.

Artinya, kata dia, bahwa agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan menjadi alat politik baik untuk menentang pemerintah maupun merebut kekuasaan atau mungkin untuk tujuan-tujuan lain.

“Agama biar menjadi inspirasi dan biarkan agama ini membawa nilai-nilai kebaikan serta nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas dia.

Dilain waktu, pada acara webinar Silaturahmi Nasional Lintas AgamaGus Yaqut kembali menegaskan dan mengajak masyarakat di Tanah Air agar menjadikan agama sebagai sebuah inspirasi bukan aspirasi.

“Kita merasakan beberapa tahun belakangan agama sudah atau ada yang menggiring agama menjadi norma konflik,” katanya saat diskusi lintas agama dengan tema “Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebhinekaan” di Jakarta, Ahad 27 Desember 2020. (Antaranews.com).

Sebagai seorang muslim, kita tahu betul bahwa Islam merupakan satu-satunya agama benar. Sebagaimana firman Allah berikut ini:


 إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [QS. Ali Imran ayat 19] 

Dan akan merugilah manusia jika tidak menjadikan Islam sebagai agamanya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Dari sini, kita semestinya sadar betul bahwa tidak ada pilihan lain dalam beragama, kecuali Islam. Kesempurnaan Islam sebagai agama yang syamilan (meliputi segala sesuatu) dan kamilan (sempurna). Lantas, pantaskah Islam hanya dijadikan sebagai inspirasi semata?

Menurut Gus Yaqut agama harus dijadikan sebagai inspirasi serta memberikan nilai bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam artian menjadikan agama sebagai tatanan nilai, bukan institusi itu sendiri.

Termasuk dalam hal ini adalah keberadaan agama Islam. Jika Islam hanya dijadikan sebagai inspirasi, maka Islam hanya sekedar dijadikan nilai dalam tatanan kehidupan. Hanya sebatas ide dan pemikiran. Padahal Islam tidak seperti itu.

Nilai-nilai yang ada dalam agama Islam tidak hanya bersifat teoritis belaka. Harus dipraktekkan. Dijadikan pandangan hidup, karena sesuai dengan fitrah manusia dan mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan.

Lebih dari itu, tatanan nilai dalam Islam ketika tidak diterapkan hanya akan menjadi teori dan khayalan belaka. Padahal Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Artinya aturan Islam perlu diterapkan untuk mengatur hidup manusia. 

Islam itu mengatur hubungan manusia dengan Allah (habluminallah), seperti; shalat, puasa, zakat, haji, jihad. Demikian pula Islam mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablumminan nas), seperti; pergaulan, ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan sanksi. Serta mengatur hubungan dengan dirinya (habluminafsi), seperti akhlak, pakaian, makanan dan minuman.

Semuanya satu paket lengkap yang telah Allah siapkan bagaimana seorang muslim harus menjalankannya sesuai perintah Allah. Karena hal ini berkaitan dengan segala aktivitas dan tingkah laku setiap muslim yang harus berdasarkan syariat Islam. Sebagaimana Rasulullah telah mencontohkan bagaimana penerapan dan pelaksanaan hukum Islam yang berkaitan dengan individu, masyarakat, dan negara.

Islam itu bisa sebagai inspirasi terbaik. Karena bersumber wahyu hingga mampu merespon dinamika persoalan sepanjang waktu. Tetapi jangan hanya mencukupkan menjadikan Islam sebagai inspirasi.

Selain itu, Islam sebagai  aspirasi tidak akan mengancam keberagaman, justru memberi solusi atas tidak terwujudnya integrasi/keutuhan bangsa dalam sistem kapitalis sekuler seperti saat ini.

Islam itu solutif, yaitu sebagai penyelesai, pemecah masalah dan jalan keluar bagi segala permasalahan kehidupan manusia. Islam mengajarkan segala kebaikan untuk hidup di dunia dan akhirat. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi juga mengajarkan bagaimana cara berbuat baik antar sesama.

Seperti halnya hidup saling tolong menolong, menghargai dan menghormati sesama, saling toleransi, dan lain sebagainya. Yang jelas, segala bentuk perilaku, sikap, akhlaq, dan segala hal yang baik adalah anjuran dalam Islam.

Dalam sejarahnya, agama selalu menjadi solusi terhadap problem kehidupan. Demikian pula, Islam dibawa oleh Nabi terakhir, yaitu Muhammad SAW., untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan yang sedemikian bobrok yang disebut sebagai zaman jahiliyah yang  disebut dalam sejarah mengalami kerusakan moral yang amat parah, baik dalam kehidupan keagamaan, social, politik, moral, dan lain-lain.

Penerapan aturan-aturan Islam dalam sebuah institusi negara bisa menjadi solusi bagi carut marutnya pemasalahan umat manusia. Karena tatanan kenegaraan berlandaskan sistem Islam akan memiliki tatanan bernegara yang kuat dan visi yang jelas karena dibimbing oleh bimbingan wahyu.

Sistem pemerintahan Islam  adalah perwujudan nyata atas berlakunya sistem Ilahi, dan memperjuangkan tegaknya adalah jalan menjemput pertolongan Allah.

Sistem Islam mampu menyelesaikan segala problematika umat mencakup segala aspek kehidupan, baik dari aspek ekonomi maupun politik.

Dari aspek ekonomi, sistem pemerintahan Islam memiliki minimal empat sumber ekonomi, yaitu pertanian, perdagangan, jasa, dan industri.

Dalam sistem pemerintahan Islam pertanian berbasis pada pengelolaan lahan pertanian, di mana tanah-tanah pertanian harus dikelola dengan baik dan dimaksimalkan untuk memenuhi kehidupan rakyat. dikenal dengan kebijakan intensifikasi. Jika kurang, negara dapat mendorong masyarakat menghidupkan tanah hak milik mereka, atau memberikan insentif sebagai modal, dan sebagainya. Ini yang dikenal dengan kebijakan ekstensifikasi.

Ditopang dengan perdagangan yang sehat, tidak ada monopoli, kartel, mafia, persetujuan dan riba yang memang diharamkan dalam Islam, maka hasil pertanian akan diterima. Produktivitas tetap tinggi, pada saat yang sama, harga terjangkau, sehingga negara dapat swasembada makanan.

Islam juga mengharamkan barang dan jasa yang ditawarkan, dibeli dan diterbitkan di tengah masyarakat. Karena itu, hanya barang dan jasa yang halal yang dapat dikirimkan, dibayarkan, dan didistribusikan. Dengan begitu, industri sebagai bentuk aktivitas produksi hanya akan memproduksi barang yang halal. Islam juga mengambil hukum industri mengambil hukum barang yang diambil. Jika barang yang dikeluarkan haram, maka industri tersebut hukumnya haram.

Begitu juga jasa. Karena Islam hanya mengizinkan layanan yang halal, maka tidak boleh ada layanan yang haram disetujui dan diterbitkan di tengah-tengah masyarakat. Upah sebagai kompensasi jasa pun halal dan haramnya akan dinilai. Jika jasanya haram, maka upahnya pun haram. Hukum Memproduksi, Mengkonsumsi dan Mengembangkannya pun haram. Dengan begitu, individu, masyarakat dan negara pun sehat. Inilah empat sumber utama ekonomi negara khilafah.

Selain itu sistem Islam akan mengelola SDA yang ada dengan baik. SDA yang ada dikelola oleh negara dan hasilnya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sitem Islam menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya baik itu kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan publik lainnya. Dengan pengelolaan berdasarkan syara maka kesehatan, pendidikan dan lainnya mampu diberikan negara secara gratis untuk rakyatnya.

Demikian sempurnanya Islam mengatur kehidupan. Masihkah kita perlu meragukannya dan hanya menjadikan Islam sekadar inspirasi semata??!

Tanpa institusi negara, maka umat Islam kehilangan pelindung. Sebagaimana yang terjadi saat ini. Ketiadaaannya telah membuat nyawa umat Islam begitu murah. Padahal dimata Allah, hancurnya bumi berserta isinya ini lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang Muslim.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad RA, “Adalah fitnah (bencana) jika sampai tidak ada seorang Imam (khalifah) yang mengatur urusan rakyat”.

Sungguh benar apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam kitabnya al Iqtishod fi al I’tiqod. Imam al-Ghazali mengatakan agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah dasar dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berdasar (tidak didasarkan pada agama) niscaya akan runtuh. Segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga (khilafah) niscaya akan hilang atau lenyap.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya” [HR Muslim].

Oleh karena itu, mari membumikan Islam tidak sekedar sebagai inspirasi. Tetapi dengan tataran yang lebih tinggi lagi, yaitu menjadikan Islam sebagai aspirasi dan solusi dalam kehidupan ini. Wallahua’lam.

banner zoom