Wujud Toleransi Islam Dalam Hari Raya Umat Agama Lain


 Oleh : Ummu Bilal

Penamabda.com - Islam sangat mengedepankan sikap toleransi, namun toleransi tersebut harus berlandaskan pada akidah. Sebagai pokok agama yang prinsipil bagi muslim sejati yang harus dipegang kuat. Karena akidah adalah harga mati, yang tidak boleh ditawar lagi. 

Realitas hari ini ada segolongan muslim dengan mudahnya mengucapkan selamat kepada umat agama lain yang sedang melaksanakan hari raya. Ucapan sukarela atas nama toleransi, tanpa ada paksaan atau ancaman terhadap nyawanya. Apakah dibenarkah perbuatan tersebut dalam akidah Islam ?

Sebenarnya Al Quran sudah menuntun secara jelas bagaimana toleransi dalam Islam. Allah SWT berfirman :

"Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az-zuur (perbuatan yang merusak akidah seperti menyembah berhala), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan: 72). 

Ketika kafir Quraisy menawarkan kepada Rasulullah SAW untuk tukar menukar dalam melaksanakan ibadah, dengan mengatakan : "Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”

Lalu Allah SWT memberikan jawaban terhadap tawaran kafir Quraisy tersebut dengan menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6.

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. 

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Ayat-ayat di atas memberikan gambaran bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Islam tidak melarang untuk berbuat baik kepada umat agama lain dalam perkara keduniaan dan kemanusiaan. Perbedaan akidah tidak menghalangi kaum muslimin saling berbuat baik, tolong, menolong, dan hormat menghormati. Kerangka toleransi dalam Islam adalah menghargai umat lain dalam merayakan hari besarnya dengan tidak mengganggu kenyamanan mereka. Serta tidak pula menghalangi mereka merayakannya. 

Sikap toleransi Islam ditunjukkan dalam beberapa hal: 

➡️Pertama: tidak ada paksaan memeluk agama Islam. Allah berfirman : Tidak ada paksaan dalam Agama (QS. Al-Baqarah: 256). Rasulullah SAW telah menunjukkan hal ini ketika beliau berhasil menguasai Mekkah. Beliau membiarkan kaum kafir Quraisy hidup dan tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam, beliau berkata “kalian semua bebas”.

➡️Kedua, membiarkan umat lain menjalankan ibadahnya. Ketika kaum muslimin berhasil menguasai daerah Syam, kaum muslimin membiarkan rumah-rumah ibadah agama lain tetap berdiri dan tidak boleh dirobohkan.

➡️Ketiga, Islam membolehkan menjalin silaturahim dengan keluarga yang berbeda keyakinan. Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah ibuku berbeda keyakinan denganku, apakah boleh aku menyambung silaturahim dengannya? Rasulullah menjawab, “Iya boleh”, sambunglah silaturrahim dengan ibumu (HR. Ahmad).

➡️Keempat, Islam membolehkan tolong menolong dan saling peduli dengan sesama. Jika ada tetangga yang berbeda keyakinan, maka sikap selaku muslim tetap harus berbuat baik kepada mereka. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah beliau hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi. Sebagian Yahudi tersebut menyakiti Beliau. Namun beliau tetap menunjukkan sikap yang baik. Salah satu sikap baik Beliau mengunjungi orang yang sakit di antara mereka.

➡️Kelima, dibolehkan untuk saling memberi hadiah. Umar bin Khattab pernah menghadiahkan pakaian kepada saudara non muslimnya di Mekkah. Padahal Umar bin Khatab berkata : "Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah”. 

Toleransi berlandaskan pada akidah ini begitu kuat diamalkan dan diterapkan oleh para shahabat walaupun harus mengorbankan nyawa. Misalnya pada awal Islam, Yasir dan istrinya Sumayyah memilih mempertahankan akidah daripada mempertahankan nyawa. Ketika kafir Quraisy memaksa mereka mengucapkan satu kata “nama tuhan musyrikin” . Hanya satu kata saja, namun keduanya enggan mengucapkanya. Lalu keduanya disiksa sampai akhirnya meninggal dunia. 

Kerasnya siksaan fisik oleh kafir Quraisy kepada Ammar, anak shahabat dan shahabiyah mulia ini, akhirnya memaksa beliau mengucapkan satu kata tersebut. Namun hatinya tetap beriman kepada Allah SWT. Rasulullah SAW pun  memaafkannya, disebabkan ancaman pembunuhan. Artinya bukan memaksakan diri mengucapkannya karena perasaan tidak enak dan sebagainya.

Hal ini sesuai firman Allah SWT :  "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahal: 106). 

Semoga kaum muslim dapat memahami makna toleransi dengan benar. Dengan mengedepankan aqidah sebagai prinsip yang harus dipertahankan demi terciptanya kerukunan antar umat beragama." Wallahu'alam bisshowab. 


banner zoom